Bukan Pesaing, IBM Lihat Microsoft dan Amazon Sebagai Partner

    Mohammad Mamduh - 17 September 2019 09:20 WIB
    Bukan Pesaing, IBM Lihat Microsoft dan Amazon Sebagai Partner
    Ilustrasi: Glassdoor
    Jakarta: Transformasi organisasi yang dilakukan IBM dalam beberapa tahun terakhir tampaknya membuahkan hasil.

    Di tengah perkembangan industri cloud yang semakin gencar saat ini, mereka mengaku melihat kompetitornya seperti Microsoft dan Amazon sebagai partner, bukan pesaing langsung. Hal ini diungkapkan oleh CEO IBM Ginni Rometty.

    Dalam sebuah wawancara, Ginni mengaku IBM sedang menaruh perhatian mereka pada pasar hybrid cloud. Ini memungkinkan IBM menawarkan layanan kepada pelanggan korporasi yang mengandalkan komputasi awan sepenuhnya.

    Di saat yang sama, mereka juga bisa menggandeng para penyedia layanan cloud pihak ketiga seperti Amazon dan Microsoft.

    “Perusahaan kami telah ‘diperbarui’ beberapa kali,” kata Ginni dalam wawancara dengan BTV. “Ini hal umum harus dihadapi perusahaan. Menghadirkan produk baru adalah hal yang pasti, tetapi adanya disrupsi terhadap pasar yang sudah lama kita kuasai adalah hal yang harus dilihat, dan kita harus menciptakan model bisnis yang baru.”

    Memang, IBM yang telah berumur 108 tahun sudah melwati banyak transformasi. Pada awalnya, mereka menjual perangkat untuk komputer generasi lampau, kemudian menambah portofolionya dengan memasarkan komputer skala besar, atau yang biasa disebut mainframe.

    Saat ini, mereka fokus memasarkan layanan komputasi awan. Ini membuat mereka hadir dalam statistik pangsa pasar cloud, yang selama ini diduduki Microsoft Azure dan Amazon Web Services.

    Strategi baru IBM adalah dengan merambah industri hybrid cloud, yang juga diwujudkan lewat akuisisi Red Hat senilai USD34 miliar atau setara Rp481 triliun pada bulan Juli. Ginni menyebut Red Hat akan terus beroperasi sebagai perusahaan mandiri, karena perannya sangat vital dalam memastikan IBM berada di setiap pasar komputasi awan.

    “Dalam hal ini, Red Hat bisa berada di platform manapun.”

    Pada kesempatan terpisah, Red Hat melihat masa depan industri awan juga berada pada hybrid cloud. Ini mengacu pada jajak pendapat 2019 Red Hat Global Customer Tech Outlook 2019.

    Sebanyak 45 persen organisasi/perusahaan menyatakan mereka menggunakan setidaknya dua platform cloud. Hal ini karena satu lingkungan cloud saja tidak cukup untuk mendukung adaptasi bisnis secara cepat. Selain itu, 65 persen responden berencana menggunakan dua cloud atau lebih dalam satu atau dua tahun ke depan.

    “Sebab itulah, hybrid cloud tak saja harus aman dan hemat biaya, namun juga harus responsif terhadap perubahan saat ini dan di masa yang akan datang,” kata Brendan Paget, Director of Portfolio Management, APAC Office of Technology, Red Hat.

    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id