• DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK : Tanggal 22 SEP 2018 terkumpul RP 20.111.547.901

Stigma Radikal di Kampung Halaman

Dhaifurrakhman Abas - 22 Juni 2018 14:40 wib
Ilustrasi (AFP)
Ilustrasi (AFP)

KAMPUNG halaman tak banyak berubah. Tapi, bagi Boy Aulia, mudik lebaran tahun ini terasa penting dan dinanti. Pria kelahiran Pekanbaru, Riau itu memang sudah lama ingin pulang dari perantauan, untuk memastikan keluarga dan lingkungannya baik-baik saja.

Mafhum, belum lama berlalu, peristiwa teror sempat menggemparkan kota kelahiran Boy. Empat orang terduga teroris menyerang Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Riau pada Rabu pagi, 16 Mei 2018.

Saat itu, pelaku yang menaiki sebuah mobil minibus Avanza putih, menerobos masuk melalui gerbang sebelah utara Mapolda Riau. Tak lama, mobil itu menerjang seorang anggota Provost Polda Riau dan dua wartawan yang sedang bertugas di Mapolda Riau. Korban mengalami luka-luka. Sementara Ipda Auzar gugur dalam peristiwa tersebut.

Usai menabrak gerbang Mapolda Riau, dua pelaku keluar dari mobil dan menyerang polisi yang tengah berada di pos penjagaan. Aksi itu dilakukan dengan senjata tajam jenis pedang.

“Pas kejadian waktu itu, sudah ingin pulang (ke Pekanbaru) melihat keluarga. Tapi waktu itu masih bekerja. Dan alhamdulillah keluarga juga enggak terdampak. Tapi pas dapat libur, baru saya ke sini,” ucap Boy saat berbincang dengan Medcom Files di Pekanbaru, Riau saat hari raya Idul Fitri, Jumat, 15 Juni 2018.



Dua jenazah pelaku penyerangan tergeletak di jalan pintu masuk Polda Riau di Pekanbaru, Riau. (ANTARA/Retmon)

 

Hilangnya seorang kawan

Tak berselang lama, awal Juni lalu Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap tiga terduga teroris di gelanggang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (Unri). 

Dari tangan pelaku Densus berhasil mengamankan barang bukti berupa 4 buah bom rakitan siap ledak. Polisi juga mengamankan material pembuat bom lainnya, berupa serbuk dan kabel. 

Usut punya usut, ketiganya merupakan alumni kampus tersebut. Diketahui, sebulan belakangan, pelaku kerap kali menginap di Sekretariat Mapala Sakai FISIP Unri.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau Inspektur Jenderal Nandang menyebutkan, tiga terduga teroris disinyalir berencana melakukan aksi peledakan bom di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Riau dan DPR RI. 

Menurut keterangan polisi, daya ledak bom yang diamankan Densus 88 dari kampus ini hampir setara dengan bom yang meledak di Surabaya.

Mendapati hal tersebut, Boy semakin membulatkan tekad untuk berpulang ke Pekanbaru, Riau. Apalagi, dia merupakan alumnus kampus tersebut.

Lebih dari itu, Boy juga mendapatkan kabar bahwa seorang teman dekatnya, yang juga alumnus Unri, sudah lama tak terlihat di lingkungan bermainnya. Dia menghilang secara tiba-tiba. 

Ternyata, setelah mendapatkan sejumlah informasi, kawan dekat Boy itu memutuskan untuk berhijrah. Tak ada rasa kecurigaan dengan langkah yang diambil sahabatnya itu. Hanya saja, saat ditemui, Boy merasa heran dengan polahnya yang berubah drastis. Tak ada gitar, pun celana jeans bergaya musisi jalanan yang biasa dikenakan.

Sang kawan kini tampak lebih islami. Bercelana panjang cingkrang di atas mata kaki, kopiah, serta janggut yang panjang. Kepada Boy, dirinya mengaku hendak menuju rumah ibadah.

"Saya tidak merasa curiga kalau dia mengarah radikal dan semacamnya. Tapi atribut yang dia gunakan sempat membuat saya sedikit was-was," tutur Boy.

