Ancaman Siber dan Ekonomi Digital

    Gervin Nathaniel Purba - 13 Mei 2020 19:25 WIB
    Ancaman Siber dan Ekonomi Digital
    Menkominfo Johnny G Plate (Foto:Dok.MetroTV)
    Jakarta: Ancaman siber menjadi ancaman serius bagi platform digital di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Tanah Air. Platform digital di Indonesia, seperti Bhinneka dan Tokopedia, menjadi korban pencurian data, baru-baru ini.

    Menyikapi hal tersebut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tengah melakukan penelitian bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). BSSN disebut mempunyai protokol security system yang menjadi domain BSSN. Koordinasi dilakukan secara berkala.

    Selain itu, Kemenkominfo juga menggandeng platform yang menjadi korban, seperti Tokopedia dan Bhinneka untuk meneliti bersama kasus ini. Mereka akan melakukan evaluasi dan mitigasi teknis untuk meningkatkan keamanan dan proteksi data pengguna.

    “Karena kemajuan teknologi, yang ingin melakukan peretasan juga berkembang besar. Kami berharap, walaupun ada serangan terhadap e-commerce, tapi e-commerce kita harus tetap berjalan, karenanya kami meneliti bersama,” ujar Menteri Kominfo (Menkominfo) Johnny G Plate, dikutip Prime Time News Metro TV.

    Dalam pemeriksaan ini, Kemenkominfo harus memastikan bahwa kewajiban platform dalam menyediakan security system yang kuat dan berlapis sudah diterapkan. Kemudian, jika ada peretasan, Kemenkominfo harus memastikan pemilik data pengguna tetap terlindungi.

    "Kalau sampai diretas, harus segera dipulihkan dan melakukan pencegahan lebih lanjut. Kemudian, berikan asistensi apabila terjadi kerugian. Lalu harus diakhiri agar peretasan tidak berlanjut. Pada prinsipnya ingin melindungi pemilik data,”" ujar Johnny.

    Keamanan berlapis wajib dimiliki setiap platform. Jika suatu platform ditemukan tidak memiliki sistem keamanan yang kuat, Kemenkominfo siap memberikan sanksi.

    "Ada tindakan administratif. Paling ringan berikan peringatan. Kemudian penutupan sementara, dan yang paling berat penutupan tetap. Itu pun harus dilakukan penyelidikan mendalam dari semua aspek," ujarnya.

    Menurutnya, sejumlah negara pun pernah mengalami kejadian serupa. Misalnya, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan departemen strategi di salah satu negara maju juga mengalami pencurian data.

    "Inilah terjadi kejar-kejaran antar cloud computing security system dengan kemampuan peretas secara teknologi," ujar dia.

    Kejadian seperti ini bisa saja terjadi kembali seiring dengan teknologi yang terus berkembang. Dalam mengantisipasinya, Kemenkominfo bersama operator seluler dan ekosistem telah membangun jaringan broadband dari laut, darat, dan udara (satelit) untuk menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia. Tujuannya dalam meningkatkan pengamanan data pribadi pengguna.

    Untuk memperkuat semangat perlindungan data, Johnny menegaskan diperlukannya pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi Undang-Undang (UU). RUU PDP telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada Januari 2020 dan selanjutnya dibahas di DPR.

    "Kita belum ada regulasi primer untuk mengatur dan mengawasi data pribadi. Ini harus segera diselesaikan. Saya yakin teman-teman di DPR punya semangat politik untuk menyelesaikan RUU tersebut," kata Johnny.

    Di sisi lain, perlindungan data juga menjadi tugas bersama, bukan hanya platform saja. Tugas bersama seluruh pihak untuk menyadarkan masyarakat pentingnya mengamankan data pribadi. Salah satu cara mudah yang bisa dilakukan ialah dengan selalu memperbarui kata sandi (password).

    (ROS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id