comscore

Gaya Kerja Hybrid Masih Bakal Berlanjut

Mohammad Mamduh - 05 Januari 2022 13:19 WIB
Gaya Kerja Hybrid Masih Bakal Berlanjut
Ilustrasi
Jakarta: Gaya kerja hybrid masih menjadi tren tahun lalu, dan tampaknya ini akan berlanjut hingga 2022. Perusahaan dituntut untuk tetap memiliki kinerja karyawan yang sesuai, tanpa mewajibkan karyawannya untuk bekerja dari kantor.

Adaptasi tampaknya menjadi sebuah keharusan bagi sebagian orang. Untuk membahas tren pekerjaan jarak jauh, kami berbincang dengan Samir Sayed, Managing Director, ASEAN & Korea, Poly.

T: Dengan masih berlangsungnya pandemi, Poly mengatakan tren pekerjaan jarak jauh dan hybrid akan menguat pada 2022. Mengapa?

Melihat kembali puncak pandemi pada tahun 2020, tampak jelas bahwa perusahaan-perusahaan sangat berani menjadikan kerja jarak jauh sebagai format kerja default mereka.

Pada tahun 2021, ketika banyak negara beralih ke strategi endemiknya masing-masing, para pemimpin bisnis menyiapkan diri untuk beralih ke pola kerja hybrid, yang kerap disebut sebagai sebuah fitur permanen di dunia pasca-pandemi.

Hal ini tentu saja sangat terbantu oleh sentimen di kalangan karyawan mengenai sistem kerja hybrid yang kami lihat tumbuh semakin positif. Penelitian terbaru Accenture menunjukan bahwa para karyawan di Asia Pasifik lebih siap dalam mengadopsi sistem kerja hybrid disbanding para karyawan di Kawasan-kawasan lain di seluruh global.

Cara berpikir yang berwawasan ke depan ini sangat menggembirakan, karena ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan telah mengadopsi sistem kerja hybrid sebagai bagian dari perencanaan kesinambungan bisnis yang tengah berjalan.

Kami menilai bahwa sistem kerja hybrid tidak hanya akan menjadi tren yang menjadi adalan dunia bisnis dan banyak perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang, tetapi bahkan akan menjadi bagian dari praktik sehari-hari dalam operasional bisnis sebuah perusahaan.

 
T: Bagaimana Poly melihat kesiapan bisnis SEA untuk mengadopsi pekerjaan jarak jauh dan hybrid di tahun depan? Apakah sudah benar-benar siap, sedang mempersiapkan diri, atau belum siap sama sekali dari segi infrastruktur dan sumber daya manusia?

Melihat ke belakang, kami akan merangkum beberapa bulan pertama pandemi ketika banyak perusahaan berjuang untuk menerapkan beberapa bentuk strategi kerja jarak jauh dan hybrid. Saat itu, tujuannya sederhana: menemukan cara agar orang tetap bisa bekerja, agar bisnis terus beroperasi, dan untuk meminimalkan dampak terhadap ekonomi nasional dan global.

Lebih penting lagi, saat ini, perusahaan-perusahaan yang sama, baik di Asia Tenggara atau global, telah mempercepat pengadopsian cloud dan transformasi digital mereka, yang untuk itu banyak diantara mereka yang mengadopsi model tenaga kerja terdistribusi agar dapat menyesuaikan dengan peraturan jarak aman yang sedang berlangsung di kawasan masing-masing.

Sebagai contoh, East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2021 menemukan bahwa daya saing digital antarprovinsi di Indonesia menjadi lebih setara, sebagian karena adanya peningkatan belanja di bidang TIK dan percepatan pengadopsian layanan digital di Indonesia.

Apapun alasannya, perusahaan-perusahaan di Indonesia tengah mencatatkan kemajuan yang baik dalam membangun infrastruktur dan kemampuan digital mereka, berkat dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah Indonesia untuk upaya transformasi digital di seluruh negeri.

Dengan landasan digital ini, kami merasa bahwa perusahaan-perusahaan saat ini sudah jauh lebih baik dibanding satu tahun yang lalu dalam hal kesiapan menghadapi ketidakpastian yang berlangsung sekarang ini dan di tahun-tahun mendatang.

 
T: Apakah mode kerja baru ini mengharuskan perusahaan untuk berinvestasi lebih banyak?

