[Fakta atau Hoaks]

    [Cek Fakta] Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik? Ini Faktanya

    M Rodhi Aulia - 30 Juni 2020 07:53 WIB
    [Cek Fakta] Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik? Ini Faktanya
    Tangkapan layar informasi di media sosial
    Beredar narasi bahwa Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri melanggar kode etik. Pelanggaran itu karena Firli menunggangi helikopter.

    Narasi ini tampak pada sebuah judul artikel yang dimuat situs islamtoday.id. Berikut judul artikel tersebut:

    "Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik."


    [Cek Fakta] Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik? Ini Faktanya


    Penelusuran:
    Dari penelusuran kami, klaim bahwa Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri melanggar kode etik karena menunggangi helikopter, adalah salah. Faktanya, Dewan Pengawas (Dewas) KPK masih mendalami dugaan penggunaan helikopter tersebut apakah terbukti melanggar kode etik atau tidak..

    Dilansir Medcom.id, Dewas tidak bisa memutuskan kasus tersebut dari keterangan satu orang saja. Pihaknya perlu menelusuri sejumlah bukti dan saksi lainnya.

    "Dewas masih akan terus kumpulkan bukti dan meminta keterangan saksi-saksi dan pihak-pihak yang tahu, mendengar, melihat, dan atau memiliki info terkait isu tersebut," kata anggota anggota Dewas KPK Syamsuddin Haris, seperti dilansir Medcom.id, Senin 29 Juni 2020.


    [Cek Fakta] Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik? Ini Faktanya


    Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Dewas memberikan tenggat waktu terkait proses pengusutan kasus tersebut. ICW khawatir pengusutan kasus ini tidak jelas dan menguap seperti sejumlah kasus sebelumnya.

    "Dewan Pengawas harus segera menindaklanjuti temuan ini dengan memanggil Komjen Firli Bahuri. Jika ditemukan adanya fakta bahwa yang bersangkutan melanggar kode etik, maka Dewan Pengawas harus mengumumkan hal ini kepada publik," kata peneliti ICW Kurnia Ramadhana, seperti dilansir Detik.com, Senin 29 Juni 2020.


    [Cek Fakta] Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik? Ini Faktanya


    Sementara artikel berjudul "Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik", juga tidak mengulas hasil pemeriksaan pihak berwenang. Artinya, ulasan di dalam artikel masih sebatas dugaan pelanggaran kode etik, belum keputusan final.

    Berikut artikel selengkapnya:

    Tunggangi Heli Mewah, Ketua KPK Langgar Kode Etik

    IslamToday ID – Ketua KPK, Firli Bahuri kembali dilaporkan atas dugaan pelanggaran kode etik. Kali ini ia dilaporkan lantaran menggunakan helicopter mewah milik perusahaan swasta.
    Sebelumnya tahun 2018 lalu Firli pernah dilaporkan melakukan pelanggaran kode etik berat waktu dirinya  menjabat Deputi Penindakan di KPK. Ia pun ditarik dari KPK dan dilantik  menjadi Kapolda Sumatera Selatan.

    Kini, Firli diketahui menggunakan helicopter mewah dengan nomor registrasi PK-JTO. Helicopter  tersebut digunakan untuk penerbangan dari Palembang ke Baturaja.

    Menurut Koordinator Masyarakat Anti-korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, helicopter tersebut bukan dalam rangka perjalanan dinas, melainkan untuk ziarah ke makam orang tua Firli. Kejadian ini kemudian dilaporkan MAKI pada Dewan Pengawas KPK pada 24 Juni 2020 kemarin.

    Berdasarkan dokumen Civil Aircraft Register Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan tahun 2019 menyebutkan, bahwa helikopter ini milik PT Air Pacific Utama. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan Lippo Group. Helikopter mewah yang digunakan Firli biasanya di sewa dengan tarif Rp 19 juta per jam.

    “menggunakan helikopter adalah bergaya hidup mewah dikarenakan mestinya perjalanan Palembang ke Baturaja hanya butuh empat jam perjalanan darat dengan mobil,” kata Bonyamin, Rabu (24/6/2020)

    Larangan bergaya hidup mewah diatur dalam Peraturan Dewan Pengawas Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku KPK. Dalam aturan tersebut terdapat pada poin ke 27 tentang aspek integritas.

