Jebakan Kampanye Digital

    Sri Yanti Nainggolan - 27 Juni 2019 18:22 WIB
    Jebakan Kampanye Digital
    Seorang pengunjung mencoba layanan Google Chrome saat peluncuran Kampanye
    GEMPURAN digital yang semakin masif ternyata tak memengaruhi sumber informasi masyarakat yang masih berfokus pada media arus utama. Prediksi media digital akan menjadi sarana utama dalam penyebaran kampanye politik, meleset.

    Media massa, terutama Televisi (TV), masih menjadi primadona dalam mendapatkan informasi politik di tahun Pemilihan Umum (Pemilu). Faktanya, momen Pemilu mendongkrak belanja iklan di media televisi. Bahkan, belanja iklan politik mendominasi seluruh jenis iklan yang tayang di televisi pada kuartal pertama 2019.

    Layanan sistem monitoring iklan televisi (TVC) Adstensity merilis total belanja iklan di 13 stasiun TV nasional selama periode kampanye terbuka, yaitu 24 Maret hingga 13 April 2019. Selama 21 hari itu, total belanja politik mencapai Rp602,98 miliar dengan 14.234 iklan. Angka tersebut didapat dari penempatan saat jeda program (commercial break) tanpa memperhitungkan iklan dalam bentuk bagian dari sebuah program.

    Berdasarkan intensitas, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menduduki peringkat teratas dengan total 1.277 iklan. Dana yang digelontorkan oleh partai yang dipimpin Grace Natalie itu sebesar Rp42,82 miliar dengan dominasi kemunculan di Trans TV, Trans 7 dan Indosiar.

    Di urutan kedua ada Partai Persatuan Indonesia (Perindo) milik Hary Tanoesoedibjo dengan dominasi beriklan di RCTI, MNC TV dan Global TV, tiga stasiun miliknya sendiri di bawah grup Media Nusantara Citra (MNC). Iklan Perindo muncul sebanyak 1.220 kali dengan belanja iklan melebihi PSI, yaitu Rp40,16 miliar.
     

    Terjebak kampanye digital

    Ketua Tim Kampanye Nasional PSI Andy Budiman mengakui, awalnya partai dengan lambang menggenggam bunga mawar putih itu, berniat fokus berkampanye pada media digital, terutama media sosial. PSI sedari awal dirancang menjadi partai digital.

    "Partai ini didesain menjadi partai digital dengan asumsi awal media digital punya pengaruh pesat. Selain itu, PSI adalah partai anak muda yang main digital," ungkap dia pada Medcom Files, Senin 24 Juni 2019.

    Namun, menjelang pencoblosan, PSI merubah strategi kampanye. Musababnya, tim kampanye menerima data dari sebuah lembaga survei yang menunjukkan, pendekatan digital hanya berpengaruh sebesar 30 persen. Kata Andy, pengaruh penggunaan dan pertumbuhan media sosial yang besar masih belum memadai sebagai jalur utama kampanye. Hal ini dikarenakan kebiasaan masyarakat Indonesia yang notabene adalah penonton Televisi.

    "Sebanyak 70 persen orang Indonesia menerima info dari TV. Itulah yang mendorong kami pada akhirnya mulai muncul di TV di Februari 2019, meskipun sangat terlambat," kata dia.

    Strategi menggunakan media arus utama sebagai punggawa memang tak disia-siakan para pemimpin partai yang juga pemilik media. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana Perindo menjadi juara satu dalam belanja iklan politik tahun ini dari segi dana. Sebagai partai yang pertama ikut berkompetisi dalam pesta rakyat lima tahunan, ini salah satu strategi yang digunakan partai yang mulai berdiri sejak 2015 itu.


    Jebakan Kampanye Digital
    Ketua Tim Kampanye Nasional PSI Andy Budiman. (Sri Yanti Nainggolan)


    Sebelas dua belas, NasDem yang juga dipimpin oleh pendiri Media Group juga masih mengandalkan media arus utama, meskipun digital juga mulai menjadi perhatian. Alasannya, masyarakat yang disasar masih mengandalkan TV untuk mendapatkan informasi. Ketua bidang media dan komunikasi Partai NasDem Willy Aditya mengungkapkan bahwa porsi keduanya hampir sama.

    "Hampir merata, (media) mainstream masih 60 persen, tapi kami juga siapkan digital campaign dengan tim sendiri," ujar Willy kepada Medcom Files, Jumat 21 Juni 2019.
     

