Tak Tertinggal, Startup di Aceh Tumbuh Signifikan

    Cahyandaru Kuncorojati - 21 Februari 2020 16:53 WIB
    Tak Tertinggal, Startup di Aceh Tumbuh Signifikan
    Ilustras.
    Jakarta: Meskipun geliat perkembangan teknologi di Indonesia banyak terjadi di kota besar terutama di Pulau Jawa, bukan berarti dampak teknologi tidak dirasakan di kawasan paling barat dari Tanah Air, misalnya provinsi Aceh.

    Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber, perusahan rintisan berbasis teknologi atau yang dikenal sabgai startup juga tumbuh signifikan di Aceh.

    Dikutip dari laporan inkubator bisnis universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, di awal tahun 2019 saja sudah ada 44 startup potensial. Startup juga sangat berfokus ke pengembangan potensi ekonomi dari berbagai daerah di provinsi Aceh.

    Bahkan beberapa startup sudah mendpatkan perhatian dari pemerintah. Saat itu sembilan startup di antaranya sudah lolos tahap desk evaluation program PBBT (Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi) Kemenristekdikti. Sebagian besar memang startup ini berfokus ke pengembangan hasil alam.

    Namun, tidak sedikit startup yang juga memanfaatkan teknologi. Misalnya, GOTANI yang menciptakan software pemantau harga produk pertanian, SiDara IoT yang menyediakan sistem informasi administrasi sekolah dan madrasah berbasis IoT.

    Di bulan April lalu, startup pembelajaran Islam bernama Muslim Life juga menjadi salah satu startup asal Aceh yang lolos ke ajang nasional. Startup ini berhasil masuk seleksi nasional Indigo Creative Nation 2019, inkubator milik PT Telkom Indonesia.

    Aplikasi Muslim Life ini digagas oleh Tri Wahyudi, pemuda asal Aceh lulusan Dayah Darul Muta'aalimin Langsa. Aplikasi ini menyediakan fitur pembelajaran agama, panduan ibadah, dan program amal serta kegiatan orang tua asuh untuk hafiz atau anak penghafal Alquran.

    "Saya punya misi agar aplikasi ini bisa menjadi aplikasi Islami unicorn pertama di Indonesia, sehingga bisa membawa nama baik Aceh dan Indonesia di kancah startup internasional," ujar Tri saat di kompetisi tersebut.

    Ada juga satu startup asal Aceh yang berhasil menembus program 1000 Startup Digital bernama PatKos. Kata "pat" dalam bahasa Aceh berarti "dimana" dan kata "kos" mengacu kepada kos atau tempat tinggal. PatKos adalah startup pembuat layanan pencarian penyedia kos bagi mahasiswa.

    PatKos berawal dari keresahan mahasiswa di Aceh yang sulit untuk mendapatkan inofrmasi kos. Startup ini digagas sekal 2016 yang awalnya hanya memanfaatkan media sosial. Kini PatKos menghubungkan pencari kos dan penyedia kos.

    Di awal bulan ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh juga meggandeng startup dan kreator konten di Aceh untuk membantu mempromosikan pariwisata daerahnya. Empat kawasan wisata yang ingin diangkat pada tahun 2020 adalah Sabang, Banda Aceh, Dataran Tinggi Gayo, dan Aceh Singkil.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id