Tik Tok Ancam Privasi dan Keselamatan Anak-Anak?

    Cahyandaru Kuncorojati - 04 Juli 2018 15:32 WIB
    Tik Tok Ancam Privasi dan Keselamatan Anak-Anak?
    Ilustrasi. (SCMP)
    Jakarta: Sebelum populer di Indonesia, aplikasi Tik Tok asal Tiongkok punya nama asli Douyin buatan Bytedance.

    Indonesia adalah negara yang baru merasakan keresahan setelah Tiongkok, dikutip dari South China Morning Post. Alasannya banyak konten yang diunggah oleh pengguna yang didominasi usia di bawah 16 tahun, dan konten itu tergolong negatif.

    Tik Tok dinilai mengancam keselamatan anak-anak karena data privasi mereka dengan mudah ditelusuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Aplikasi Tik Tok mendorong para pengguna yang berada di bawah usia 16 tahun tersebut membuat video tanpa memperdulikan sekelilingnya. Misalnya, seragam yang mereka pakai yang dengan mudah bisa digunakan untuk menelusuri tempat sekolahnya.

    Itu hanya satu dari sekian banyak privasi atau informasi pribadi yang diumbar di aplikasi Tik Tok. Menurut Kepala Sub Direktorat Penyidikan Kemenkominfo sekaligus pendiri Indonesia Cyber Law Community Teguh Arifiyadi, ada banyak informasi yang bisa diumbar dan mengancam privasi pengguna media sosial termausk Tik Tok.

    "Apapun bisa terekspos tanpa adanya kesadaran pemilik privasi, seperti lokasi, alamat, gambar diri, pekerjaan, dan informasi lain tanpa disadari oleh pemilik atau pengguna media sosial," ungkapnya lewat pesan singkat.

    Menurutnya Teguh, pelanggaran privasi bisa terjadi di hampir semua platform media sosial terlebih media sosial yang berbasis live streaming karena banyak informasi yang bisa digali dengan cepat dan dikonfirmasi kebenarannya.

    South China Morning Post menemukan ada beberapa orang dewasa di Tiongkok yang mengikuti lebih dari 1.000 akun remaja perempuan pengguna Tik Tok. Dia diketahui berusaha mendekati remaja tersebut dan meminta nomor kontaknya.

    Pada akhirnya, kasus kriminal di Indonesia seperti kasus penculikan seorang remaja atau anak di bawah usia oleh pelaku yang baru dikenal korban lewat media sosial bisa kembali terulang. Selain itu, bukan tidak mungkin apabila suatu hari video yang dibuat para remaja ini akan berakibat buruk terhadap kehidupan mereka saat besar nanti.

    "Jejak digital yang sudah diunggah ke internet atau di-crawling (dijaring, Red) mesin pencari akan sangat sulit sekali dihapus. Bisa saja suatu saat jejak digital kita yang buruk membawa dampak negatif di masa mendatang," tutur Teguh.

    Teguh sepakat bahwa pengguna terutama kalangan remaja dan anak-anak harus diberikan edukasi terkait hal yang patut dibagian di media sosial terutama terkait privasi. Menurutnya, platform layanan juga harus mengedukasi penggunanya terkait privasi yang harus mereka jaga.

    Sebagai saran terkait Tik Tok yang harus memperketat layanannya, Teguh menilai seharusnya Tik Tok mengimplementasikan teknologi AI atau kecerdasan buatan untuk menjaring video yang dianggap berisi konten negatif dan mengenali usia pengguna dari video yang diunggah.

    Hal ini bisa membantu Tik Tok tetap menyajikan layanannya sambil tetap memperketat pelanggaran usia penggunanya yang harus berusia 16 tahun atau lebih.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id