[Fakta atau Hoaks]

    [Cek Fakta] Benarkah Mendiang George Floyd Meninggal Ditembak Polisi AS? Ini Faktanya

    Wanda Indana - 04 Juni 2020 13:19 WIB
    [Cek Fakta] Benarkah Mendiang George Floyd Meninggal Ditembak Polisi AS? Ini Faktanya
    Tangkapan layar klarifikasi pihak universitas brawijaya. Foto: Twitter
    Unggahan akun Twitter @ustadtengkuzul viral di media sosial. Pemilik akun mengunggah cuitan yang menyebutkan mendiang George Floyd, pria Afrika-Amerika meninggal karena ditembak polisi.

    Sejak diunggah pada Minggu, 31 Mei 2020, cuitan tersebut sudah di-retweet 1,3 ribu kali dan disukai 6,5 ribu kali. Berikut secara lengkap cuitan tersebut:

    "Geoge Floyd, pemuda kulit hitam tewas ditembak Polisi di Amerika. Polisi membantahnya.
    Lalu rekaman CCTV beredar.
    Sontak seluruh Amerika rusuh.
    Kalau di Plnet Yours "yang mesti ditangkap itu yg men-share video CCTV nya itu...".
    Ya, kan...?"



    [Cek Fakta] Benarkah Mendiang George Floyd Meninggal Ditembak Polisi AS? Ini Faktanya


    Penelusuran:
    Dari hasil penelusuran, klaim bahwa mendiang George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika meninggal karena ditembak polisi adalah salah. George Floyd meninggal karena Asfiksia (sesak napas) setelah lehernya ditekan menggunakan lutut oleh Polisi.

    Berdasarkan pemberitaan Medcom.id melalui artikel berjudul "Autopsi Independen Sebut Kematian George Floyd karena Dibunuh" dimuat pada Selasa, 2 Juni 2020, dua dokter forensik yang mengautopsi jasad George Floyd menyebut Pria kulit hitam itu meninggal karena sesak napas. Floyd tidak memiliki kondisi medis yang berkontribusi pada kematiannya. Pria berusia 46 tahun itu kemungkinan meninggal sebelum dibawa ke dalam ambulans.

    "Buktinya konsisten dengan asfiksia mekanik sebagai penyebab kematian dan pembunuhan sebagai cara kematian," kata Dr Allecia Wilson dari University of Michigan, salah satu dari dua dokter forensik yang melakukan otopsi independen, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa 2 Juni 2020.


    [Cek Fakta] Benarkah Mendiang George Floyd Meninggal Ditembak Polisi AS? Ini Faktanya


    Berikut secara lengkap bunyi artikelnya:

    Minneapolis: Autopsi independen dilakukan terhadap George Floyd oleh dua dokter ahli. Pria kulit hitam itu meninggal saat ditahan oleh polisi kulit putih pada pekan lalu dan memicu protes di seluruh negeri.
     
    Kedua dokter yang melakukan autopsi pada Senin 1 Juni itu mengatakan bahwa Floyd meninggal karena sesak napas dan bahwa kematiannya adalah pembunuhan.
     
    Para dokter juga mengatakan Floyd tidak memiliki kondisi medis yang mendasari yang berkontribusi pada kematiannya. Pria berusia 46 tahun itu kemungkinan meninggal sebelum dibawa ke dalam ambulans.

    Itu bertentangan dengan temuan awal otopsi resmi oleh Pemeriksa Medis Kabupaten Hennepin, yang dikutip dalam dokumen tuntutan pengadilan terhadap petugas polisi yang mendorong lututnya ke leher Floyd selama beberapa menit.
     
    Temuan awal itu mengatakan tidak ada bukti pencekikan traumatis. Ia juga mengatakan penyakit arteri koroner dan hipertensi juga kemungkinan berkontribusi pada kematian Floyd. Laporan otopsi lengkap kabupaten belum dirilis. Kemudian pada hari Senin, pemeriksa medis menyatakan kematian Floyd adalah pembunuhan.
     
