F5 Networks: Soal 5G, Masih Banyak Hal yang Harus Disiapkan

    Lufthi Anggraeni - 13 Mei 2020 16:49 WIB
    F5 Networks: Soal 5G, Masih Banyak Hal yang Harus Disiapkan
    F5 Networks menilai Indonesia masih perlu mempersiapkan banyak hal sebelum mengimplementasikan 5G.
    Jakarta: F5 Networks menyepakati pernyataan Kementerian Komunikasi dan Informatika bahwa tahun 2020 menjadi tahun implementasi 5G khususnya untuk smartphone, sesuai dengan peta jalan yang diumumkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

    "Meski implementasi 5G akan meningkatkan bandwidth dan konektivitas perangkat, Indonesia masih membutuhkan waktu dan regulasi baru untuk penerapan 5G," ujar Major Account Manager Service Provider F5 Networks Indonesia Tata Ali Taufik.

    Tata juga menilai bahwa Indonesia harus memastikan kesiapan seluruh ekosistem, dari strategi keamanan hingga kesiapan infrastruktur, perekonomian, dan industri komersial dalam negeri. Selain itu, Indonesia juga dinilai Tata harus mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi operator lokal.

    Menyoal kendala yang muncul akibat lambatnya adopsi 5G dan IoT, Tata menyebut bahwa saat ini hanya provider telekomunikasi yang secara aktif mencari solusi implementasi 5G. Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih menanti kesiapan infrastruktur dan keseluruhan ekosistem 5G, sebelum mulai mengimplementasikannya secara internal.

    Namun, menurut Tata, ekosistem jaringan 5G membutuhkan proses yang panjang sebelum dapat diakses oleh semua orang. Sehingga Indonesia harus memiliki regulasi dan infrastruktur yang telah siap digunakan sebagai hal pertama untuk meningkatkan adopsi 5G dan IoT.

    Sayangnya, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan seperti spektrum frekuensi, infrastruktur dan regulasi, serta sinkronisasi antara regulasi pemerintah pusat dan daerah untuk memfasilitasi infrastruktur 5G.

    Perubahan pada etos kerja karena 5G juga disebut Tata bukan hanya babak baru pada konektivitas, namun juga menghadirkan perubahan kultur kerja dan perubahan pada  keahlian, menjadi praktik operasional yang saat ini dijalankan pada lingkungan virtualisasi.

    Sementara itu, transisi ke 5G akan mewajibkan penyedia layanan untuk mengatur kebutuhan bandwidth dan koneksi, serta banyak jaringan 4G tidak dibangun di platform yang dapat menampung pada skala yang dibutuhkan. Karenanya, otomasi diprediksi akan menjadi elemen teknologi terpenting untuk transisi ke 5G.

    Untuk menanggulangi ancaman keamanan siber, Tata juga menyebut bahwa sangat penting bagi badan pembuat regulasi dan pemerintah untuk menciptakan panduan edukasi bagi bisnis tentang cara bersiap menghadapi ancaman tersebut.

    Tata juga menekankan keharusan ketersediaan regulasi yang mewajibkan pembuat perangkat IoT untuk merancang produk dengan keamanan sebagai pertimbangan utama, mengingat semakin banyak perangkat terkoneksi yang dijalankan pada jaringan 5G.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id