Insiden Kerusuhan di Tanah Air Dipicu Berita Hoaks

    Whisnu Mardiansyah - 10 Oktober 2020 13:38 WIB
    Insiden Kerusuhan di Tanah Air Dipicu Berita Hoaks
    Tangkapan layar berita palsu Foto:Facebook
    Penyebaran berita bohong atau hoaks marak berseliweran akhir-akhir ini menyikapi pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) Omnibus Law khususnya di media sosial. Bak bara dalam dalam sekam, masyarakat yang percaya langsung tersulut dan terpancing ikut turun aksi ke jalan tanpa memahami maksud dan tujuannya substansi aspirasi yang ingin disampaikan. 

    Dampak berita bohong atau hoaks terbukti sangat berbahaya. Arus informasi di media sosial yang tidak tersaring mudah dipercaya masyarakat. Terlebih isu-isu sensitif yang sengaja dimainkan oleh oknum-oknum tertentu untuk memperkeruh suasana dengan maksud dan tujuan tertentu. 

    Bukan kali pertama berbagai kerusuhan di tanah air dipicu oleh berita hoaks. Polisi pun beberapa kali menangkap beberapa pelaku hoaks yang menjadi pemicu timbulnya insiden kerusuhan. Berikut beberapa insiden kerusuhan yang dipicu oleh berita hoaks.
     

    1. Kerusuhan pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya

    Pada Agustus tahun lalu, bermula dari adanya informasi perusakan bendera merah putih dan dibuang ke selokan, sekelompok ormas bersama aparat kepolisian dan TNI mengepung asrama mahasiswa Papua di Surabaya. 

    Kerusuhan tak terhindarkan, polisi menangkap 43 mahasiswa asal Papua sebelum akhirnya dipulangkan kembali. Belakangan dari penyelidikan oleh kepolisian informasi terkait adanya perusakan bendera merah putih dan dibuang ke selokan di asrama mahasiswa Papua di Surabaya hoaks. 

    Dilansir dari Mediaindonesia.com, Tri Susanti selalu koordinator aksi lapangan saat pengepungan ditetapkan sebagai tersangka karena menyebarkan berita bohong atau hoaks. 

    Dalam video yang beredar, Tri Susanti menyatakan Bendera Merah Putih dimasukkan selokan dan dipatah-patahkan yang akhirnya menimbulkan amarah dari ormas dan masyarakat Surabaya.

    Namun, belakangan informasi tersebut tidak terbukti. Polda Jawa Timur yang sudah memeriksa 43 mahasiswa Papua dalam asrama tersebut belum bisa membuktikan adanya perusakan bendera tersebut. 

    Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol. Frans Barung Mangera, menyampaikan tidak tertutup kemungkinan pelakunya bukan penghuni asrama mahasiswa Papua
     

    2. Kerusuhan Manokwari Papua

    Kerusuhan pecah di Manokwari, Papua. masyarakat turun ke jalan menggelar demonstrasi buntut dari perlakuan mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya. Kerusuhan meluas hingga terjadinya aksi pembakaran fasiltas publik dan pemerintah.

    Sejumlah bangunan seperti rumah warga, hingga Gedung DPRD Papua Barat dibakar warga. Sejumlah ruas jalan juga diblokade, yakni Jalan Yos Sudarso, Jalan Trikora Wosi, dan Jalan Manunggal Amban, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari.

    Demonstrasi digelar sebagai buntut perlakuan ormas dan aparat keamanan yang dianggap menghina mahasiswa Papua di Malang, Surabaya, dan Semarang.

    Dilansir dari Republika.co.id, belakangan polisi mengindentifikasi kerusuhan di Manokwari dipicu peredaran berita bohong atau hoaks, terutama di media sosial. Hoaks dimaksud salah satunya terkait informasi adanya mahasiswa asal Papua yang meninggal akibat keributan di Surabaya dan Malang. Padahal, kata dia, tidak ada mahasiswa adal Papua yang meninggal dalam bentrok antara mahasiswa Papua dan Ormas di dua daerah tersebut.
     

    3. Kerusuhan di Wamena Papua

    September tahun lalu kerusuhan berdarah terjadi di Wamena, Papua. Sebanyak 26 orang tewas sebagian besar adlaah warga pendatang. Terjadi aksi pembakaran, penjarahan dan perusakan fasilitas publik dan pemerintah.

    Dilansir dari Kompas.com, kerusuhan di Wamena bermula dari adanya informasi ejekan bernada rasis dari salah seorang guru di sebuah sekolah. Atas nama solidaritas, masyarakat turun ke jalan menggelar demonstrasi hingga terjadi aksi anarkis sampai jatuhnya korban jiwa.

    Presiden Joko Widodo menginstruksikan penanganan kerusuhan di Wamena, Papua tidak dilakukan dengan cara-cara represif. Demonstrasi di Wamena berujung ricuh diduga dipicu berita hoaks.

    Diduga ada keterlibatan pihak dalam negeri dan asing memprovokasi situasi di Papua. Pemerintah menegaskan tak terpancing menangani gejolak yang terjadi di Bumi Cenderawasih itu.
     

    4. Kerusuhan demonstrasi penolakan UU Ciptaker

    Hoaks terkait UU Cipta Kerja menjadi sorotan sejumlah pihak. Sebab, terjadi disinformasi yang membuat masyarakat tersulut emosi dan menggelar aksi unjuk rasa berujung anarkistis.

    Dilansir dari Medcom.id, tercatat ada sebanyak 12 informasi hoaks yang beredar terutama terkait dengan bab klaster ketenagakerjaan di UU sapu jagat itu.

    Satu penyebar berita bohong atau hoaks terkait Undang-Undang Cipta Kerja ditangkap. Pelaku berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Pelaku disebut menyebarkan 12 item hoaks.

    Dilansir dari Detik.com,  polisi menangkap perempuan VE (36) pemilik akun Twitter @videlyae terkait hoax UU Cipta Kerja. @videlyae diduga menyebarkan hoax 12 pasal UU Cipta Kerja yang membuat masyarakat terprovokasi.

    Di antara hoaks yang disebarkan salah satunya terkait uang pesangon buruh yang dihilangkan, Kemudian penghapusan UMP-UMK dan dihilangkannya hak-hak cuti para pekerja.



    (WHS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id