Bos BlackBerry Skeptis Soal Ponsel Layar Lipat

    Lufthi Anggraeni - 12 Maret 2019 10:32 WIB
    Bos BlackBerry Skeptis Soal Ponsel Layar Lipat
    CEO BlackBerry, John Chen, mengaku skeptis menyoal daya tarik smartphone berdesain layar lipat.
    Jakarta: Huawei dan Samsung meyakini smartphone layar lipat merupakan masa depan ponsel cerdas. Namun tidak demikian dengan CEO BlackBerry John Chen, yang mengaku lebih skeptis menyoal daya tarik perangkat ini.

    Chen berpendapat smartphone lipat kurang memiliki daya tarik, akibat sedikitnya inovasi yang diusungnya. Secara personal, Chen mengaku menginginkan sesuatu lebih cepat dengan peningkatan fungsional, namun, menurut Chen, tidak ada terobosan baru yang akan tersedia.

    Dalam beberapa tahun terakhir, elemen seperti pemindai sidik jari, pengenal wajah, dan pemindai iris mata telah diperkenalkan.

    Kini, fokus lebih dititikberatkan pada penciptaan layar berukuran lebih besar, hal yang dinilai Chen menghasilkan perangkat berdimensi lebih tebal dan tidak selalu menyuguhkan pengguna dengan peningkatan spesifik.

    Chen berpendapat bahwa konsumen umumnya menginginkan lebih dari sekadar layar lebih besar dan peningkatan yang berulang. Sebagai informasi, BlackBerry belum memproduksi smartphone karyanya sejak tahun 2016 lalu.

    BlackBerry lebih terfokus pada layanan keamanan dan komunikasi, serta software selama beberapa tahun terakhir. Perangkat terbaru bermerek BlackBerry yang saat ini tersedia di pasar diproduksi oleh TCL, di bawah naungan kesepakatan lisensi.

    Berbeda dengan CEO BlackBerry, TCL menyambut baik smartphone berdesain lipat tersebut. Produsen ini belum merilis perangkat dengan desain serupa, namun baru-baru ini mengumumkan desain DragonHinge di ajang MWC 2019 pada bulan Februari lalu.

    Produk ini akan menjadi dasar dari perangkat berdesain lipat terbaru karyanya, dan diprediksi akan diumumkan pada tahun 2020 mendatang.

    Hal ini juga mengindikasikan peluang kehadiran smartphone lipat bermerek BlackBerry, meski John Chen kurang meminati smartphone dengan bentuk tersebut.

    Sebelumnya, BlackBerry dilaporkan mengajukan tuntutan hukum terhadap Twitter, atas tuduhan pelanggaran hak paten. Dalam dokumen tuntutan ini, BlackBerry menuduh Twitter melakukan pelanggaran secara terus-menerus terhadap enam paten mereka.

    Paten tersebut termasuk paten Push Notification, menghentikan notifikasi untuk untaian pesan, dan teknik periklanan mobile.

    BlackBerry menuduh Twitter telah membuat aplikasi messaging yang mirip dengan inovasi BlackBerry, menggunakan fungsi dan antarmuka inovatif yang digunakan pada produk BlackBerry sehingga produk itu bisa sukses.

    Sementara itu pada tahun lalu, BlackBerry menuntut Facebook atas tuduhan pelanggaran paten. Ketika itu, BlackBerry menyebutkan bahwa Facebook telah melanggar tujuh paten terkait keamanan, fitur antarmuka pengguna, update status baterai, fitur pesan di game, dan menghentikan notifikasi.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id