    “Kode Etik dari Nilai Dasar Integritas tercermin dalam Pedoman Perilaku bagi Insan Komisi sebagai berikut; tidak menunjukkan gaya hidup hedonisme sebagai bentuk empati kepada masyarakat terutama kepada sesama Insan Komisi,”

    Berdasarkan aturan tersebut, seharusnya Dewan Pengawas KPK tidak ragu untuk melakukan pemanggilan pada Firli. Menurut peneliti ICW, Kurnia Ramadhan perilaku Firli tersebut jelas menunjukan gaya hidup hedonis.

    “Dewan Pengawas KPK harusnya tidak lagi ragu untuk dapat memanggil yang bersangkutan kemudian mendalami terkait dengan dugaan pelanggaran ini,” kata Kurnia

    Namun Kurnia ragu Dewan Pengawas KPK akan mengusut pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Firli. Hal ini didasarkan pada fakta, ketidak seriusan kinerja Dewan Pengawas KPK. Misalnya soal pengembalian penyidik KPK, Kompol Rossa Purbo Bekti dan 18 poin evaluasi penyidik KPK, ternyata tidak ditindak lanjuti secara serius.

    “Saya tidak yakin Dewan Pengawas akan berani untuk menindak problematika pelanggaran kode etik di internal pimpinan KPK ” jelas Kurnia.

    Kurnia melihat, penggunaan fasilitas helicopter mewah itu dapat diduga sebagai gratifikasi dari pihak tertentu atas tindak pidana korupsi. Pasalnya, helikopter bukanlah fasilitas yang dimiliki oleh KPK karena tidak masuk dalam barang inventaris yang dimiliki oleh KPK.

    Oleh karena itu, kasus ini harus diusut tuntas, sebab bukan hanya pelanggaran kode etik semata.  KPK seharusnya segera menelusuri sosok dan motif pemberian fasilitas helicopter mewah tunggangn Firli.

    Desakan ICW bukan tanpa alasan. Jejak relasi KPK dan Lippo Group terakhir ialah dalam kasus suap Meikarta. Kasus suap tersebut melibatkan Bartholomeus Toto, mantan Presiden Direktur Lippo Cikarang dan Bupati Bekasi,  Neneng Hasanah Yasin. Pada Desember 2019 lalu KPK pernah memanggil CEO Lippo Group, James Riady. Namun James mangkir dari panggilan tersebut.

    “Jika penyelidikan KPK itu membuahkan hasil, Firli terancam  dijerat  Pasal 12 B UU Tipikor dengan ancaman maksimal pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara,” jelas Kurnia.


     
    Kesimpulan:
    Klaim bahwa Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri melanggar kode etik karena menunggangi helikopter, adalah salah. Faktanya, Dewan Pengawas (Dewas) KPK masih mendalami dugaan penggunaan helikopter tersebut apakah terbukti melanggar kode etik atau tidak.

    Informasi ini masuk kategori hoaks jenis false connection (koneksi yang salah). Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.


    Referensi:
    https://www.medcom.id/nasional/hukum/yNLGR9qK-sejumlah-saksi-diperiksa-terkait-penggunaan-helikopter-mewah-firli
    https://news.detik.com/berita/d-5073230/icw-minta-dewas-serius-tangani-laporan-soal-heboh-ketua-kpk-naik-heli
    https://islamtoday.id/news/20200627190734-11554/tunggangi-heli-mewah-ketua-kpk-langgar-kode-etik/?fbclid=IwAR3-W1AVX3aItG7-26-uLoh9uQmE0GV2QUkWa5RAWdH2jX2p3WmHYfwMcsg#


    *Kami sangat senang dan berterima kasih jika Anda menemukan informasi terindikasi hoaks atau memiliki sanggahan terhadap hasil pemeriksaan fakta, kemudian melaporkannya melalui surel cekfakta@medcom.id






    (DHI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id