Balai Pustaka Menolak Mati

Wanda Indana - 29 Juni 2018 19:44 wib
Koleksi lawas buku terbitan Balai Pustaka. (MI)
Koleksi lawas buku terbitan Balai Pustaka. (MI)

“Balai Pustaka tidak diharapkan lagi menjadi BUMN….”

Kalimat pesimistis itu keluar dari mulut mantan Direktur Utama Balai Pustaka (BP) Zaim Uchrowi, Rabu, 2 November 2011. Tak ada pilihan, Zaim harus rela Balai Pustaka diakuisisi PT Telkom Indonesia (PT Telkom) sebagai anak perusahaan. 

Masa itu, BP memang tidak pantas lagi dipertahankan sebagai BUMN. Status BUMN dianggap membebani pemerintah karena tidak mendatangkan keuntungan. BP terus merugi dan meninggalkan banyak utang. 

Gayung bersambut, rencana mengakuisisi BP semakin nyata setelah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kala itu, Dahlan Iskan, menyetujui wacana tersebut. Dahlan memberi waktu tiga bulan bagi PT Telkom untuk mengakuisisi Balai Pustaka. BP di ujung tanduk.



Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur. (MI)
 

Masa sulit

Kabar wacana akuisisi sontak membuat gerah para karyawan. Wacana itu ditentang keras. Terjadi perlawanan dari dalam, terutama pengurus BP yang sudah mengabdi selama puluhan tahun di perusahaan penerbitan itu. Mereka yakin BP bisa bertahan. 

Karena ada penentangan, wacana akuisisi mulai meredup. Namun, di masa-masa sulit,  jajaran direksi BP harus memutar otak buat menyelamatkan nasib perusahaan. Sejumlah kebijakan diambil; mulai dari mengurangi jumlah tenaga kerja, menjual sebagian aset hingga melakukan merger (penggabungan dua perseroan). 

Desember 2011, Balai Pustaka melakukan merger dengan PT Pradnya Paramita, salah satu perusahaan penerbit buku yang gulung tikar. Setelah itu, kantor Balai Pustaka mulai pindah dari kantor lamanya di Jalan Gunung Sahari Raya ke kawasan Matraman, Jakarta Timur. Sejumlah aset milik Paramita juga ikut dijual dan disewa. Upaya itu untuk membantu keuangan perusahaan.
 

Balai Pustaka tetap tak mampu berkembang. Hingga 2016, BP masih menderita kerugian dan tak mampu membukukan keuntungan. 


Penyebab jatuhnya bisnis Balai Pustaka mulai terlihat sejak berlakunya UU Antipraktik Monopoli pada 2000. Boleh dikata, sebelum UU Antipraktik Monopoli itu diberlakukan, BP merupakan penerbit tunggal proyek buku kurikulum nasional.  Sudah pasti, tanpa usaha keras, BP akan menerima keuntungan dari proyek pemerintah setiap tahun.

Awal 2014, pascapenerapan UU Antipraktik Monopoli, kondisi pasar perbukuan berubah. Pasar perbukuan semakin kompetitif dengan masuknya perusahaan penerbit. Mau tak mau, BP harus bersaing dengan banyak perusahaan penerbit yang bermunculan. BP tidak siap menyikapi perubahan bisnis. Sejak itu pula, BP mulai menderita kerugian karena kalah bersaing. 

Jumat, 4 Mei 2018, tim Medcom Files coba mendatangi kantor Balai Pustaka di  Jalan Bunga, Matraman, Jakarta Timur. Kedatangan Kami untuk mencari informasi terkait masa depan balai Pustaka. Di sana, kami sudah ditunggu Direktur Utama BP, Achmad Fachrodji. 

Siang itu, Fachrodji yang mengenakan batik hitam-cokelat buru-buru meluruskan kabar pembubaran Balai Pustaka. Dia mengungkapkan, BP hari ini sudah jauh lebih baik.

“Tidak ada alasan pemerintah untuk mengubur BP. BP itu ibaratnya gadis cantik, tergantung siapa yang melamar. Jadi kalau dari sisi marketing, BP itu brand image yang sangat hebat. Tagline nya mencerdaskan dan mencerahkan. Sudah sangat mulia,” ujar Fachrodji membuka perbincangan. 

Fachrodji memastikan, wacana akuisisi yang sempat bergulir awal 2011 batal dilakukan. Kata dia, Balai Pustaka memilih menjalin kerjasama bisnis dengan PT Telkom. Setiap keuntungan yang diperoleh dari hasil kerjasama akan dibagi rata. 

“Tidak perlu mengakuisisi, berbagi hasil saja. Dan ternyata (Balai Pustaka) hidup terus,” ujarnya. 

Tak sampai di situ, pemerintah juga memberikan kepercayaan kepada perusahaan yang didirikan pada 14 September 1908 ini untuk menggarap proyek percetakan buku kurikulum sekolah. BP mendapat proyek percetakan buku kurikulum sekitar 35% dari total nilai proyek Rp 3,6 triliun. 

“Untuk buku kurikulum kita bisa ratusan miliar (lembar) cetak, tadinya kita ingin (cetak) triliun, karena proyek perbukuan kan Rp 3,5 triliun per tahun. BP hanya bisa ambil Rp 1 triliun,” jelas Fachrodji.

