Ada Garam dan Mineral di Mars

    Lufthi Anggraeni - 11 Februari 2020 15:02 WIB
    Ada Garam dan Mineral di Mars
    Penelitian terbaru sebut air di Mars mengandung mineral yang mampu mendukung kehidupan.
    Jakarta: NASA menemukan bukti dari oasis di Mars, namun penelitian baru menyebut bahwa kondisi air masa lampau di planet merah ini mampu mendukung kehidupan.

    Penelitian yang diterbitkan oleh Nature Communications mengindikasikan air di Gale Crater di Mars mengandung garam.
     
    Selain itu, air ini juga memiliki level pH yang sedang sehingga mampu mendukung kehidupan dan dalam status redox, pengukuran gas seperti hidrogen atau oksigen, serupa dengan iklim semi kering. Pesawat ruang angkasa Curiosity mengeksplorasi Gale Crater, merayakan tahun ketujuhnya di Mars pada bulan Agustus 2019 lalu.
     
    Pada bulan Januari, Curiosity tersangkut di Mars selama melakukan sejumlah aktivitas, namun kini telah dapat beroperasi secara normal. Gale Crater diyakini berusia antara 3,5 miliar hingga 3,8 miliar tahun, dan penelitian sebelumnya mengkaji soal perbedaan antara iklim basah di Mars masa lampau dan iklim kering saat ini.
     
    Pesawat ruang angkasa Curiosity telah menemukan sejumlah temuan mengejutkan, termasuk metana dengan ketinggian tidak umum, dan objek berkilau, diyakini sebagai meteorit.

    Pesawat ruang angkasa Curiosity dilaporkan memiliki waktu selama beberapa tahun sebelum sistem nuklirnya terdegradasi sehingga membatasi operasional secara signifikan.
     
    NASA berharap Curiosity akan dapat menyediakan petunjuk lain terkait planet ini sebelum peluncuran misi pesawat ruang angkasa Mars 2020. Pada bulan November lalu, NASA mengumumkan telah memilih lokasi pesawat Mars 2020 akan mendarat di planet Mars.
     
    Pesawat ruang angkasa ini diperkirakan akan mencapai permukaan planet Mars pada tanggal 18 Februari 2021. Tujuan jangka panjang NASA adalah untuk mengirimkan pesawat ruang angkasa berawak ke Mars pada tahun 2030 mendatang.
     
    Sebelumnya, astronaut NASA Christina Koch menjadi astronaut perempuan pertama yang menyelesaikan penerbangan ruang angkasa dengan durasi waktu terlama. Pesawat ruang angkasa yang membawa Koch mendarat di lapangan berumput Kazakhstan pada pukul 09:12 GMT.
     
    Secara keseluruhan, Koch menghabiskan waktu selama 328 hari di International Space Station (ISS). Selama misinya, Koch menyelesaikan 5.248 orbit di Bumi dan menjelajah sejauh 223 juta KM, setara dengan 291 putaran dari Bulan ke Bumi.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id