Brexit akan Berdampak pada Perekrutan Perusahaan Teknologi

    Lufthi Anggraeni - 03 Februari 2020 16:01 WIB
    Brexit akan Berdampak pada Perekrutan Perusahaan Teknologi
    Brexit disebut akan mempersulit pekerja di bidang teknologi untuk mencari kerja di Inggris.
    Jakarta: Perusahaan perekrut bidang teknologi di Inggris tengah mengalami ketidakpastian menyoal tenaga kerja dan imigrasi sebagai akibat dari keputusan Inggris keluar dari keanggotaan dengan negara Eropa lain, atau dikenal sebagai Brexit.
     
    Brexit, yang memulai periode transisi yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun 2020, terjadi saat pengusaha Inggris menghadapi persaingan pasar tenaga kerja yang ketat, terutama untuk pekerja di tanah teknologi.
     
    Sementara itu, sejumlah startup teknologi mengaku mengkhawatirkan menyoal ketidakpastian menyoal visa, izin kerja dan permasalahan lain. Permasalahan ini dinilai akan menyulitkan mereka untuk memperoleh tenaga kerja dengan kemampuan yang memadai.
     
    Hal ini diamini oleh ARM yang menyebut bahwa ketersediaan tenaga kerja dengan kemampuan memadai menjadi salah satu hal penting untuk dapat bersaing di ranah global. Kesulitan dalam memperoleh visa kerja juga akan memperlambat proses pegawai baru perusahaan berkantor di Inggris untuk bergabung.
     
    Salah satu perusahaan teknologi di Inggris, AimBrain Solution menyebut bahwa pencari kerja telah menyuarakan kekhawatiran mereka menyoal tentang Brexit dan rencana kontingensi startup terkait teknologi kecerdasan buatan berbasis di Inggris.
     
    Sebagai informasi, Wall Street Journal menyebut bahwa sebanyak 40 persen pegawai di Inggris mengaku mengalami kesulitan lebih berat untuk mendapatkan pekerjaan selama satu tahun terakhir, sedangkan lima persen lainnya mengaku Brexit tidak menjadi permasalahan bagi mereka.
     
    Selain itu, juga menurut laporan Chartered Institute of Personnel and Development menyebut bahwa ngka pegawai keseluruhan di bidang informasi dan komunikasi Inggris diperkirakan lowongan pekerjaan pada tahun ini mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir, meski masih dalam zona positif.
     
    Dalam surat yang dikirimkan kepada Komite Penasihat Migrasi pemerintah Inggris, Chartered Institute of Personnel and Development juga mendesak pemerintah untuk mengembangkan sistem imigrasi fleksibel sehingga pekerja berkemampuan mumpuni dapat masuk ke Inggris, via program visa sementara yang mendukung seluruh sektor ekonomi.
     
    Sementara itu, pemerintah Inggris telah mengindikasikan bahwa warga negara Uni Eropa masih bisa tinggal dan bekerja di Inggris, meski status legal mereka telah berubah.

    Sedangkan mitra PricewaterhouseCoopers LLP Andrew Gray menyebut bahwa proposal terkini untuk persyaratan imigrasi baru mencantumkan keahlian khusus, sehingga mempermudah pencari kerja di bidang teknologi untuk bekerja di Inggris.


    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id