AppsFlyer: Penipuan Mobile di Asia Tenggara Meningkat

    Lufthi Anggraeni - 23 Juni 2019 09:35 WIB
    AppsFlyer: Penipuan Mobile di Asia Tenggara Meningkat
    AppFlyer mengumumkan laporan pertama terkait penipuan iklan di wilayah Asia Pasifik.
    Jakarta: AppsFlyer mengumumkan laporan pertama terkait Ad Fraud atau penipuan iklan di wilayah Asia Pasifik. Pada laporan ini, AppsFlyer menganalisis sebanyak 2,5 miliar instansi yang terdiri dari 8.000 aplikasi di kategori keuangan, e-commerce, travel, utilitas, hiburan, dan game.

    Pada laporan tersebut, pemasar di wilayah Asia Pasifik disebut dibiarkan tanpa perlindungan dan berpotensi untuk mengalami kerugian sebesar USD650 juta (Rp9,1 triliun). Sementara itu, wilayah Asia Tenggara teridentifikasi sebagai target utama penipu.

    “Asia Tenggara adalah target yang menarik bagi penipu, dengan para marketer di kawasan ini memanfaatkan kondisi mobile-first dan pertumbuhan sifat digital populasi di wilayah tersebut untuk mendorong prioritas marketing,” ujar Marketing Director AppsFlyer Asia Pasifik Beverly Chen.

    Wilayah Asia Tenggara memiliki risiko kerugian sebesar USD260 juta (Rp3,6 triliun), merupakan yang tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Di posisi selanjutnya, wilayah dengan target utama kedua dengan risiko tertinggi adalah India, dengan risiko sebesar USD186 juta (Rp2,6 triliun).

    Selain itu, laporan ini juga menyebut bahwa konsumsi internet mobile di wilayah Asia Pasifik diperkirakan melampaui konsumsi televisi. Di wilayah ini, konsumen diprediksi menghabiskan waktu menggunakan internet mobile selama rata-rata 800 jam pada tahun 2019.

    Konsumsi internet tinggi yang digunakan untuk melakukan pembayaran elektronik serta jumlah pengguna yang besar disebut laporan AppsFlyer sebagai alasan wilayah Asia Tenggara sebagai target penipuan iklan utama.

    Laporan ini turut menyebut bahwa penipuan instalasi aplikasi semakin besar di wilayah Asia Pasifik. Tingkat rata-rata penipuan di wilayah ini lebih tinggi 60 persen jika dibandingkan dengan tingkat rata-rata dunia.

    Kerugian akibat penipuan instalasi aplikasi di wilayah Asia Pasifik dilaporkan mencapai USD650 juta (Rp9,1 triliun) dalam kurun waktu enam bulan. Sementara itu, aplikasi keuangan dan e-commerce disebut sebagai aplikasi yang kerap terdampak oleh penipuan ini.

    Aplikasi keuangan hadir sebagai aplikasi dengan target penipuan tertinggi di wilayah Asia Pasifik, yaitu sebesar 48,1 persen. Sedangkan aplikasi e-commerce dan travel sebesar 32,2 persen dan 29,7 persen.

    Sementara itu, metode serangan penipuan disebut umumnya dengan memanfaatkan bot dan pembajakan instalasi. Untuk mengatasi hal ini, sejumlah pihak disebut menggunakan solusi anti-fraud bersifat real-time.

    Pemasar mobile disebut perlu memerhatikan lokasi, vertikal dan bentuk penipuan yang mungkin terjadi, untuk dapat mengoptimalkan hasil lokalisasi kampanye terbaik untuk target audiens mereka.

    Selain itu, laporan ini turut menyebut bahwa perilaku fraud di internet atau aplikasi mengalami perubahan selama beberapa tahun terakhir. Perilaku ini dilakukan pelaku penipuan untuk mengimbangi peningkatan penetrasi mobile dan internet di Asia Tenggara.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id