    "Buktinya konsisten dengan asfiksia mekanik sebagai penyebab kematian dan pembunuhan sebagai cara kematian," kata Dr Allecia Wilson dari University of Michigan, salah satu dari dua dokter forensik yang melakukan otopsi independen, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa 2 Juni 2020.

    Meninggal dalam hitungan menit

    Video warga yang melintas menunjukkan Floyd memohon untuk nyawanya dan mengatakan berulang kali bahwa dia tidak bisa bernafas ketika seorang polisi Derek Chauvin menekan lututnya dengan kuat menempel di leher Floyd selama hampir sembilan menit. Dua petugas lainnya menekan dengan lutut ke punggung Floyd.
     
    Chauvin, yang berkulit putih dan telah dipecat dari departemen kepolisian Minneapolis, didakwa dengan tuduhan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan pekan lalu.
     
    Tetapi Dr Michael Baden, yang juga mengambil bagian dalam otopsi independen atas perintah keluarga Floyd, mengatakan bahwa tindakan dua petugas lainnya juga menyebabkan Floyd berhenti bernapas.
     
    "Kita dapat melihat setelah kurang dari empat menit bahwa Floyd tidak bergerak, tidak bernyawa," kata Baden, seraya menambahkan dia tidak menemukan kondisi kesehatan mendasar di Floyd yang menyebabkan kematiannya.
     
    Baden telah menangani beberapa kasus terkenal, termasuk kematian Eric Garner 2014, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah dicekik oleh polisi di New York City.
     
    Baden menepis argumen bahwa jika Floyd bisa bicara maka dia bisa bernafas.
     
    "Banyak polisi mendapat kesan bahwa jika Anda dapat berbicara, itu berarti Anda bernafas. Itu tidak benar. Aku berbicara sekarang di depanmu dan tidak mengambil nafas,” tegas Baden.
    Dakwaan lebih banyak

    Antonio Romanucci, salah satu pengacara yang mewakili keluarga Floyd, mengatakan bahwa keempat petugas di tempat kejadian harus menghadapi dakwaan, bukan hanya Chauvin.
     
    "Bukan saja lutut di leher George menjadi penyebab kematiannya, tetapi juga berat kedua petugas polisi di punggungnya, yang tidak hanya mencegah aliran darah ke otaknya, tetapi udara mengalir ke paru-parunya. Itu membuat semua petugas di TKP bertanggung jawab secara pidana,” Kata Romanucci.
     
    Ben Crump, ketua pengacara untuk keluarga Floyd, mengatakan otopsi independen dan bukti video memperjelas bahwa Floyd sudah meninggal ketika dia masih berbaring di jalan dengan polisi di atasnya.
     
    "Ambulans itu adalah mobil jenazahnya," katanya.
     
    Crump mengatakan keluarga Floyd ingin melihat dakwaan diajukan terhadap keempat petugas yang berada di tempat kejadian - dan bagi Chauvin, yang mencekik leher Floyd, akan menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat pertama.
     
    Tetapi mereka juga mencari diakhirinya protes keras yang telah melanda Amerika Serikat untuk berakhir.
     
    "George meninggal karena dia membutuhkan napas, menghirup udara. Saya mohon Anda semua untuk bergabung dengan keluarganya dalam mengambil napas. Mengambil napas untuk keadilan, mengambil napas untuk perdamaian,” pungkas Crump.



    Kesimpulan:
    Klaim bahwa mendiang George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika meninggal karena ditembak polisi adalah salah. George Floyd meninggal karena Asfiksia (sesak napas) setelah lehernya ditekan menggunakan lutut oleh Polisi.

    Informasi tersebut masuk dalam kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
     
    Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.


    Referensi:
    https://www.medcom.id/internasional/eropa-amerika/xkEYdMrk-autopsi-independen-sebut-kematian-george-floyd-karena-dibunuh
    https://www.channelnewsasia.com/news/world/george-floyd-death-autopsy-homicide-us-protests-12794726


    *Jika Anda menemukan informasi terindikasi hoaks atau memiliki sanggahan terhadap hasil pemeriksaan fakta dapat melaporkan kepada kami melalui surel cekfakta@medcom.id.

     



    (WAN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id