    Salah kaprah

    Salah kaprah terkait media digital akan menjadi primadona di era perkembangan teknologi sudah ditebak Pengamat Komunikasi Politik Arif Susanto. Dia menyebut, media digital terutama media sosial, tidak sehebat yang dipikirkan orang.

    "Ada semacam kontradiksi, dibandingkan keyakinan, bahwa media sosial adalah sarana paling efektif untuk menjangkau masyarakat dibandingkan pengeluaran yang dibuat media konvensional," Arif menanggapi.

    Kampanye digital memang lebih mudah dan murah dibandingkan kampanye konvensional yang bertemu secara fisik dengan masyarakat. Namun, sifat media tersebut hanyalah menguatkan, bukan menjamin kesetiaan dalam memilih.

    Banyaknya dukungan yang didulang lewat dunia maya tak berarti sama seperti di dunia nyata. Apalagi, dengan karakter pemilih yang didominasi kaum muda atau milenial. Arif mengungkapkan salah satu ciri gen yang berada dalam usia produktif ini cenderung tak bisa bertahan mengingat pada satu hal karena banyaknya informasi yang didapat.

    "Di satu sisi media sosial memberikan keuntungan dengan biaya relatif minim dan jangkauan luas. Namun, juga menciptakan problem dalam hal loyalitas," simpul Arif.

    Jadi tak heran, banyak politikus memiliki banyak pengikut di dunia sosial. Bisa jadi, sebagian adalah pembencinya (hater).


    Jebakan Kampanye Digital
    Pengamat komunikasi politik Arif Susanto. (Sri Yanti Nainggolan).


    Meski demikian, partai tetap serius dalam mengurus medium satu ini. Perambahan ke dunia digital sendiri sudah dipersiapkan NasDem sejak 2017. Bahkan, ia berani mengklaim bahwa website NasDem masuk dalam lima besar website parpol yang paling banyak diakses di tahun pemilu ini.

    Jika NasDem mengaku paling banyak diakses, PSI lebih berani dalam berinovasi lewat media digital. April 2019, PSI memperkenalkan Aplikasi Solidaritas yang mempersilahkan publik untuk mengetahui dan memberi penilaian pada kinerja anggota dewan PSI secara langsung.

    "DPP sudah siapkan aplikasi untuk mengawal kinerja anggota dewan PSI. Anda bisa pecat anggota yang kinerja buruk, bolos, tidur, atau tidak turun ke lapangan," terang Ketua DPW PSI Jakarta, Michael Victor Sianipar, Kamis 18 April 2019.


    Jebakan Kampanye Digital
    Tampilan aplikasi Solidaritas. (Laman Facebook Partai Solidaritas Indonesia).


    Munculnya inovasi seperti ini membuktikan bahwa media digital kelak bisa menjadi sarana komunikasi dua arah antara parpol dengan masyarakat secara langsung dan cepat. Bukan tak mungkin parpol akan menjadikan respons masyarakat lewat website atau aplikasi sebagai parameter untuk mengeluarkan tindakan atau kebijakan.

    Lalu, bagaimana dengan kampanye langsung yang bertemu dengan masyarakat, apakah cara ini masih digunakan untuk menarik suara di tahun ini?

    PSI menganggap bahwa mengadakan panggung kampanye adalah old fashion dan bukan gaya partai tersebut. Mereka lebih suka dengan konsep blusukan, pelatihan keterampilan, atau diskusi dengan komunitas untuk membangun chemistry.

    "Panggung dangdut itu politik masa lalu. Tidak efektif karena orang bisa datang ke panggung partai A atau B, jadi tidak menemukan konstituen yang memang tertarik dengan Anda. Mereka hanya ingin hiburan," papar Andy.


    Jebakan Kampanye Digital
    Musisi dangdut Rhoma Irama melantunkan lagu saat konser kampanye Pilpres pasangan nomor urut satu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, di Lapangan Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. (ANTARA/Adeng Bustomi).


    Berbanding terbaik, NasDem masih menggunakan kampanye teknis tersebut. Terdapat 120 mobil panggung disebar selama masa kampanye untuk menghibur warga yang menonton. Dangdutan di pasar atau alun-alun dengan caleg yang sekaligus artis dianggap sebagai salah satu sarana jitu untuk memperkenalkan diri dan visi misi partai.

    "Kita juga membuat lagu tentang NasDem dengan genre yang berbeda seperi dangdut, koplo. Ini lebih banyak yang datang daripada pemilu tahun lalu," pungkas Willy.
     

    (WAN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id