Ketimbang memikirkan berapa banyak yang harus diinvestasikan perusahaan, menurut kami akan lebih bijaksana untuk memikirkan investasi dengan dampak maksimum, baik yang berkaitan dengan pengalaman pengguna atau metrik produktivitas, atau keduanya.

Solusi Poly, misalnya, didesain platform-agnostic atau bisa bekerja di berbagai platform. Solusi kami telah disertifikasi baik untuk platform Zoom maupun Teams untuk audio dan video kami, dan faktanya, kami juga memiliki portofolio terbesar dan terlengkap untuk perangkan video, telepon dan speaker phone headset bersertifikasi Microsoft Teams. 

Pada saat yang sama, portofolio produk kami juga bekerja dengan semua layanan kolaborasi cloud yang berbeda di luar sana; ini memberi  kebebasan dan fleksibilitas kepada perusahaan-perusahaan untuk memilih jenis platform komunikasi yang akan digunakan dengan solusi kami, tanpa harus menghabiskan banyak dana dan waktu untuk penggantian sistem.
 

T: Model cara kerja baru akan berdampak pada pemanfaatan fasilitas kantor. Menurut Anda apakah kantor akan memiliki ruang yang lebih kecil atau sama? Dan apakah akan ada perubahan fungsi?

Kami berpikir bahwa kantor tidak akan hilang sepenuhnya; tidak semua pekerjaan cocok untuk sistem hybrid atau jarak jauh, dan juga ada yang masih lebih suka bekerja di kantor.

Indeks Tren Dunia Microsoft 2021 menunjukkan bahwa 83 persen pekerja di Indonesia menginginkan opsi kerja jarak jauh yang fleksibel, sementara 72 persen pemimpin perusahaan di Indonesia berencana untuk mendesain ulang kantor mereka untuk mendukung model kerja hybrid.

Dalam jangka menengah, kami berpikir bahwa perusahaan-perusahaan akan mempercepat pengadopsian pendekatan office on-demand untuk membantu bisnis untuk secara efektif menambah ruang kerja sesuai kebutuhan, sementara pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan akan mulai mendefinisi ulang peran tenaga kerja dan menentukan fungsi mana yang paling cocok untuk ditempatkan di area pusat bisnis (CBD), dan menentukan siapa saja yang dapat bekerja dari jarak jauh atau di kantor satelit di wilayah kota atau kabupaten sekitar.

Meski demikian, para pemimpin bisnis perlu mencari cara agar kembali ke kantor menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan oleh karyawan. Agar hal ini terjadi, kantor perlu berubah menjadi pusat (hub) kolaborasi, berfungsi sebagai tempat berkumpul para anggota tim untuk bertukar pikiran dalam kelompok-kelompok kecil, menyelenggarakan pertemuan klien, merayakan pencapaian, dan mengerjakan proyek bersama. Mereka juga akan menjadi pusat bagi sosialisasi masyarakat yang akan membentuk budaya perusahaan yang tidak dapat direplikasi pada kerja jarak jauh.
 

T: Apa yang harus dilakukan perusahaan untuk mendukung pekerjaan jarak jauh dan hybrid di sisi teknologi?

Baik untuk tenaga kerja di kantor atau terdistribusi, atau bahkan UKM versus perusahaan besar, penting untuk dipahami bahwa tidak ada yang namanya one-size-fits-all. Setiap organisasi memiliki tantangannya sendiri untuk dipecahkan, dan dengan karyawan yang memiliki preferensi berbeda tentang cara menyelesaikan pekerjaan.

Sebaliknya, kami menyarankan agar perusahaan-perusahaan berusaha menanyakan kepada karyawan apa yang mereka butuhkan untuk bisa berperan aktif dan menjadi kolaborator.

Poly telah melakukan penelitian Persona selama beberapa waktu, dan kami menemukan bahwa di setiap perusahaan, ada enam tipe utama persona pekerja: office communicator, office collaborator, remote collaborator, flexible worker, road warrior, dan connected executive.

Kami telah bekerja sama dengan para pelanggan dan mitra-mitra kami untuk membantu mereka mengetahui bagaimana karyawan mereka mengidentifikasi diri dalam grup-grup ini. Untuk setiap grup, ada pengaturan teknologi yang optimal dan individual yang memberdayakan anggota tim untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka, dan pada pijakan yang setara.

