Memanas Jelang Munas

    M Rodhi Aulia - 02 Desember 2019 18:10 WIB
    Memanas Jelang Munas
    Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar 2016. Foto: ANTARA /Nyoman Budhiana
    INTERNAL Partai Golkar kembali memanas. Semakin meruap-ruap mendekati Musyawarah Nasional (Munas).
     
    Adu kuat antarbakal calon ketua umum (caketum) Partai Golkar kian terasa. Meski awalnya tampak malu-malu. Kemudian tiba-tiba memanas, mengendur dan memanas lagi.
     
    Munas Golkar tinggal menghitung hari. Tanggal 4 Desember 2019, Munas akan segera dibuka. Presiden Jokowi dijadwalkan membuka Munas yang akan berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Dalam Munas tahun ini, ketua umum periode mendatang akan dipilih.
     
    Sebelum jauh ke sana, tahapan terkini berada di penutupan pendaftaran bakal caketum, hari ini, Senin 2 Desember 2019. Sejumlah nama akan mengembalikan formulir pendaftaran kepada panitia di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat.
     
    "Saya kebagian pukul 11.00 WIB, (mengembalikan formulir)," kata bakal Caketum Achmad Annama Chayat kepada Medcom Files, Senin 2 Desember 2019.


    Memanas Jelang Munas
    Ketua Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG), Achmad Annama. (M Rodhi Aulia)


    Annama adalah tokoh muda Partai Golkar yang nekat bertarung di gelanggang Munas. Bakal lawannya adalah nama-nama besar yang kebetulan memiliki jabatan mentereng saat ini. Di antaranya Airlangga Hartarto. Ia adalah Ketua Umum Partai Golkar saat ini dan juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
     
    Juga ada Bambang Soesatyo (Bamsoet). Wakil Koordinator bidang Pratama Partai Golkar. Mantan Ketua DPR dan kini menjabat Ketua MPR.
     
    Annama mengakui selama ini narasi bakal caketum hanya diisi dua nama besar tersebut. Lagi-lagi Airlangga dan Bamsoet.
     
    Annama tak ingin ketinggalan. Ia berusaha muncul di tengah dominasi nama beken. Ia berharap menjadi angin segar dari demokrasi yang tumbuh di rimbunnya dahan beringin.
     
    Kemunculannya ini sebagai konsekuensi logis berseminya iklim demokrasi dan kaderisasi kepemimpinan di internal Golkar. Cita-cita utama Annama adalah menghindari Golkar kembali pecah seperti sebelumnya.
     
    "Saya adalah kader Partai Golkar, mantap maju sebagai Caketum Partai Golkar karena tak ingin Partai Golkar tenggelam di 2024. Sebagai kader muda, saya merasa bertanggung jawab terhadap masa depan partai ini," tegas Annama.

     
    Tenggelam
    Beberapa tahun lalu, Golkar sempat terbagi dua kubu. Yakni kubu Aburizal Bakrie hasil Munas Bali dan Agung Laksono hasil Munas Ancol, Jakarta.
     
    Perpecahan ini menyita banyak energi di Golkar. Meskipun pada akhirnya kedua kubu bersatu di Munas Bali dengan terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketum Golkar.
     
    Tidak lama memimpin, Golkar kembali kandas lantaran Setya harus menjadi warga binaan di LP Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.
     
    Golkar mencari pemimpin baru. Dalam Munaslub di Jakarta, mayoritas pemilik suara memilih Airlangga sebagai ketum. Praktis, dalam lima tahun Golkar sempat memiliki tiga atau empat ketum.
     
    Bukan tidak mungkin, nasib Golkar kembali tragis. Di permukaan, perpecahan itu semakin nyata. Tampak kubu Bamsoet sempat mengancam membuat Munas tandingan.


    Memanas Jelang Munas
    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kanan) berjabat tangan dengan Ketua MPR Bambang Soesatyo (kedua kanan) yang disaksikan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (ketiga kanan) dan Tokoh Senior Partai Golkar Akbar Tanjung, pada pembukaan Rapimnas Partai Golkar di Jakarta, Kamis (14/11/2019). Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja


    Tim Penggalangan Opini dan Media Bamsoet atau Tim 9, Victus Munir blak-blakan di depan wartawan. Pihaknya dalam jumpa pers di Batik Kuring, SCBD, Jakarta, Minggu 1 Desember, mengancam menggelar Munas tandingan.
     
    "Apabila tahapan prosedur dan materi substansi penyelenggaraan bertentangan dan atau menabrak ketentuan AD/ART Partai Golkar, maka kami menegaskan kembali kesiapan untuk melaksanakan Munas yang sesuai dengan AD/ART Partai Golkar," tegas Victus.
     
    Sekitar lima hari sebelumnya, atau Selasa 26 November 2019, Bamsoet tidak menyangkal wacana Munas tandingan. Ia mengatakan Munas tandingan akan terjadi bila saluran demokrasi tersumbat dan dipaksakan.
     
    "Yang pasti dalam sejarah Partai Golkar, Munas tandingan itu ada kalau saluran demokrasi tersumbat dan dipaksakan. Seperti halnya yang lalu-lalu," kata Bamsoet.
     
