Harbolnas Jadi Kesempatan Pengembangan Intelligent Retail

    Cahyandaru Kuncorojati - 20 Desember 2020 11:00 WIB
    Harbolnas Jadi Kesempatan Pengembangan Intelligent Retail
    Ilustrasi



    Jakarta: Desember adalah bulannya Hari Belanja Online Nasional atau lebih dikenal dengan nama Harbolnas. Ini adalah aktivitas yang diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat.

    Namun, perubahan yang terjadi sejak pandemi menghadirkan tantangan dan peluang pada saat yang bersamaan bagi pelaku industri ritel. Hal ini didukung oleh besarnya pasar e-commerce global yaitu senilai USD2,3 triliun dan keberadaan konsumen yang selalu terhubung dengan ponsel pintar.

     



    Di Indonesia, sektor e-commerce merupakan salah satu industri penopang ekonomi digital. Total nilai digital ekonomi di Indonesia diperkirakan sebesar USD40 miliar, lebih dari separuhnya berasal dari transaksi di e-commerce.
     
    Bahkan, menurut catatan Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, nilai transaksi e-commerce terus menanjak. Mulai dari peningkatan 152 persen pada tahun 2018 serta 88 persen pada tahun 2019, dan pada semester I-2020 terjadi kenaikan transaksi e-commerce sebanyak dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
     
    Data Ritel Microsoft yang dirilis pada acara Microsoft Cloud Innovation Summit 2020 mengungkap beberapa fakta dan tantangan yang terjadi di industri ritel di dunia dan termasuk di Indonesia saat ini, yaitu:
     
    1. 81 persen pembeli melakukan pencarian online (online research) sebelum melakukan pembelian secara online.

    2. 80 persen dari karyawan di seluruh dunia tergolong dalam pekerja lini pertama (firstline workers).

    3. 50 persen dari perusahaan manufaktur akan memiliki kemampuan untuk melakukan pengiriman langsung kepada konsumen pada akhir 2020.

    4. 50 persen departemen store yang terhubung melalui mal akan tutup dan memfokuskan bisnis mereka pada e-commerce.
     
    Dalam merancang ulang industri ritel menjadi Intelligent Retail, terdapat 5 area penting yang memerlukan perhatian khusus yaitu: efisiensi toko, automasi, dan keamanan; belanja tanpa kontak fisik (contactless shopping); toko fisik yang terintegrasi sebagai bagian dari pusat fulfilment belanja online; pengalaman belanja yang beragam; dan iklan di dalam toko (in-store advertising).  
     
    Dalam proses transformasi digital, penggunaan teknologi yang tepat dan berfokus pada pelanggan seperti teknologi cloud dan kecerdasan buatan menjadi kunci untuk membantu para pelaku ritel memahami perilaku dan preferensi konsumen agar bisnis dapat bertahan bahkan meraih sukses di masa pandemi. Ini yang disebut Intelligent Retail.
     
    Menurut Raj Raguneethan, Regional Business Leader, Retail & Consumer Goods Microsoft Asia,  preferensi konsumen selama masa pandemi menunjukkan peningkatan permintaan terhadap pengalaman belanja online yang bersifat personal (personalized experience) serta last mile delivery, atau pengiriman barang langsung ke rumah. 
     
    “Knowing your customer adalah kunci bisnis Anda. Mengidentifikasi, mengadaptasi, dan melayani kebutuhan pelanggan yang terus berubah memerlukan fokus yang lebih dalam di semua channel bisnis. Menggunakan dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memprediksi analitik dan mengantisipasi kebutuhan pelanggan Anda sangat penting. Dan itulah cara kita bisa mengubah pengalaman pelanggan Anda,” kata Raj.

    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id