Tiongkok Dinilai Sulit Tinggalkan Software Asing

    Lufthi Anggraeni - 09 Desember 2019 22:06 WIB
    Tiongkok Dinilai Sulit Tinggalkan Software Asing
    Perintah penggantian PC dan software asing ke lokal Tiongkok juga menghadapi tantangan.
    Jakarta: Beijing telah memerintahkan seluruh instansi pemerintah dan publik untuk mengganti peralatan komputer dan software asing dalam kurun waktu tiga tahun, berpotensi melengserkan kedudukan HP, Dell dan Microsoft.
     
    Instruksi ini merupakan instruksi pertama yang diketahui publik dengan target spesifik kepada pembeli asal Tiongkok, untuk beralih ke vendor teknologi domestik. Instruksi ini selaras dengan administrasi Trump membatasi penggunaan teknologi asal Tiongkok di Amerika Serikat (AS) dan negara sekutunya.
     
    Peralihan ini merupakan kampanye lebih luas untuk meningkatkan kepercayaan terhadap teknologi buatan dalam negeri, dan berpeluang memicu kekhawatiran decoupling, dengan rantai pasokan antara AS dan Tiongkok terputus.
     
    Analis China Securities memprediksi bahwa komponen 20m-30m akan harus diganti sebagai hasil dari instruksi pemerintah Tiongkok ini, dengan pengganti skala besar mulai awal tahun 2020 mendatang.
     
    Selain itu, analis juga menambahkan bahwa pergantian ini akan berlangsung dengan porsi 30 persen pada tahun 2020, 50 persen pada tahun 2021, dan 20 persen pada tahun berikutnya, sehingga dijuluki sebagai kebijakan 3-5-2.
     
    Analis juga menyebut bahwa perintah ini berasal dari Central Office partai Chinese Communist pada awal tahun 2019. Dokumen kebijakan Central Office ini resmi, pegawai dari dua perusahaan keamanan siber menyebut bahwa klien pemerintah mereka juga telah menggambarkan kebijakan ini.
     
    Kebijakan 3-5-2 ini merupakan bagian dari dorongan untuk instansi pemerintah dan operator infrastruktur penting Tiongkok untuk menggunakan teknologi yang aman dan dapat dikendalikan, seperti yang tertuang pada Cyber Security Law 2017 Tiongkok.
     
    Namun tidak seperti dorongan sebelumnya untuk swasembada dalam teknologi, sanksi AS baru-baru ini semakin menambahkan urgensi terhadap proyek tersebut. Kebijakan 3-5-2 ini bertujuan untuk memberikan ruang besar untuk tipe ancaman yang dihadapi oleh ZTE, Huawei, Megvii, dan Sugon.
     
    Sementara itu, analis Jefferies memperkirakan bahwa perusahaan teknologi AS menghasilkan pendapatan sebanyak USD150 miliar (Rp2.100 triliun) per tahun dari Tiongkok, meski sebagian besar berasal pembeli di sektor privat.
     
    Dikutip dari Financial Times, langkah penggantian ini tergolong ambisius, dan instansi pemerintah telah berniat untuk menggunakan komputer desktop Lenovo, setelah akuisisi Lenovo terhadap divisi komputer personal IBM.
     
    Namun analis menyebut bahwa akan menyulitkan untuk mengganti software dengan alternatif domestik, sebab sebagian besar vendor software mengembangkan produk untuk sistem operasi buatan AS populer seperti Microsoft Windows dan Apple macOS.
     
    Microsoft memproduksi Chinese Government Edition dari Windows 10 di 2017 dengan perusahaan asal Tiongkok, perusahaan keamanan siber Tiongkok kini menyebut klien pemerintah harus beralih seluruhnya ke sistem operasi buatan Tiongkok.
     
    Sistem operasi buatan Tiongkok, seperti Kylin OS, memiliki ekosistem pengembangan yang memproduksi software kompatibel berskala lebih kecil. Mendefinisikan “buatan domestik” juga menantang, meski Lenovo merupakan perusahaan asal Tiongkok yang merakit banyak produk di Tiongkok, namun chip prosesor komputer dibuat oleh Intel dan hard drive oleh Samsung.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id