Putra Siregar Bikin Kasus Ponsel Ilegal Kembali Ramai

    Cahyandaru Kuncorojati - 28 Juli 2020 19:37 WIB
    Putra Siregar Bikin Kasus Ponsel Ilegal Kembali Ramai
    Putra Siregar, YouTuber sekaligus pebisnis penjualan smartphone PStore. (Instagram)
    Jakarta: Sosok pria bernama Putra Siregar ramai diperbincangkan di media sosial. Dirinya dikabarkan oleh media sosial Kantor Wilayah Bea, dan Cukai DKI Jakarta sebagai pelaku penjualan ponsel ilegal.

    Penelusuran menemukan bahwa Putra Siregar merupakan YouTuber sekaligus pemiliki bisnis penjualan smartphone bernama PS Store. Akun Intsagram @pstore_jakarta sendiri memiliki sebanyak 1,7 juta follower. Toko ini berlokasi dibilangan Condet, Jakarta Timur.

    Di akun Instagram @bckanwiljakarta milik Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyebutkan bahwa pelaku berinsial PS yang belakangan terungakp sebagai Putra Siregar melanggar undang-undang no.17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan alias memasarkan barang ilegal.

    BACA: Pemerintah Uji Coba Pemblokiran IMEI Ponsel Ilegal Hari Ini

    Pihak Kanwil Bea dan Cukai DKI Jakarta melaporkan sudah menyita antara lain 190 handphone bekas berbagai merek. Putra Siregar dikenal kerap menggelar giveaway atau membagikan gratis smartphone jenis iPhone buatan Apple.

    Melihat unggahan di akun Instagram @pstore_jakarta milik bisnis Putra Siregar, iPhone memang menjadi salah satu komoditi utamanya. Tidak main-main artis dan YouTuber seperti Atta Halilintar, Rafi Ahmad, hingga Anya Geraldine pernah bekerja sama dengannya.

    Kasus ini kembali mengungkit maraknya penjualan smartphone ilegal di Indonesia, terutama iPhone. Smartphone buatan Apple ini memang selalu jadi incaran karena harganya jauh lebih murah saat membelinya di luar negeri. Harganya langsung meroket setelah menerima pajak di Indonesia.

    BACA: Beli Smartphonne dari Luar Negeri Lalu Daftar IMEI, Begini Caranya

    Di bulan April lalu, Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenperin Janu Suryanto mengakui selama ini ponsel black market (BM) mengalir deras masuk ke Indonesia. Kondisi ini berpotensi merugikan negara antara Rp2-5 triliun.

    "Potensi kerugian penerimaan negara dari pajak karena peredaran ponsel black market sebesar Rp2,81 triliun per tahun. Selain itu, masyarakat yang menggunakan ponsel black market juga berisiko tidak mendapat layanan service center resmi apabila mengalami kerusakan, keamanan produk juga tidak terjamin," jelasnya.


    (MMI)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id