Perusahaan-perusahaan dapat menanyai para pekerja mereka, dan dari sana, data penelitian yang digunakan untuk mendefinisikan dan membangun model-model kerja hybrid berbeda yang disesuaikan dengan kebutuhan peran dan tanggung jawab pekerjaan yang berbeda-beda, baik yang perlu berada di lokasi dengan klien, bekerja di kantor, atau yang bekerja dari jarak jauh. Strategi ini dapat memudahkan perusahaan-perusahaan untuk menentukan tingkat investasi teknologi yang diperlukan untuk membantu perusahaan memenuhi tujuannya.
 
 
T: Bagaimana Poly melihat teknologi video conferencing saat ini, dengan begitu banyak layanan video conference yang sekarang tersedia? Bagaimana Anda bisa meyakinkan pelanggan untuk mengadopsi atau terus menggunakan teknologi Anda?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, keunggulan solusi Poly adalah bahwa kami memiliki rancangan yang platform-agnostic, dan kami tidak mengikat pelanggan ke salah satu platform video conference manapun, karena solusi kami dapat bekerja dengan semua platform yang umum digunakan di luar sana.

Selain itu, jika perusahaan Anda menggunakan Microsoft Teams atau Zoom, kami adalah satu-satunya perusahaan yang memiliki dukungan native untuk kedua platform tersebut, sehingga perusahaan-perusahaan dapat dengan bebas memilih dari vendor platform pilihan mereka, tanpa harus mengubah perangkat mereka.
 

T: Apa kendala atau kelemahan yang ditemukan dalam teknologi video conferencing saat ini dan bagaimana Poly mengatasinya?

Teknologi video conference telah berkembang pesat, sehingga jauh lebih mudah untuk berkomunikasi lintas batas pada saat ini, dibandingkan dengan satu dekade lalu.

Pandemi telah menjadikan video conference sebagai norma untuk kolaborasi dan pertemuan, sebagai alternatif bagi perjalanan bisnis dan pertemuan tatap muka. Sangat mungkin setidaknya ada satu rapat harian yang Anda adalah salah satu peserta yang bergabung dari jarak jauh melalui video.

Apapun alasannya, saat ini ada banyak harapan lebih besar tentang bagaimana pertemuan virtual harus berlangsung. Banyak perusahaan dan berbagai sektor usaha akan tanpa kompromi memastikan tersedianya solusi video berkualitas tinggi yang mendukung produktivitas, ketahanan, dan layanan pelanggan tingkat tinggi.
 
Hal ini membuat perusahaan-perusahaan memandang penting konsep pemenuhan kesetaraan, dan memecahkan masalah ketidak-seimbangan bagi mereka yang berada di dalam dan di luar kantor.

Audio dan video profesional adalah kunci untuk kesetaraan pengalaman itu, karena jika seseorang tidak memilikinya, mereka akan jadi yang terlemah dalam rapat, yang pada akhirnya hanya bisa diam, atau meminta mengulangi apa yang baru saja mereka katakan. Di satu sisi kita menyadari gangguan yang dihadapi para pekerja jarak jauh, dan di sisi lain karyawan yang bekerja di kantor juga memiliki tantangannya sendiri.

Mereka mungkin memiliki keterbatasan akses untuk ruangan yang tenang untuk rapat video, atau headphone dan mikrofon berperedam untuk rapat dari meja mereka. Banyak ruang rapat hanya memiliki satu kamera video dan mikrofon yang tidak jangkauan luas untuk menampilkan semua orang yang duduk di meja rapat, sehingga sulit bagi pekerja jarak jauh untuk mengetahui siapa yang berbicara.


T: Menurut Anda, seberapa besar adopsi layanan konferensi video akan tumbuh tahun depan?

Sejak awal pandemi, kami secara konsisten mengatakan bahwa cara perusahaan dan orang-orang berkomunikasi, serta infrastruktur dan layanan yang dibutuhkan untuk bekerja secara produktif, telah berubah secara permanen.

Dari sudut pandang bisnis, kami melihat peningkatan permintaan untuk solusi kolaborasi video ketika perusahaan-perusahaan bersiap untuk kembali ke kantor.

Nilai pasar konferensi video APAC diperkirakan akan tumbuh 18,3 persen per tahun antara tahun 2021 dan 2022, didorong oleh beberapa faktor seperti peluncuran jaringan 5G, dan peningkatan adopsi budaya kerja hybrid.

(MMI)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id