Rasa itu menjadi wajar bagi Boy pascasederet kejadian teror di Indonesia, termasuk di kampung halamannya, yang melibatkan pandangan keagamaan yang radikal.



Tim Densus 88 bersama tim Gegana Brimob Polda Riau menggeledah gedung Gelanggang Mahasiswa Kampus Universitas Riau (UNRI) di Pekanbaru, Riau. (ANTARA/Rony Muharman)


***

PRO dan kontra terhadap simbol-simbol agama serta hubungannya dengan radikalisme bukan barang baru. Sebelumnya, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengeluarkan surat keputusan yang melarang mahasiswinya menggunakan niqab alias cadar.

Keputusan itu diambil dengan pertimbangan untuk mencegah meluasnya aliran Islam anti-Pancasila. Rektor juga mengeluarkan surat keputusan untuk mahasiswi bercadar agar segera mendaftarkan diri untuk pembinaan.

Baca: Takut Dicap Radikal

Keputusan tersebut sempat memicu pro dan kontra. Namun belakangan, pihak kampus melakukan pencabutan terkait pelarangan cadar di lingkup kampus. Pihak kampus beranggapan, pencabutan tersebut dilakukan untuk menjaga iklim yang kondusif.

Tak hanya dilingkup akademik, tekanan pengguna atribut agama juga merebak di lingkungan sosial. Ambil misal, Maryusman Maris, seorang pria yang kami wawancarai usai merebaknya teror bom di Indonesia pada Mei lalu. 

Pria berpenampilan syar'i ini mengaku pernah didatangi oleh pihak berwajib saat menginap di salah satu penginapan di Palembang. Pada Mei lalu, Maryusman bertandang ke Palembang lantaran mendapat tugas dari kantornya selama satu bulan. 

Karena tugasnya cukup lama, dia membawa anak serta istrinya untuk mengikutinya ke perantauan. Sang istri serta anaknya diperbolehkan menginap di kontrakan yang disewakan oleh pihak kantor.

"Karena satu bulan, saya harus membawa istri sama anak saya. Di rumah enggak ada keluarga yang menemani," ucapnya saat berbincang dengan kami.

Beberapa hari berselang, tak ada masalah yang menimpa keluarga muda ini. Namun suatu hari, Maryusman secara tiba-tiba ditelepon oleh pihak penginapan untuk segera mendatangi penginapannya.

"Jadi mereka bilang kalau istri saya didatangi polisi. Polisi mengaku hanya ingin mendata pendatang saja," kata Maryusman.

Maryusman mengaku tak ambil pusing perihal pendataan itu. Hanya, dirinya menyesalkan langkah pihak polisi yang hanya mendata keluarganya saja. Sementara tamu-tamu lainnya yang juga merupakan pendatang yang menginap di penginapan tersebut tidak didata.

Hal senada diutarakan Akbar. Mahasiswa tingkat akhir di kampus Unri ini mengaku menjadi korban stigma radikal. Terlebih ketika memutuskan untuk menikah dengan perempuan bercadar.

"Sering ya dilirik-lirik sama orang. Ditatap sinis. Apalagi kalau saya sama istri menyambangi ruang publik," keluh dia.

Pula yang dirasakan Devi, wanita asal Cibinong, Jawa Barat, yang kini merasa tidak nyaman dengan busananya yang bercadar.

"Terkadang, kalau mau belanja ke mal dicurigai, bahkan diperiksa, sementara yang lain (yang tidak bercadar) tidak diperiksa seketat itu. Juga di bandara," keluhnya saat kami temui, Minggu, 17 Juni 2018 di kawasan Depok, Jawa Barat.

Suami Devi, Ardi Nugraha, turut menimpali. "Ini semua karena aksi teror yang menggunakan atribut seperti ini. Semua yang berpenampilan syar'i seperti ini jadi kena getahnya," sesal Ardi.



