comscore

Alibaba Sebut Pandemi Akselerasi Pemanfaat Cloud

Lufthi Anggraeni - 12 September 2020 11:01 WIB
Alibaba Sebut Pandemi Akselerasi Pemanfaat Cloud
Alibaba Cloud sebut pandemi mengakselerasi pengadopsian layanan cloud di berbagai industri.
Jakarta: Alibaba Group tidak memungkiri bahwa pandemik Covid-19 mendorong pemanfaatan layanan komputasi awan atau cloud, termasuk yang ditawarkan perusahaannya, seiring dengan penerapan pembatasan sosial yang mengharuskan masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah mereka.

“Pandemi sangat berpengaruh signifikan pada cara orang menjalankan bisnis. Banyak bisnis yang melakukan akselerasi teknologi karena melihat manfaatnya di situasi pandemi saat ini,” ujar Vice President Alibaba Group, President Database Products Business Unit Alibaba Intelligence, Dr. Feifei Li.
Li menyebut bahwa pandemi menyebabkan sejumlah industri offline untuk beralih ke ranah online. Hal ini tidak hanya didapati Alibaba di negara asalnya, Tiongkok, tapi juga terjadi di industri yang beroperasi di Indonesia.

Selain itu, Li juga menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan infrastruktur cloud dalam membantu menjalankan operasional usaha, perusahaan dapat mengerahkan mayoritas fokus mereka pada pengembangan bisnis.

Pandemi disebut Li mengakselerasi transformasi digital, dengan memperluas tipe bisnis yang mengadopsi layanan komputasi awan Alibaba Cloud, meski Li mengaku telah melihat peningkatan migrasi teknologi ke layanan cloud pada akhir tahun 2018 dan 2019.

Salah satu sektor yang menunjukan peningkatan adopsi layanan cloud ini, jelas Li, salah satunya adalah sektor logistik. Selain itu, Li juga menemukan empat tren utama di area sistem database akibat adopsi cloud yang terus meningkat.

Li menjelaskan bahwa tren pertama di industri database adalah pengadopsian teknologi cloud-native, yaitu terkait dengan resource pooling. Sebagai informasi, resource pooling merupakan metode untuk meletakkan sumber daya dalam satu tempat atau pool, bukan ke dalam bagian atau instance terpisah.

Tren kedua yang disebutkan Li adalah batas antara OLAP/analytics database dan solusi big data yang dinilainya semakin tidak nyata. Li menjelaskan bahwa dari sudut pandang bisnis, akan lebih bermanfaat bagi bisnis jika ada satu ekosistem yang dapat mengelola transaction workload dan analytical workload.

Secara lebih jauh Li menjelaskan bahwa analytical workload tersebut terdiri dari online interactive analytics maupun offline batch analytics. Dan Li juga mengklaim bahwa akan lebih menyenangkan bagi bisnis jika dapat memindahkan data di antara dua ekosistem tersebut tanpa perlu merasa khawatir.

Tren ketiga yaitu kebutuhan sistem cerdas,  karena perusahaan harus dapat menyederhanakan orkestrasi dan administrasi proses dalam mengelola data bervolume besar dan database instance dalam jumlah besar pula. 

Sedangkan tren keempat adalah keamanan dan integritas, dan Li menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan penekanan pada keamanan dan integritas sistem dan platform yang dihadirkannya, termasuk dengan menggunakan teknologi enkripsi dan SQL auditing tools.

Sebagai informasi, Alibaba Cloud telah memiliki database di Indonesia, dan mulai beroperasi pada tahun 2018 dan 2019 lalu. Pusat data Alibaba ini telah mendapatkan sejumlah sertifikat keamanan dan lisensi, termasuk Keamanan Informasi ISO 27001 sesuai Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.4 Tahun 2016. Alibaba Cloud juga berencana untuk menghadirkan satu pusat data di Indonesia pada tahun 2021.

(MMI)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id