Rekrutmen Menteri, Rekrutmen Tingkat Tinggi

    M Rodhi Aulia - 24 Oktober 2019 16:15 WIB
    Rekrutmen Menteri, Rekrutmen Tingkat Tinggi
    Presiden Joko Widodo memberikan salam usai memberikan pidato awal masa jabatan presiden periode 2019-2024 di Jakarta. Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
    SEJUMLAH kalangan menyoroti tajam menteri atau pejabat setingkat menteri yang mengisi Kabinet Maju Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Dari berbagai sisi, mulai dari latar belakang profesi, pendidikan, partai politik, organisasi dan lain sebagainya. Ada beberapa nama yang dinilai belum kapabel mengisi beberapa kementerian.

    Misalkan Fachrul Razi. Sosok ini berlatar belakang militer dengan pangkat terakhir jenderal bintang empat. Tapi Presiden Jokowi menempatkan ia sebagai Menteri Agama.

    Penempatan ini dipertanyakan sejumlah pihak. Pasalnya pos ini seperti sudah menjadi "hak paten" sipil dengan latar belakang organisasi keagamaan; Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah.

    Jika diperhatikan lagi, keputusan Jokowi bukan hal baru. Sebab dalam catatan sejarah, Fachrul, merupakan orang militer ketiga setelah Alamsjah Ratoe Perwiranegara (1978-1983) dan Tarmizi Taher (1993-1998), yang menjabat menteri agama.

    Kemudian Nadiem Anwar Makarim yang ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi (Mendikbud-dikti). Setidaknya dua hal yang disorot dari Nadiem. Persoalan usia.

    Ia masih berusia 34 tahun saat dilantik menjadi menteri di Istana Kepresidenan, Jakarta. Usia Nadiem relatif muda atau lazim disebut milenial.

    Beberapa orang membayangkan Nadiem ketika bertemu dengan para rektor. Yang tak jarang usianya lebih tua hampir dua kali lipat dari usia Nadiem.

    Coba kita bandingkan dengan usia rektor Universitas Gajah Mada (UGM), Panut Mulyono, 59 tahun. Selisih usia di antara mereka sekitar 25 tahun. Kemudian Nadiem dengan rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro (58) terpaut 24 tahun.

    Pun soal latar belakang. Nadiem dikenal luas sebagai pencetus ojek berbasis daring dengan nama perusahaan Go-Jek. Sesuatu yang jauh dari dunia akademik atau pendidikan seperti yang dipahami banyak orang.


    Rekrutmen Menteri, Rekrutmen Tingkat Tinggi
    Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma’ruf Amin sambil duduk memperkenalkan satu per satu menteri Kabinet Indonesia Maju di undakan tangga Istana Merdeka, Jakarta, kemarin MI/RAMDANI


    Kompoisi kabinet racikan Jokowi nyatanya membuat Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, berwalang hati. Kegelisahan itulah yang disampaikan Rhenald kepada kami pagi ini, Rabu 23 Oktober 2019. Rhenald bilang, memilih nama untuk menjadi menteri tak boleh asal.

    "Merekrut menteri itu, rekrutmen tingkat tinggi. Beda dengan rekrutmen calon karyawan level pemula atau manajer," kata Rhenald kepada Medcom Files, Kamis 24 Oktober 2019.

    Menurut Rhenald, rekrutmen para pembantu presiden memiliki variabel yang banyak. Bukan sekadar ijazah sekolah atau keterampilan tertentu, tapi juga; integritas, trust, kesamaan visi, kemampuan eksekusi dan mencetak goals. Termasuk tidak membuat gaduh atau ribut antaranggota kabinet alias bisa kerjasama dengan tim di kabinet

    "Khusus di era Pak Jokowi harus mampu membuktikan hasil kerja, bisa melakukan terobosan, membangun masa depan baru, dan bisa menggunakan cara-cara baru," ucap dia.

    Dari berbagai pengalaman, lanjut dia, merekrut seseorang yang kelihatan bagus dari luar, belum tentu bisa bekerja bagus. Atau orang yang dikenal perform atau bagus pada pekerjaan lamanya juga belum tentu bagus di pekerjaan lainnya seperti di kabinet.

