Bukan Game, Media Sosial Pemicu Depresi di Remaja

    Cahyandaru Kuncorojati - 17 Juli 2019 19:56 WIB
    Bukan Game, Media Sosial Pemicu Depresi di Remaja
    Ilustrasi. (Tech Advisor)
    Jakarta: Game kerap mendapatkan stigma buruk. Penelitian terbaru mengkaji penyebab peningkatkan depresi di kalangan remaja dan game bukan penyebab utamanya, melainkan hal yang selama ini dianggap biasa saja.

    Media sosial adalah pemicu meningkatnya tingkat depresi di kalangan remaja. Hasil riset ini diperoleh oleh peneliti di lembaga kesehatan CHU Sainte-justine di Quebec, Kanada baru ini merilis hasil riset pada sejumlah remaja untuk mengetahui pemicu depresi di usianya.

    Dalam hasil riset yang dirilis di jurnal JAMA Pediatrics, dikutip dari Fortune, disebutkan bahwa remaja yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial dan menonton televisi lebih mudah depresi.

    Riset ini dilakukan melalui pemantauan pada 3.800 pelajar di Montreal. Dalam sebuah kelas, mereka diajukan pertanyaan mengenai berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, mengakses media sosial dan bermain game.

    Bersama dengan itu mereka juga diajukan pertanyaan mengenai tingkat depresi mereka. Misalnya melalu gejala munculnya perasaan kesepian atau kesedian. Hasilnya diperloeh kesimpulan bahwa satu jam kegiatan akses media sosial sangat berpengaruh terhadap tingkat depresi remaja.

    Hal ini tidak ditemukan, bahkan dinyatakan tidak berkaitan dengan kegiatan bermain game. Namun, perlu digaris bawahi bahwa penelitian ini tidak mencari tahu kaitan depresi dengan adiksi bermain game.

    "Kami menemukan bahwa asosiasi antara media sosial dan depresi di kalangan remaja. Hal ini berangkat dari perbandingan sosial yang lebih tinggi dibanding mereka dan berakibat merendahkan kepercayaan diri, memicu depresi yang terus menumpuk," tulis hasil riset dalam jurnal kesehatan JAMA Pediatrics.

    "Lebih jauh lagi, pengguna media sosial dengan kondisi depresi biasanya terpengaruh dari berapa lama waktu yang dihabiskan mengakses media sosial, tergantung informasi apa yang mereka konsumsi," tulis lebih lanjut.

    Meskipun hasil riset ini dilakukan karena fenomena remaja yang melakukan bunuh diri di luar negeri, peneliti tidak mengaitkan jam yang dihabiskan untuk mengakses media sosial dengan tingkat pemicu aksi bunuh diri. Dilaporkan bahwa tingkat bunuh diri di kalangan remaja tahun ini paling tinggi sejak tahun 2000.



    (MMI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id