Selain sektor penerbitan, Balai Pustaka juga menjalin kerjasama dengan BUMN lainnya terkait pendistribusian, seperti PT PELNI, ASDP, dam Pos Indonesia. 

“Makanya Balai Pustaka banyak dipercaya kembali untuk menangani perbukuan,” tutur Fachrodji menganguk-angguk.



Direktur Utama BP, Achmad Fachrodji saat ditemui Medcom Files, Jumat, 4 Mei 2018. (MI)
 

Tantangan digitalisasi

Balai Pustaka kini menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya gempuran teknologi digital. Industri percetakan merupakan sektor yang paling terdampak di era digitalisasi.

Namun, Fachrodji tidak mau memandang digitalilasi sebagai hambatan. Justru, kata dia, Balai Pustaka akan berjalan seiring dengan zaman.

Kini, Balai Pustaka sudah melakukan digitalisasi semua koleksi karya sastra terbitannya, bekerja sama dengan PT Telkom. Dengan begitu, karya sastra terbitan Balai Pustaka akan bisa diakses pembaca dari seluruh dunia.

Upaya digitalisasi juga bertujuan meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data literasi dari 61 negara di dunia, Indonesia menempati peringkat 60. Satu tingkat di atas Botswana, negara miskin di Afrika. 

“Sangat berpengaruh. Tentu saja itu tidak boleh disikapai dengan antipati, justru dipandang sebagai peluang. Dengan kita bergerak ke arah digital, BP memiliki peluang besar menjadi leading sector di dalam percetakan digital, karena kita punya sahabat dekat yaitu Telkom Indonesia,” ujarnya.

Sebaliknya, ketertarikan PT Telkom untuk bekerja sama dengan Balai Pustaka lantaran ada kesamaan program. Rupanya, Telkom memiliki platform komersial Qbaca yang merupakan toko buku digital (e-book store) yang di dalamnya terdapat beragam pustaka dari berbagai penerbit.

Soal pembagian tugas, kata Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga, PT Telkom lebih berperan sebagai perpustakaan digital menampung banyak buku dari penerbit, sementara Balai Pustaka mengurus dan mengelola konten.

"Ini salah satu implementasi sinergi BUMN dimana Telkom menyediakan e-library bagi buku digital Balai Pustaka serta berperan sebagai delivery channel. Sehingga saat ini masyarakat dapat membaca karya sastra legendaris milik Balai Pustaka secara digital di Qbaca," ujar Alex.
 

Akhirnya untung

Fachrodji mengatakan, setelah 15 tahun menderita kerugian, akhirnya Balai Pustaka berhasil mencatatkan keuntungan pada tahun lalu. Berdasarkan laporan keuangan BP 2017, keuntungan bisnis BP sebesar Rp 3,5 Miliar.

Selain itu, keuntungan tambahan karena Revaluasi aset sebesar Rp 149 Miliar. Sehingga, laba komprehensif  yang diraih Balai Pustaka sebesar Rp 152,5 Miliar.

“Dalam sejarah setelah 15 tahun rugi, tahun lalu untung,” ungkap Fachrodji tersenyum.

Dia optimistis, kondisi keuangan Balai Pustaka akan terus membaik. Pasalnya, bisnis perbukuan dalam negeri pun mengalami kenaikan 30 persen. 

"Begitu pun buku Balai Pustaka yang kita pasarkan di online shop, itu juga laku,” pungkasnya.
 

Meski begitu, sebagian kalangan masih berharap Balai Pustaka bisa melahirkan penulis-penulis hebat. Tidak hanya memproduksi ulang karya-karya sastra lawas.


Sudah tiga puluh tahun lebih Balai Pustaka tidak melahirkan penulis-penulis hebat. Pegiat sastra Djamal D. Rahman berharap, Balai Pustaka dapat memulainya dengan menggandeng penulis-penulis muda.

Dulu, kata jamal, Balai Pustaka bisa tumbuh menjadi pusat perkembangan sastra karena banyak menerbitkan karya-kaya sastrawan muda, misalnya; Chairil Anwar, Marah Roesli, Abdoel Moeis dan lainnya.

“Sebagaima dulu, BP merekrut atau menerbitkan karya penulis-penulis muda. Karena bagaimanapun, karya sastra hidup pada masanya, dibuat dan dibaca oleh generasi pada masanya. Masa sekarang, (dibuat) penulis sekarang dan (dibaca) generasi sekarang,” ungkap Djamal saat kami hubungi, Senin, 14 Mei 2018.

Berdasarkan penilaiannya, Balai Pustaka kurang menjalin hubungan dengan penulis-penulis muda. Padahal, masih banyak remaja yang suka menulis.

Meski kompetisi komunitas dan penerbitan cukup ketat, namun Balai Pustaka masih memiliki pengaruh cukup kuat ihwal perkembangan sastra. Balai Pustaka memiliki modal sejarah, karena berdiri pada masa awal kelahiran sastra Indonesia.

Peran historis ini seharusnya menjadi modal penting bagi BP untuk tampil di masa sekarang sebagai simbol kekuatan.

“Sastra kita diajarkan di sekolah-sekolah, dan pengenalan sastra mau tidak mau akan dikenalkan dengan sastra awal indonesia. Kalau berbicara karya sastra pada masa awal, tentulah berbicara Balai Pustaka,” tutup Djamal.
 


(COK)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.