    DPP Partai Golkar menanggapi santai wacana Munas tandingan tersebut. Adalah Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily yang merasa di internalnya baik-baik saja.
     
    Tidak ada permasalahan yang berarti terkait rencana pelaksanaan Munas. Ia mengklaim setiap tahapan Munas diputuskan dalam rapat pleno. Termasuk penyusunan panitia dan materi Munas.
     
    "Sesungguhnya Partai Golkar baik-baik saja karena setiap masalah di tubuh Partai Golkar itu seharusnya bisa diselesaikan melalui mekanisme yang telah diatur dalam AD/ART dan peraturan organisasi," kata Ace di Hotel Merlynn Park, Jakarta, Sabtu 30 November 2019.
     
    Bahkan Bendahara OC Munas Golkar Sari Yulianti ikut menepis sejumlah isu menjelang Munas. Termasuk, adanya isu penyusunan panitia Munas yang tidak akomodatif, baik di level SC maupun OC.
     
    "Anggota panitia sudah dibentuk dengan merata dari semua kelompok yang ada," kata Sari kepada wartawan beberapa waktu lalu.
     

    Sengkarut Panitia Munas
    Sumber Medcom Files mengatakan bahwa menjelang Munas Golkar terdapat 'bolong-bolong' yang tak sempat ditambal apalagi diperbaiki. Sumber kami bercerita bahwa susunan kepanitiaan Munas baik SC maupun OC telah disepakati dalam rapat pleno.
     
    Saat itu susunan diklaim menampung perwakilan semua pihak di Golkar. Akan tetapi, kata sumber, tiba-tiba sekitar 90 nama dicoret dari daftar kepanitiaan.
     
    Sumber kami yang menjadi salah satu pejabat di Munas mengaku heran. Surat Keputusan (SK) susunan kepanitiaan Munas yang diterima pihaknya jauh berbeda dengan apa yang diputuskan dalam rapat pleno.
     
    "Nampaknya SK ini sudah dipersiapkan sebelumnya (sebelum rapat pleno pembahasan susunan kepanitiaan)," kata sumber kepada kami di salah satu tempat di Jakarta beberapa waktu lalu.
     
    Menurut sumber, SK dari DPP Partai Golkar itu mencoret sekitar 90 nama yang sempat dimasukkan dalam susunan kepanitiaan. Kami sempat diperlihatkan daftar nama yang dicoret tersebut.
     
    Sumber mengatakan 90 nama itu sejatinya telah dipertimbangkan kemampuan dan loyalitasnya terhadap partai. Sayangnya nama yang dimasukkan adalah nama sejumlah orang yang nyaris tak dikenal dari segi kemampuan dan loyalitasnya.
     
    Sumber menegaskan DPP dalam hal ini Airlangga sebagai ketum memang memiliki wewenang dalam memutuskan. Pasalnya SC dan OC Munas merupakan bagian dari DPP. Namun kekecewaan kubu tertentu tak terelakkan karena pencoretan tersebut. Karena sebagian besar dari mereka tercoret.
     
    Kemudian kami mencoba mengonfirmasi kepada Ketua SC Munas Golkar Ibnu Munzir. Ia tidak membantah bahwa ada kabar pencoretan susunan kepanitiaan Munas.
     
    Ibnu mengaku sudah mengusulkan kembali nama-nama yang dicoret masuk ke kepanitiaan. Namun sebagian besar sudah tidak mungkin lagi dimasukkan karena keterbatasan waktu.
     
    "Waktunya dan materinya sudah selesai. Sebagian besar tidak ada harapan lagi (masuk ke kepanitiaan). Mungkin ada beberapa yang ditarik lagi ke OC," ujarnya.
     
    Sumber kami menambahkan keanehan kepanitaan Munas adalah ada sejumlah kader Golkar yang sempat dipecat beberapa waktu lalu. Pemecatan itu langsung melalui SK ketum. Sumber menegaskan itu pelanggaran.
     
    "Ada yang lucu. Ada yang sudah dipecat secara resmi dengan SK ketum, justru masuk kepanitiaan. Harusnya dipulihkan dulu di Munas," ujar sumber.
     
    Ibnu tak ingin mengomentari lebih lanjut soal kabar kader yang telah dipecat bisa aktif di partai tanpa pemulihan di Munas. Ia berusaha netral dalam Munas ini. Ia hanya megimbau agar setiap kekuatan di Golkar dapat berhati-hati dalam bermanuver dan bersikap.
     
    "Kita mesti hati-hati. Jangan sampai terjadi perpecahan. Saya kebetulan ikut kelompok memprakarsai perpecahan masa lalu. Karena ada pelanggaran AD/ART, dan kecenderungan orientasi ke arah oligarki. Sekarang saya enggak mau lagi pengalaman itu terulang. Saya mewanti-wanti teman-teman kita untuk waspada. Mari kita bermain secara fair dan demokratis," tegas dia.
     
    Munas Golkar akan berlangsung pada 4-6 Desember 2019. Dari informasi yang dihimpun, sekitar delapan kader sudah mendaftar sebagai bakal caketum.
     
     

    (WAN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id