Ilustrasi. (ANTARA/Puspa Perwitasari)


Bukan hanya di Indonesia, polemik Cadar juga terjadi di belahan dunia. Ambil misal, negara Belanda yang terang-terangan melarang penggunaan cadar melalui kebijakan parlemen negara kincir angin tersebut.

Pemerintah Belanda mengaku larangan dilakukan bukan dengan alasan keagamaan, melainkan untuk keseimbangan antara kebebasan dan menyoal komunikasi.

Hal serupa terjadi di Denmark. Parlemen Denmark akan memberlakukan larangan penggunaan burqa atau niqab di publik. Larangan tersebut setelah dilakukannya pemungutan suara pada 31 Mei 2018 lalu. Hasilnya, Denmark akan melarang penggunaan cadar terhitung 1 Agustus 2018 mendatang.

Menteri Hukum Denmark Soren Pape Poulsen mengatakan, nantinya polisi bisa mengenakan denda materi kepada pelanggar. Pemerintah Denmark tak sungkan memberikan denda sekitar US$ 156 atau Rp 2 juta untuk pelanggaran pertama. Apabila tetap menolak aturan, pelanggar bisa dikenai US$ 1568 atau Rp 22 juta untuk pelanggaran berikutnya.
 

Hak atribut agama

Polemik terkait cadar di lingkup kampus di Indonesia membuat Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Chalil Nafis buka suara. Menurutnya, apabila ada pihak yang melarang penggunaan cadar untuk mencegah merebaknya radikalisme mustilah dibuktikan kebenarannya. Dia menyebut bukti tersebut haruslah berlandaskan pada riset dan penelitian.

“Kalau radikalisme menjadi alasan pelarangan niqab atau cadar tentu perlu dibuktikan hasil risetnya,” kata Chalil, mengutip dari laman mui.or.id

Lebih lanjut Chalil menjelaskan penggunaan cadar ini tak boleh langsung disalahkan. Sebab, ini merupakan ranah fikih khilafiyah atau perbedaan pendapat teologi islam. 

Misal, pendapat Ibn Jabir terkait aurat. Ibn Jabir menyebut batas aurat perempuan yakni hanya baju dan wajah, menurut al-Auza’i hanya baju, wajah, dan kedua telapak tangan. 

Sedangkan dalam pandangan Ibnu Mas’ud seluruh bagian tubuh perempuan merupakan aurat yang tidak boleh terlihat, kecuali bajunya. Lain halnya dengan Ibnu Abbas yang berpendapat bahwa aurat perempuan merupakan wajah dan kedua telapak tangannya.

“Jadi dalam ranah fikih khilafiyah boleh memilih dalil yang dianggap kuat untuk dipedomani. Namun tetap menghormati perbedaan pendapat yang dianggap kuat dan dirasa lebih maslahat oleh orang lain sehingga tidak tepat mencela apalagi melarangnya,” tutur dia.

Hal senada diucapkan Wakil Sekretaris Jenderal PB NU Sulton Fatoni. Menurutnya, perbedaan pendapat ini merupakan pedoman dan kepercayaan terhadap teologi.

"Di dalam pemikiran Islam, itu yang belum selesai, adalah pemikiran teologis. Makanya kemudian menjadi berbeda-beda. Teologi NU itu Asy'ariah dan Maturidiah. Teologinya Wahabbi dan HTI itu pun juga berbeda," tutur dia.

Lebih lanjut, kata dia, tak elok menyandingkan radikalisme dan terorisme hanya kepada kelompok islam. Sebab, menurutnya, paham radikalisme dan terorisme sejatinya bisa menjangkit semua pihak.

Hanya saja, kasus teror yang menimpa kerap kali dilakoni oleh kelompok-kelompok yang mengaku pejuang Islam. Ambil misal ISIS yang kerap mengklaim aksi teror sebagai tindakan yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

"Terorisme itu merupakan orang yang selalu melakukan pendekatan dengan cara teror. Kenapa sekarang condong ke Islam? karena kebetulan, identifikasi aksi teror condong ke kelompok islam. Sehingga, capnya kemudian jadi seperti itu," tukasnya.


(COK)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.