Memanfaatkan Ledakan Data dengan DBaaS

    Mohammad Mamduh - 23 April 2021 11:09 WIB
    Memanfaatkan Ledakan Data dengan DBaaS
    Fetra Syahbana, Country Manager Indonesia, Nutanix



    Jakarta: Sama seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam penggunaan teknologi di satu tahun terakhir. Ketika perekonomian dan bisnis terus menyesuaikan dengan kondisi bisnis terkini yang disebabkan oleh pandemi, tren teknologi tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melambat.
     
    Di kuartal tiga tahun lalu, Pemerintah Indonesia menerbitkan cetak biru perkembangan kecerdasan buatan periode tahun 2020 dan 2045 sebagai upaya untuk mentransformasi Indonesia dari negara berbasis sumber daya alam menjadi negara berbasis inovasi.

    Pemerintah memiliki pemikiran besar: proyek AI akan difokuskan pada pendidikan dan penelitian, layanan kesehatan, reformasi birokrasi dan ketahanan pangan, serta mobilitas dan kota cerdas.
     
    Peluang bisnis yang muncul dari teknologi-teknologi baru seperti AI sangatlah besar. Inti dari semua hal tersebut adalah ledakan pertumbuhan data. Disaat perusahaan-perusahaan beradaptasi dengan masa depan digital Indonesia, alat yang mereka butuhkan untuk bertahan juga berevolusi.
     
    Peluang data dan tantangan
    Penggunaan teknologi baru telah menciptakan data konsumen yang sangat banyak dan detail, sehingga jika dimanfaatkan dengan benar, akan menjadi aset yang sangat berarti bagi bisnis yang selalu ingin mengikuti perubahan perilaku pelanggan dan permintaan pasar.
     
    Kata kuncinya di sini adalah “jika dimanfaatkan dengan benar.” Akan tetapi, banyak perusahaan masih bergantung pada basis data lama, bahkan ada yang sudah berusia puluhan tahun lalu, yang sudah tidak relevan dengan proses kerja modern.






    Tersedia juga basis data komersial yang mungkin menawarkan fitur-fitur berkinerja dan berketersediaan tinggi, namun sangat mahal dan rumit untuk dioperasikan.
     
    Untuk memanfaatkan nilai dari data mereka, perusahaan harus menyajikan dan menyediakan akses yang cepat, berkinerja bagus dan aman kepada peneliti data, ilmuwan data, pengembang aplikasi dan pelanggan perusahaan terhadap data tersebut.

    Hal ini hampir tidak mungkin dilakukan dengan operasional IT yang tradisional dan ditambah dengan kerumitan dari basis data lama. Sehingga secara drastis mengurangi nilai dari data tersebut terhadap relevansi waktu dan mengurangi produktivitas.
     
    Untuk menjawab masalah ini, semakin banyak perusahaan pindah ke solusi basis data berbasis cloud untuk melengkapi atau menggantikan sistem lama mereka. Bahkan Asia Pacific diharapkan mengalami pertumbuhan permintaan basis data cloud tertinggi di wilayah mana pun mulai dari tahun ini hingga 2025.

    Hal ini didorong oleh pertumbuhan masif data, melalui channels seperti smartphone dan perangkat Internet of Things. Basis data cloud-native juga memiliki tantangannya sendiri seperti integrasi aplikasi, keamanan dan kedaulatan data.

    Untuk mengelola peralihan ke cloud, banyak perusahaan beralih ke strategi hybrid dan multicloud yang memungkinkan mereka bekerja di infrastruktur IT lama, private cloud dan satu atau lebih public cloud.

    Menentukan strategi cloud yang tepat bisa memberikan perusahaan daya saing dalam meningkatkan fleksibilitas, menyederhanakan manajemen IT dan mengoptimalkan biaya. Menurut Indonesia Enterprise Cloud Index 2020 dari Nutanix, 96 persen pengambil keputusan IT mempertimbangkan untuk beralih ke strategi hybrid sebagai model operasi ideal mereka.
     
