comscore

PANDI Bakal Daftarkan Aksara Lampung dan Pegon ke BSN

Mohammad Mamduh - 12 Desember 2021 21:17 WIB
PANDI Bakal Daftarkan Aksara Lampung dan Pegon ke BSN
Foto: PANDI
Jakarta: Setelah sukses mengusung Aksara Sunda, Jawa & Bali, selanjutnya Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) berencana mengusung Aksara Lampung & Pegon ke Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Kedua Aksara tersebut dianggap paling potensial dalam penetapan SNI melalui amandemen. Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama dan Pemasaran PANDI mengatakan bahwa nantinya BSN akan membuat amandemen yang akan disepakati bersama dalam pengajuan Aksara Lampung dan Pegon. 
"Nantinya akan digelar kegiatan sekelas Kongres bagi kedua aksara tersebut dalam rangka menyepakati pembakuan," kata Heru. 

Menurut Heru, ada sejumlah Aksara Nusantara yang masih diupayakan agar bisa ditransformasikan ke ranah digital.

Adapun dari hasil kesepakatan dengan para pegiat Aksara Nusantara yaitu Jawa, Sunda, Bali, Pegon, Lampung, Lontaraq, Serang, Batak, Rejang, Kawi, Incung, Lota, Bima, Arab Melayu, Jontal, Buda, dan Palawa. 

"Tiga diantaranya, yakni Jawa, Sunda dan Bali, sudah memperoleh SNI untuk kemudian bisa dibangkitkan kembali pemanfaatannya di masa mendatang. Meskipun beberapa aksara seperti Lontaraq dan Batak sudah tercantum dalam daftar konsorsium Unicode, tetapi masih perlu langkah kesepakatan pembakuan secara Nasional, agar punya peluang untuk tahapan digitalisasi," tambah Heru.

Di sisi lain, Dadan Sutisna yang merupakan Sekretaris Yayasan Budaya Nusantara Digital yang sejauh ini ikut mengamati perkembangan digitalisasi Aksara Nusantara menuturkan jika tidak segera beradaptasi dengan teknologi digital, beberapa Aksara Nusantara berada di ambang kepunahan.

Aksara tersebut pernah hadir di masa lalu, akan tetapi tidak lagi digunakan oleh masyarakat digital dan hanya menjadi artefak.

“Ada beberapa kekeliruan di masyarakat tentang digitalisasi aksara itu sendiri. Misalnya, dengan dapat digunakan untuk mengetik di perangkat lunak pemroses kata, Aksara tersebut dinyatakan sudah memenuhi digitalisasi. Padahal esensi digitalisasi bukan itu, melainkan ada standarnya sehingga dapat diterapkan di semua platform, termasuk bahasa pemrograman,” ungkap Dadan.

Menurut Dadan, hal pertama yang perlu dilakukan menuju digitalisasi Aksara adalah mempersempit kontroversi di antara pemilik aksara tersebut. Jika dalam satu aksara terdapat beberapa varian, maka harus dibakukan, salah satunya melalui hasil musyawarah di antara komunitas. Kesepakatan bentuk Aksara merupakan modal penting untuk mencapai tahap awal digitalisasi.

"Saat ini ada 17 Aksara Nusantara yang berpotensi untuk didigitalisasikan. Beberapa di antaranya sudah memenuhi standar Unicode, misalnya Aksara Batak, Lontaraq dan Rejang. Namun masih memerlukan langkah berikut, yakni tahapan pembakuan pada papan ketik, transliterasi, selain tentunya bentuk fon aksara tersebut pada media digital," tambah Dadan. 

Bagi yang belum masuk dalam daftar di UNICODE, dituntut keseriusan dan kesepakatan dari berbagai pihak, terutama komunitas pegiat aksara, untuk segera didaftarkan. Aksara-aksara tersebut antara lain Pegon, Lampung, Serang, Kawi, Incung, Lota, Bima, Arab Melayu, Jontal, Buda, dan Palawa.

“Bagi Aksara yang berpotensi untuk didigitalitasikan, pendaftaran ke Unicode mesti menjadi prioritas. Unicode merupakan gerbang menuju digitalisasi, karena lama-kelamaan bukti-bukti keberadaan aksara tersebut dapat hilang,” kata Dadan.

(MMI)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id