    Demikian pula yang dinilai bagus saat proses wawancara, bisa saja sebaliknya saat bekerja. Juga yang dikenal jago dalam berpidato dan memberi komentar, belum tentu bisa bekerja. Sebaliknya, yang diam-diam, kelihatan tak pandai bicara, bisa saja jago bekerja.

    Rhenald mencontohkan Budi Karya Sumadi dan Basuki Hadimuljono. Dua orang ini selalu "dipakai" Jokowi sebagai menteri. Padahal keseharian mereka, dikenal sebagai sosok kalem, tapi hasil kerjanya luar biasa dan tidak mengecewakan.

    Ia mengingatkan 2014 lalu, saat Susi Pudjiastuti, eks Menteri Kelautan dan Perikanan yang dipersoalkan penunjukannya lantaran cuma berijazah SMP. Dan kini Nadiem dengan pendidikan tertinggi S2 dipersoalkan menjabat Mendikbud-dikti karena selama ini menteri pendidikan selalu bergelar profesor.

    "Bagi saya kerja tingkat tinggi tak bisa diukur dari latar belakang pendidikan saja, banyak elemennya. Sukses seseorang dibentuk banyak hal termasuk jumlah anggaran, kualitas birokrasi di kementerian yang dia pimpin, penerimaan birokrasi, kemampuan memilih deputi atau pejabat eselon 1-2, dukungan publik, dukungan politik di parlemen, dan keteguhan jiwa atau leadership yang bersangkutan," terang Rhenald.


    Rekrutmen Menteri, Rekrutmen Tingkat Tinggi
    Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali di Jakarta. Foto: MI/RAMDANI


    Founder Rumah Perubahan ini mengajak kita semua untuk berinterospeksi bahwa level pendidikan bukan ukuran mutlak kemampuan seseorang dalam bekerja.

    Pendidikan kita, kata dia, belum membangun karakter sehingga banyak orang pintar belum tentu berkarakter baik atau bebas dari “luka batin” yang membuat ia bisa bekerja optimal dan tak “menyakiti” atau reaktif dengan lingkungannya.

    Dalam kesempatan terpisah, Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan gamblang memuji formasi kabinet Jokowi-KH Ma'ruf Amin. Ia menilai Jokowi dapat mendudukkan para pembantunya di pos-pos yang tepat.

    Meski jika dilihat dari faktor tradisi, banyak yang tidak lazim. Antara lain, ia menebak-nebak alasan Jokowi mengangkat Fachrul Razi sebagai menteri agama.

    "Penetapan Fachrul Razi sebagai menteri agama bisa menghilangkan tekanan kiri kanan --Muhammadiyah atau NU," kata Dahlan seperti dikutip dari disway.id pada 24 Oktober 2019.

    Ia juga ikut mengomentari pengangkatan Nadiem yang memasuki dunia birokrasi. Dunia baru Nadiem. Bagi Dahlan, Kemendikbud-dikti adalah birokrasi dengan anggaran terbesar dan rentang kendali yang sangat luas.

    Di tangan Nadiem, kata dia, mungkin begitu banyak yang bisa disederhanakan. Setidaknya itulah ekspektasi banyak orang.
     
    "Kita doakan Nadiem agar tetap bisa bergerak lincah. Di tengah belitan kawat-kawat berduri birokrasi," ujarnya.

    Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi ikut berkomentar di akun twitternya. Ia mengimbau agar tidak kecewa dan marah terhadap susunan para pembantu Jokowi lima tahun ke depan.

    "Jangan kecewa jika yang pantas tak terpilih. Jangan juga marah jika yang tak pantas tetap terpilih. Jabatan politik itu tidak hanya tentang kapasitas, tapi juga hadiah terhadap loyalitas. Ini tidak hanya tentang keahlian, tapi ini tentang kekuasaan. Kita dukung, agar kekuasaan bisa memperbaiki keadaan," kata Achsanul, Rabu 23 Oktober 2019.


    Rekrutmen Menteri, Rekrutmen Tingkat Tinggi
    Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi di Jakarta. Foto: ANTARA/Rosa Panggabean


     



    (WAN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id