Twitter Uji Fitur Baru Demi Memperbaiki Citra Negatif

    Lufthi Anggraeni - 11 Januari 2020 09:24 WIB
    Twitter Uji Fitur Baru Demi Memperbaiki Citra Negatif
    Twitter uji fitur baru, diharapkan dapat memperbaiki citra jejaring sosialnya.
    Jakarta: Twitter tengah berupaya untuk memperbaiki citranya yang belakangan ini dikenal masyarakat kurang baik. Situs jejaring sosial ini disebut masyarakat sebagai situs penuh kebencian, kemarahan dan berita palsu.
     
    Menurut Bloomberg, Twitter berharap bahwa dengan memungkinkan pengguna untuk membatasi pengguna lain yang dapat merespon unggahan twit mereka, akan dapat mengurangi tingkat permusuhan ekstrem yang saat ini memperburuk citra Twitter.
     
    Pengguna terpilih untuk menguji fitur baru ini akan dapat memilih salah satu dari empat polihan saat memutuskan pengguna lain yang dapat membalas kicauan mereka. Pilihan ini termasuk: siapa saja, pengikut pengunggah kicauan, pengguna yang disebut di kicauan, dan tidak satupun.
     
    Eksekutif Twitter Kayvon Beykpour mengumumkan fitur baru di ajang CES di Las Vegas dan menyebut motivasi utama kehadiran fitur ini adalah kendali. Beykpour menyebut perusahaannya ingin memberikan kendali lebih baik kepada penulis dan pengunggah Tweet, serta metode yang digunakan untuk berkomunikasi di dunia nyata.
     
    Saat ini, percakapan publik di Twitter dilakukan dengan cara pengguna mengunggah sesuatu yang dapat dilihat dan dibalas oleh pengguna lain di seluruh dunia, atau melalui percakapan pribadi via fitur Direct Messages (DM).
     
    Pada bulan November lalu, Twitter mulai menghadirkan opsi untuk menyembunyikan balasan tertentu pada kicauan yang pengguna unggah, sebagai upaya untuk mencegah perdebatan sengit di antara pengguna.
     
    Kini, Twitter memperketat upayanya dengan memberikan pengguna peluang untuk memblokir pengguna lain sehingga tidak dapat membalas unggahan mereka. Fitur ini akan digulirkan sebagai bagian pengujian terlebih dahulu untuk pengguna tertentu.
     
    Setelah pengujian selesai, Twitter mengaku akan segera menggulirkannya kepada seluruh pengguna jejaring sosial karyanya. Co-founder dan CEO Twitter Jack Dorsey juga berkomentar bahwa meningkatkan kondisi kenyamanan pengguna Twitter adalah prioritas utamanya.
     
    Dorsey juga tengah menghadapi permasalahan terkait taktik pendisiplinannya yang tidak adil dan merata. RawStory melaporkan sejumlah besar pengguna Twitter kebingungan terkait dengan syarat layanan jejaring sosial ini, karena tidak berlaku untuk Presiden Donald Trump.
     
    Pemimpin Amerika Serikat saat ini tersebut baru-baru ini mengancam akan memulai perang melawan Iran. Kontributor New York Times Wajahat Ali baru-baru ini menulis bahwa dunia akan lebih aman jika Trump tidak didukung oleh Dorsey, padahal telah melakukan pelanggaran berulang kali terhadap standar jejaring sosial tersebut.

    (MMI)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id