Bukan Antek Penjajah

    Sri Yanti Nainggolan - 25 Desember 2018 17:53 WIB
    Bukan Antek Penjajah
    Ilustrasi: Dari Gereja Merawat Indonesia. (www.leimena.org)
    GOLD, Glory, Gospel. Demikian steno standar yang digunakan para sejarawan dunia untuk menggambarkan motif berbagai negara di Eropa barat antara 1400 dan 1750, dalam misi penaklukan luar negerinya. Motif penguasaan sumber daya; ekspansi wilayah; dan persaingan agama Kristen dengan yang lainnya terutama Islam, saling mendukung.

    Di nusantara sendiri, banyak referensi menyebutkan Kristen sudah ada jauh sebelum kolonialis eropa itu datang. Tapi yang pasti, setelah kedatangan Belanda agama ini berkembang pesat.
    Di masa kolonial itu banyak orang memberikan stempel kepada Kristen -- baik Protestan maupun Katolik, sebagai agama yang dibawa oleh penjajah.

    Itulah sebabnya pemeluk Kristen kerap dicap sebagai antek Belanda. Terlebih, bumiputera yang beragama Kristen mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik.

    Namun, menurut Gerry van Klinken dalam bukunya 5 Penggerak Bangsa Yang Terlupakan: Nasionalisme Minoritas Kristen (2010), tidak sedikit juga tokoh Kristen yang tampil dengan sikap melawan kepada Belanda.

    Dalam lingkungan Volksraad (Dewan Rakyat), ada tokoh Kristen asal Minahasa, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie atau Sam Ratulangie.

    Meski menganut Kristen, sejak muda Ratulangie sudah terjun dalam kancah pergerakan nasional. Alhasil, saat duduk dalam Volksraad, dia sangat vokal menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan bumiputera.



    Pertemuan Presiden Soekarno dan Sam Ratulangie di Yogyakarta, Maret 1948. (Ipphos)


    Kemudian ada tokoh Kristen lain asal Batak, Toedoeng Goenong Moelia. Menurut Gerry, meski Toedoeng tidak begitu dekat dengan pergerakan nasional, namun sebagai anggota Volksraad  dia cukup merepotkan pemerintah kolonial.

    Pula sepupu Toedoeng, Amir Sjarifoedin, juga kritis kepada pemerintah Belanda. Bedanya, waktu Amir masih memeluk Islam, dia sudah terlibat dalam pergerakan nasional.

    Amir adalah anggota Jong Batak yang turut dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II. Pertemuan itu melahirkan 'Sumpah Pemuda', juga mengenalkan lagu Indonesia Raya. Kelak Amir menjadi Perdana Menteri pada 1947.

    Tokoh Kongres Pemuda II lainnya adalah mahasiswa kedokteran di STOVIA asal Maluku, Johannes Leimena. Saat itu dia tergabung dalam Jong Ambon.



    Johannes Leimena


    Nama J. Leimena memang tak asing dalam sejarah Indonesia. Tapi, bukan dia saja pemuda Maluku berlatar Kristen yang ada dalam pergulatan menuju kemerdekaan. Nama besar lainnya yang muncul adalah Alexander Jacob Patty, pendiri Sarekat Ambon pada 1920.

    Di samping Patty, muncul pula tokoh pergerakan nasional Johannes Latuharhary, pemuda lulusan Universitas Leiden yang juga memimpin Sarekat Ambon.

    Sementara nama yang santer 'melawan' dari kalangan Katolik adalah Ignasius Joseph Kasimo Hendrowahyono, yang akrab disapa IJ Kasimo. Dia juga anggota Volksraad mewakili kelompok Katolik.

    Sama seperti Toedoeng, awalnya Kasimo tidak dekat dengan kalangan pergerakan nasional. Tapi, kiprah politiknya semakin kental tatkala melibatkan diri dalam Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

    Kasimo ikut menandatangani petisi Soetardjo pada Juli 1936, yang meminta Belanda untuk memberikan pemerintahan otonom kepada Indonesia secara bertahap.



    Tokoh Katolik IJ Kasimo saat berbincang dengan Presiden Soekarno.


    “Sejak awal ia ikut memperjuangkan Indonesia. Makanya ketika Soekarno naik jadi Presiden, ia menjadi menteri,” ujar pemuka agama Katolik yang juga sejarawan F.X. Baskara Tulus Wardaya saat berbincang dengan Medcom Files, Rabu, 12 Desember 2018.

    Bahkan tidak tanggung-tanggung. Sosok pemimpin umat Katolik, Monsinyur (Mgr.) Albertus Soegijapranata, SJ atau Soegija, terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Dia adalah uskup pertama di nusantara dari kalangan bumiputera. Dia sahabat Soekarno, dan anti-Belanda.

    Pada akhirnya sejarah membuktikan, semua tidak hitam putih. Jika ada orang bumiputera non-Kristen yang berpihak pada kolonial, begitu pula sebaliknya. Dari 'gereja' lilin perjuangan kemerdekaan dinyalakan.
     



    (COK)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id