Hacker Awal Data Penduduk Indonesia Belum Ditemukan

    Lufthi Anggraeni - 22 Mei 2020 10:08 WIB
    Hacker Awal Data Penduduk Indonesia Belum Ditemukan
    Aktor pembocor data 2,3 juta penduduk Indonesia disebut bukan merupakan pembobol data pertama.
    Jakarta: Data 2,3 juta penduduk Indonesia berupa NIK, tempat tanggal lahir, dan nomor KK (NKK) beredar di dunia maya, menurut pengakuan akun Twitter bernama Underbreach. Akun ini juga menyebut aktor pembocor informasi bukanlah peretas terkenal.

    Underbreach menyebut sang aktor belum dapat dipastikan sebagai pihak pertama yang mendapatkan akses dan data penduduk Indonesia tersebut. Menurutnya, data penduduk Indonesia berpotensi telah beredar di kalangan kelompok peretas lebih kecil yang berbasis di Indonesia.

    Data yang beredar luas ini disebut sangat berguna untuk kebutuhan pendaftaran nomor telepon atau kebutuhan lain yang memerlukan NIK dan nomor KK. Dan sang aktor juga mengklaim akan membocorkan 200 juta data penduduk lain dalam waktu dekat.

    Data yang diduga milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena kop surat data bertuliskan daftar pemilih tetap untuk Pemilihan Umum 2014, sebab berisi nama, alat, NIK, dan NKK dan dikumpulkan peretas pada tahun 2013.

    Sang aktor membagikan data berukuran 2,36GB yang dibagikan ke dalam sejumlah folder yang seluruhnya berisi data dalam format PDF, termasuk nama lengkap, alamat, nomor identitas, nomor kartu keluarga, tanggal dan tempat lahir, dan lainnya.

    Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui aktor di balik kebocoran data yang merupakan salah satu kebocoran data berskala besar yang pernah dialami oleh Indonesia, meskipun bukan peristiwa pertama yang terjadi di Tanah Air.

    Sebelumnya, grup hacker yang kemarin dilaporkan membobol data pengguna Tokopedia kembali mengklaim sudah mencuri dan menjual data dari e-commerce Tanah Air yaitu Bhinneka.com. Grup ini diketahui bernama ShinyHunters.

    ShinyHunters termasuk dalam dugaan pihak yang membobol database akun pengguna dan toko di Tokopedia. Mereka juga dilaporkan mengklaim telah meretas database dari 10 perusahaan lain dan menjualnya di dark web.

    Kelompok ini juga dilaporkan menjual sebanyak 1,2 juta data pengguna Bhinneka.com di dark web atau pasar gelap internet. Sementara itu, peretas lain juga dikabarkan menjual hampir 13 juta akun pengguna milik Bukalapak, dan data yang mengalami kebocoran ini diperkirakan berasal dari tahun 2017.

    Namun kabar ini telah dibantah oleh pihak Bukalapak, yang menyatakan bahwa data konsumen di layanannya dalam kondisi aman. Berita terkait pembobolan data pengguna Bukalapak yang mengemuka tersebut merupakan berita dari awal tahun 2019.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id