    Perpindahan ke hybrid dan multicloud mengharuskan perusahaan untuk mengelola beberapa basis data, bahkan basis data yang terisolasi terhadap akses, dan banyak perusahaan belum menemukan solusi manajemen basis data multicloud yang tepat yang bisa menghilangkan duplikasi operasional, sekaligus membuka dan menemukan nilai data mereka.
     
     
    ‘Mengendarai ombak’ data yang sedang tumbuh
    Arsitektur hybrid cloud adalah tempat yang ideal untuk mulai memberikan kemampuan baru dan memodernisasi IT yang sudah ada, namun untuk benar-benar mendapatkan manfaat dari teknologi yang tengah berevolusi dan menjaga keuntungan daya saing, perusahaan harus mengurangi inefisiensi dan memungkinkan skalabilitas cepat. Inilah saat Database-as-a-Service, atau DBaaS dibutuhkan.
     
    DBaaS mengacu pada software dan/atau layanan yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pengaturan, menjalankan dan meningkatkan basis data tanpa harus melakukan pengaturan hardware fisik, menginstal software atau melakukan konfigurasi performa. Semua tugas administrasi dan pemeliharaan dilakukan oleh penyedia layanan.

    Platform DBaaS yang paling canggih juga mengintegrasikan manajemen operasi data dan manajemen duplikat data, sehingga semakin mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan kelincahan.
     
    Kebanyakan perusahaan memiliki basis data multi-vendor yang kompleks, biasanya ada di tempat/on-premises dan di satu atau lebih cloud.

    Memilih solusi DBaaS cloud-agnostic yang mendukung beberapa mesin basis data, bisa menyederhanakan operasional dan memberikan kelincahan dengan menghilangkan keharusan melakukan konfigurasi dan penyesuaian sumber daya secara manual di manapun basis data tersebut dijalankan.
     
    Manajemen basis data yang berevolusi
    Contoh bagus dari desakan untuk menyederhanakan manajemen basis data adalah RBL Bank di India. Bank ini mendapati bahwa aplikasi dan administrator basis data mereka (database administrator/DBA) terus-menerus harus mengejar ketertinggalan dalam pekerjaan pemeliharaan dan permintaan layanan baru.

    Terlebih lagi, DBA secara rutin membuat duplikat basis data yang masing-masing memakan ruang penyimpanan hingga satu terabyte – penambahan biaya IT yang sangat besar, aktivitas berulang-ulang yang tidak efektif serta yang memakan waktu.
     
    Dengan menyederhanakan manajemen basis datanya, tim RBL memiliki kemampuan untuk menyediakan, mengelola, menyegarkan dan menyimpan kembali basis data – basis data mereka dalam satu klik.

    Selain itu, secara signifikan bank bisa menyederhanakan proses back up yang memberikan kemudahan dalam penggunanannya, kecepatan backup yang lebih baik dan efisiensi biaya yang lebih baik.
     
    Yang terpenting adalah, berkat otomasi, skalabilitas dan reliabilitas yang lebih baik, bank bisa lebih baik dalam memanfaatkan peluang bisnis dan merespon kebutuhan nasabah dengan cepat.
     
    Peralihan cepat ke dunia digital dan selular, serta semakin terhubungnya dunia, memberikan peluang yang luar biasa. Saat perusahaan enterprise ingin memanfaatkan peralihan ini, penawaran hybrid dan muticloud dari penyedia seperti Nutanix akan menjadi arsitektur pilihan yang tepat untuk memberikan fleksibilitas, keamanan dan kinerja yang dibutuhkan demi memenuhi kebutuhan bisnis.

    Dengan memanfaatkan DBaaS di cloud, perusahaan bisa membuka kunci mobilitas data, kelincahan dan skalabilitas yang dibutuhkan untuk bertahan dan bertumbuh di iklim bisnis saat ini dan siap menghadapi apapun yang ada di depan.

    (Fetra Syahbana, Country Manager Indonesia, Nutanix)

    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id