Google Latih AI untuk Prediksi Kanker Paru-Paru

    Lufthi Anggraeni - 21 Mei 2019 15:41 WIB
    Google Latih AI untuk Prediksi Kanker Paru-Paru
    Photo_Concepts via Getty Images.
    Jakarta: Dari seluruh kanker di seluruh dunia, kanker paru-paru disebut sebagai penyakit paling mematikan. Kanker paru-paru dilaporkan merenggut lebih dari 1,7 juta jiwa per tahun, lebih banyak dari kanker payudara dan kolorektal.

    Engadget menyebut bahwa penderita kanker umumnya tidak menyadari penyakit ini hingga berada dalam tahap akhir, sehingga pengobatan cenderung kurang berhasil. Google dilaporkan berkomitmen untuk mengubah hal ini dengan memanfaatkan alat kecerdasan buatan (AI) baru karyanya.
    Dengan alat AI baru ini, Google berharap dapat memprediksi kanker paru-paru dengan lebih akurat dan lebih mudah diakses. Untuk mendeteksi kanker paru-paru, radiologis umumnya mengamati ratusan gambar dari CT Scan tunggal.

    Dengan model AI baru ini, Google dapat menghasilkan prediksi keganasan kanker paru-paru secara keseluruhan dan mengidentifikasi jaringan ganas halus, atau nodul paru-paru, yang kerap sulit untuk diidentifikasi.

    Teknologi AI juga bertugas untuk merunut faktor pada pemindaian sebelumnya, diklaim dapat membantu mengungkap tingkat pertumbuhan dari lapisan jaringan mencurigakan. Untuk menguji model ini, Google meminta AI karyanya untuk memeriksa 45.856 hasil pemindaian CT.

    AI kemudian akan membandingkan hasil pemeriksaan tersebut dengan enam radiologis bersertifikasi. Pada penelitian pertama, AI Google mendeteksi lima persen kasus kanker lebih banyak jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan radiologis.

    Model AI baru Google ini juga mengurangi pemeriksaan positif yang salah sebanyak lebih dari 11 persen. Model ini juga memerlukan penelitian dan pengujian klinis tambahan sebelum dapat dimanfaatkan, namun Google menyebut hasil awal model ini cukup baik.

    Google turut mencatat bahwa hanya dua hingga empat persen pasien di Amerika Serikat dideteksi untuk kanker paru-paru. Serupa dengan alat deteksi penyakit berbasis AI lain, Google berharap model ini akan dapat menyuguhkan deteksi awal yang lebih mudah untuk diakses.

    Sebelumnya, Google mengumumkan versi terbaru dari smartglass augmented reality barunya, bernama Google Glass Enterprise Edition 2. Seperti namanya, kacamata cerdas ini didesain khusus untuk perusahaan.

    Kacamata yang dihargai USD999 (Rp14,5 juta) ini terlihat seperti kacamata biasa dengan kamera dan kaca pembesar pada salah satu lensanya.

    Jika dibandingkan dengan headset AR pesaing, seperti HoloLens dari Microsoft, Google Glass baru ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan harga lebih terjangkau. 



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id