Benarkah Generasi Z dan Alpha Kebal Hoaks?

    Sobih AW Adnan - 24 November 2019 18:34 WIB
    Benarkah Generasi Z dan <i>Alpha</i> Kebal Hoaks?
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Mohammad Rizal
    Jakarta: Obrolan pembabakan generasi kian masyhur. Setelah muncul pengistilahan Babby Boomers, generasi X, generasi Y alias milenial, generasi Z, kini muncul lagi sebutan generasi Alpha.

    Dua generasi terakhir, konon, dengan karakternya yang kritis dan tanggap teknologi, banyak yang meyakinkan mereka akan lebih kebal dan tidak gampang terpapar hoaks.

    Riset McCrindle menyebutkan, ada sekitar dua miliar penduduk dunia yang tergolong ke dalam generasi Z. Mereka adalah kelompok kelahiran yang mengenal internet sejak kecil dan menjadikan mereka cenderung memiliki sifat FOMO (Fear of Missing Out) atau cemas akan ketertinggalan dari yang lain.

    Sementara generasi Alpha, yakni mereka yang lahir di antara 2011 hingga 2025 memiliki karakter yang melampaui generasi terdahulunya. Mereka bukan lagi generasi yang touchscreen, melainkan tastescreen. Generasi ini, cenderung mengedepankan naluri, perasaan, pemikiran, ego, dan perangkat penginderaan lainnya. 

    Pergeseran budaya dan keterlibatan
    Ada dua karakter yang paling mencolok dan khas dari generasi Z dan Alpha.

    Wakil Ketua Umum Gerakan Siberkreasi Romzi Ahmad menyebut, kedua hal itu adalah pergeseran kultur dan hasrat keterlibatan.

    "Bayangkan, sekarang ini ada anak yang gemar bermain game online, namun saat streaming yang dia lakukan bertepatan dengan peristiwa bencana, dia langsung tergugah untuk melakukan galang dana bagi para korban," kata Romzi kepada Medcom.id, Minggu, 24 November 2019.

    Itulah yang disebut pergeseran kultur, terang Romzi. Ketika generasi sebelumnya relatif terpaku pada satu bidang ketika mengerjakan sebuah proyek, mereka tidak.

    Benarkah Generasi Z dan <i>Alpha</i> Kebal Hoaks?
    Romzi Ahmad di Metro TV/instagram.com @romziahmad

    Generasi Alpha akan bisa dengan cepat menggeser orientasi pekerjaan yang sedang ia lakukan tanpa meninggalkan titik awal kegemarannya.

    "Banyak juga contoh lainnya. Bermula dari satu komunitas hobi, namun tiba-tiba membanting diri menjadi sebuah gerakan yang lebih berdampak cepat ketimbang lembaga-lembaga yang getol di bidangnya sejak awal. Dalam hal ini, bidang sosial," ujar dia. 

    Meskipun begitu, menurut Romzi, inisiatif terhadap hal-hal itu bukan lantas menjadi penanda bahwa generasi paling terkini tersebut memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Yang lebih mendorong adalah rasa ingin melibatkan diri secara langsung.

    Baca: Mengenal 7 Jenis Hoaks

    "Ya, keterlibatan secara langsung. Itu ciri yang sangat khas bagi mereka. Artinya, jika dilakukan secara kolektif dan terencana, belum tentu bisa terlaksana dengan lebih masif," kata Romzi. 

    Guna menguatkan pendapat ini, Romzi juga berpendapat bahwa tak heran jika dalam persoalan-persoalan tata kelola informasi juga memposisikan sebagian generasi Z dan Alpha untuk tidak sekadar menjadi konsumen alias penerima. 

    Dan ini, kata dia, membuka peluang kesimpulan baru terkait apakah kelompok tersebut benar-benar sebagai generasi yang tahan paparan hoaks, atau tidak.

    "Termasuk soal informasi. Generasi Z tidak mau hanya sekadar menerima. Rasa ingin keterlibatan secara langsung itu mendorong mereka menjadi produsen informasi terkait isu-isu tertentu, yang mereka gemari," kata dia. 

    Perkaranya, menurut Romzi, dalam segi tata kelola informasi juga mesti dibekali dengan bermacam-macam pengetahuan khusus dan metodologi. Jika tidak, alih-alih menyajikan informasi yang baik, justru malah menghasilkan disinformasi yang sudah menjadi persoalan lama dalam dunia digital di Indonesia.

    "Karena karakter positif mereka itu berani produksi, meskipun masih dalam rangka pembelajaran. Lihat bagaimana semaraknya tutorial-tutorial fotografi, ngevlog, bikin film, yang mereka sajikan. Walaupun, mereka belum dicap sebagai ahli di bidang-bidang tersebut. Biasanya, ditulis judul 'belajar motret', 'belajar bikin film', dan lain-lain," ujar Romzi. 

    Siapapun 
    Senada dengan Romzi, Komisaris WargaMuda Wildanshah menyebut, hari ini, generasi dari manapun boleh dibilang memiliki peluang terpapar hoaks. Entah itu mereka yang lahir sebagai digital native atau generasi yang memang terlahir di masa pesatnya teknologi, atau generasi yang mengalami masa transisi dari konvensional ke era serba digital.

    Di era post truth yang melahirkan banjir informasi justru menjadi tantangan bagi generasi Z dan Alpha. Yang namanya banjir, nyaris pasti membawa penyakit.


    "Di era post truth yang melahirkan banjir informasi justru menjadi tantangan bagi generasi Z dan Alpha. Yang namanya banjir, nyaris pasti membawa penyakit. Tugas mereka tidak lagi mencari informasi, tetapi juga mesti pandai memilah. Karena informasi telah mengepung mereka, bukan zamannya lagi mereka yang mencari," kata Wildanshah kepada Medcom.id, di Jakarta, Minggu, 24 November 2019.

    Benarkah Generasi Z dan <i>Alpha</i> Kebal Hoaks?
    Wildanshah (tengah) saat menjadi pembicara di BKKBN/instagram.com @wildan.shah

    Menurut Wildanshah, inilah yang membuat generasi Z mempunyai waktu yang terbatas untuk mencari kebenaran informasi. Mereka lebih gemar mencari jalan pintas mencari tahu apa yang sedang diperbincangkan orang lain.

    Baca: 5 Tips Agar Terhindar dari Jebakan Hoaks di Whatsapp

    "Hal ini yang sering kali membuat generasi ini dengan tidak sengaja menyebar informasi salah. Karena mereka mendapatkan berita yang menurut mereka berguna atau menarik untuk dibagikan. Keinginan untuk berbagi hal-hal 'berguna' itu begitu kuat sehingga kadang berita bohong pun mewabah masif di kalangan mereka," kata Wildanshah.

    Baik Romzi dan Wildanshah menyimpulkan, analisa-analisa tersebut meneguhkan bahwa ikhtiar literasi digital tidak hanya bertumpu dan menyasar pada satu-dua generasi. Akan tetapi lebih bersifat menyeluruh, meski dengan pola dan tradisi yang berbeda. 

    "Untuk generasi Z dan Alpha, misalnya, dengan menekankan literasi kepada para influencer. Karena bagi sebagian mereka, tidak penting apa konten yang disampaikan, melainkan siapa yang menyampaikan," tutup Romzi. 



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id