Bos Extramarks: Kami Justru Ingin Memudahkan Para Guru

    Ellavie Ichlasa Amalia, Lufthi Anggraeni - 28 Juni 2019 07:26 WIB
    Bos Extramarks: Kami Justru Ingin Memudahkan Para Guru
    Country Manager Extramarks Indonesia, Fernando Uffie. (medcom.id)
    Jakarta: Pada Education Index dari Human Development Reports pada 2017, Indonesia menempati posisi ketujuh dengan nilai 0,622.

    Dalam daftar itu, Singapura ada di posisi pertama dengan nilai 0,832, diikuti oleh Malaysia (0,719) dan Brunei Darussalam (0,704). Posisi keempat diisi oleh Thailand dan Filipina yang mendapatkan nilai yang sama, yaitu 0,661.

    Seperti namanya, Education Index merupakan angka yang menunjukkan tingkat pendidikan sebuah negara. Fakta bahwa Indonesia bahkan tidak masuk ke lima besar di Asia Tenggara menunjukkan bahwa sistem edukasi kita masih jauh dari sempurna.

    Extramarks berharap mereka akan dapat membantu menyelesaikan masalah ini dengan platform pembelajaran yang mereka sediakan. Dalam wawancara dengan Medcom.id, Country Manager Extramarks Indonesia, Fernando Uffie mengatakan bahwa rata-rata, siswa di Indonesia menghabiskan waktu tujuh sampai delapan jam di sekolah.

    Namun, menurutnya, waktu di sekolah itu kurang optimal. Dia merasa, sekolah hanya sanggup menyampaikan 70 persen dari target yang harus siswa capai. Salah satu cara yang bisa siswa lakukan untuk mencapai pemahaman 100 persen adalah dengan belajar di rumah.

    "Tantangannya sekarang, bagaimana menjamin proses belajar di rumah sama dengan di sekolah?" kata pria yang akrab dengan panggilan Fernando ini. "Extramarks mereplikasi proses belajar agar sama dengan di sekolah."

    Bos Extramarks: Kami Justru Ingin Memudahkan Para Guru

    Apa yang ditawarkan Extramarks?
    Fernando mengatakan, konten edukasi yang ada di Extramarks didasarkan pada kurikulum 2013 yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Untuk membuat konten, Extramarks memiliki tim sendiri. Dia mengungkap, perusahaan yang dia pimpin tidak sekadar menyalin informasi dan soal dari internet atau dari buku. Di Indonesia, Extramarks memiliki lebih dari 250 akademisi.

    Fernando bercerita, pendiri Extramarks merupakan pria India yang bertanggung jawab atas anak dan keponakannya. Keduanya memiliki gaya belajar yang berbeda. Selain itu, sang pendiri, Atul Kulshrestha juga sering berpergian, sehingga dia tidak punya banyak waktu bersama anak dan keponakannya.

    Inilah alasan mengapa Extramarks memiliki berbagai metode pembelajaran. Jadi, jika siswa senang belajar dengan metode membaca, mereka bisa melakukan itu. Sementara bagi murid yang memerlukan audio dan visual untuk belajar, Extramarks juga menyediakan video.

    "Hal-hal yang sulit untuk kita jelaskan dalam bentuk narasi, kita jelaskan dalam bentuk animasi. Bagi anak-anak yang konservatif, senang membaca buku, fungsi itu juga ada," kata Fernando.

    Menariknya, orangtua juga bisa memantau apa yang dilakukan oleh anak-anaknya pada aplikasi. Fernando mengakui, siswa memang dapat menggunakan internet untuk mencari tahu tentang hal-hal yang mereka pelajari. Namun, dengan Extramarks, siswa hanya akan mendapatkan konten sesuai dengan materi pelajaran dan sesuai dengan kurikulum. 

    Apakah Extramarks akan menghilangkan fungsi guru?
    "Bisa nggak komputer mengajarkan budi pekerti? Nggak kan," kata Fernando. "Kalau bicara apakah ini mengambil posisi guru, jawabannya tidak." Dia menjelaskan, dengan kurikulum yang ada saat ini, guru justru disibukkan untuk menyiapkan materi yang hendak mereka ajarkan di depan kelas.

    "Setiap minggu, mereka harus mempresentasikan materi ke kepala sekolah, baru ke kelas," ujarnya. Dengan adanya Extramarks, ini justru akan memudahkan para guru. "Guru akan punya lebih banyak waktu untuk menjelaskan lebih lanjut ke siswa. Waktu yang tadinya habis untuk menyiapkan materi pelajaran, bisa digunakan untuk memberikan pemahaman lebih lanjut melalui sarana yang kami siapkan."

    Bos Extramarks: Kami Justru Ingin Memudahkan Para Guru

    Fernando mengatakan, meskipun dengan kurikulum yang sama, ada beberapa sekolah yang dianggap sebagai sekolah unggulan. Menurutnya, ini bisa dicapai karena tenaga pengajar yang mumpuni.

    "Walau materi yang diajarkan sama, kenapa ada sekolah yang masuk top 10? Rahasianya ada di guru," ujar Fernando. "Kami ingin mengembalikan porsi belajar di sekolah dan menjamin bahwa pengalaman belajar di sekolah sama dengan setelah sekolah."

    Dia mengaku, keberadaan Extramarks mungkin akan mempersulit lembaga bimbingan belajar atau guru privat. Namun, dia merasa, tempat yang belajar yang sesuai adalah di sekolah. "Tidak ada kan ranking berdasarkan bimbel? Kembalikan porsi belajar ke sekolah," ujarnya. 

    Jika kurikulum berubah, apakah bisa beradaptasi?
    "Pertama, tim akademis kami cukup banyak. Kedua, ini berbasis teknologi digital," kata Fernando. Dia cukup yakin bahwa tim internalnya dapat menyesuaikan konten sesuai dengan kurikulum jika ada perubahan.

    Dia memberikan contoh, salah satu sekolah yang menggunakan Extramarks merupakan sekolah Islam. Sekolah itu meminta Fernando dan tim untuk menyediakan konten khusus muslim. "Karena tim sudah ada dan teknologi dasarnya sudah ada, itu bukan tantangan," katanya.

    "Jika kurikulum berubah, dengan teknologi digital dan tim in-house kami, itu bukan tantangan besar buat kami. Justru, kita bisa menunjukkan kelebihan kami di situ."

    Dia juga menyebutkan, salah satu keunggulan Extramarks adalah karena ini memungkinkan guru untuk tidak menggunakan buku. "Perubahan apapun yang kami lakukan, melalui backend."



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id