• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 14 NOV 2018 - RP 51.052.810.215

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Personalisasi dan Algoritma, Senjata Netflix Raih 138 Juta Pengguna

Mohammad Mamduh - 08 November 2018 19:32 wib
VP of Product Netflix Todd Yellin
VP of Product Netflix Todd Yellin

Jakarta: Personalisasi merupakan salah satu senjata utama Netflix memikat hati konsumen. Meskipun punya banyak film atau serial yang menarik, tantangannya adalah bagaimana para pengguna mendapatkan film yang sesuai dengan selera.

Menampilkan ribuan film dalam satu halaman utama Netflix bukan solusi bagus untuk membuat pengguna betah menonton.

Tantangan tersebut dijawab oleh VP of Product Netflix Todd Yellin, dalam ajang See What’s Next: Asia. Memanfaatkan algoritma, Netflix menciptakan personalisasi yang diklaim akurat untuk masing-masing individu.

“Algoritma adalah DNA Netflix,” ungkap Todd. “Kami bukan perusahaan film, kami bukan perusahaan teknologi. Kami adalah keduanya.”

Algoritma memang berperan penting dalam menentukan, menemukan, dan memberikan rekomendasi kepada pengguna Netflix.

Begitu personal sampai Netflix mengklaim satu profil tidak akan sama dengan profil lain, walau berada dalam satu akun. Bahkan, ini berlaku kepada pasangan suami istri yang telah hidup bersama belasan tahun.

“Saat kami bertransformasi dari DVD ke layanan streaming, algoritma memegang peranan yang sangat besar pada Netflix.” Tantangan yang mereka hadapi adalah bagaimana memberikan referensi yang tepat untuk pengguna di seluruh dunia. Todd menilai bahwa hal ini belum pernah dilakukan sepanjang sejarah.

Algoritma Netflix berkembang seiring dengan minat pengguna. Seperti pembelajaran mesin, algoritma mempelajari berbagai aspek ketika pengguna menonton.



Tidak hanya pada judul dan genre film, algoritma ini melihat referensi dari poster dan referensi visual lain yang ada di dalam film. Satu film tidak hanya punya satu poster.

“Ibarat Anda sebagai studio film, akan meminta agensi iklan terbaik menciptakan poster paling menarik.”

“Pegawai kami diminta menonton film yang ada, kemudian melihat berbagai referensi yang muncul. Informasi yang telah kita dapat diserahkan kepada ilmuwan data untuk dianalisis lebih lanjut,” kata Todd.

“Kita tak pakai umur, kita tak pakai gender. Karena ada perempuan berumur 70 tahun yang gemar menonton film superhero. Atau pria berusia 90 tahun suka film dokumenter.”

Netflix menentukan referensi film dengan membagi berdasarkan cluster. Setidaknya ada 2.000 cluster yang menampilkan beragam referensi film. Menariknya, Todd menjelaskan satu cluster tidak melulu menampilkan genre yang sama.

“Ada yang suka Black Mirror, dan di cluster yang sama ada variety show yang sama sekali tidak bersifat fiksi ilmiah.”

Pertimbangan Netflix adalah otak pengguna yang biasanya suka satu genre film, secara sadar tak selalu menyukai genre tersebut. Ada bagian otak lain yang mungkin suka dengan film drama.

Targetnya untuk menghadirkan beragam konten. Secara tidak langsung, pengguna Netflix juga tidak cepat bosan karena menonton film dengan genre yang sama terus-menerus. “Intinya adalah menghadirkan konten terbaik untuk orang yang sesuai, pada waktu yang tepat.”


(MMI)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.