comscore

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Cahyandaru Kuncorojati - 17 April 2022 16:11 WIB
Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!
Ghostwire: Tokyo.
Jakarta: Bethesda Softworks lewat studio Tango Gameworks di akhir bulan Maret resmi merilis game Ghostwire: Tokyo. Game ini adalah yang salah satu menarik perhatian pda ajang E3 2019 ketika diumumkan, dan satu panggung dengan Keanu Reeves yang tampil lewat Cyberpunk 2077.

Momen tersebut menurut kami sudah menjadi pertanda bahwa game ini akan bisa sejajar dengan game kategori AAA alias blockbuster. Benar saja, respons penonton saat presentasi Ghostwire: Tokyo berdecak kagum.
Tidak main-main, Shinji Mikami yang memimpin Tango Gameworks adalah sosok di balik lahirnya franchise Resident Evil dan The Evil Within.  Meskipun hadir dengan ukuran file game yang sangat kecil dibandingkan kategori AAA saat ini, hanya 20GB.

Berikut review Ghostwire: Tokyo dari Medcom.id yang menurut kami pantas untuk Anda koleksi dan mainkan.

Genre yang Sudah Memiliki Basis Penggemar
Ghostwire: Tokyo mengusung action adventure dengan konsep open-world dan single-player. Ya, di saat The Witcher 3: Wild Hunt disebut sebagai game single-player tersukses, menurut kami Ghostwire: Tokyo juga bisa mendapatkan status tersebut.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Genre dan elemen yang disajikan Ghostwire: Tokyo adalah menampilkan kengerian sekaligus keunikan urban legend dan hantu alias setan dari budaya lokal Jepang. Hal ini sudah lebih dulu populer lewat film, anime dan manga, bahkan game.

Genre tersebut dan gaya action di Ghostwire: Tokyo, yang akan saja jelaskan lebih detail nanti, menurut saya sangat pas dengan momen ketenaran manga dan anime Jujutsu Kaisen. Di game ini Anda juga akan diajak mengenal sekaligus menumpas hantu atau setan budaya lokal Jepang.

Di sini ada sejumlah sosok mirip slenderman dengan payung hingga pisau, siswa dan siswa SMA tanpa kepala, dan hingga hantu atau setan yang sudah di kenal sejak era kerajaan di Jepang.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Bagi mereka yang awam dengan elemen tersebut, Ghostwire: Tokyo sudah dipoles dengan gaya perkenalan yang ringan dilengkapi katalog setiap urban legend dan hantu. Sekilas saya teringat dengan game DreadOut karya Digital Happiness asal Bandung.

Jadi tidak cuma penggemar budaya Jepang, mereka yang awam juga akan dibuat terhibur lewat elemen atau konten yang kaya tersebut. 

Plot dan Aksi yang Seru, dan Dunia yang Realistis
Ghostwire: Tokyo mengambil lokasi di Shibuya, tempat terpopuler di Jepang sekaligus dunia. Suatu hari keramaian kota ini mendadak sepi setelah semua penduduk yang disapu kabut misterius menghilang dan menyisakan pakaian saja

Tidak cuma kabut, Shibuya diserbu oleh Visitors yaitu hantu dan sejumlah urban legends yang dikendalikan oleh kelompok sekte misterius menggunakan topeng Hannya. Mereka juga memasang barrier sihir di sekitar Shibuya.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Akito, pria yang satu-satunya selamat berkat sosok supranatural bernama KK harus bekerja sama untuk mengungkap dalang dibalik fenomena termasuk menyelamatkan adik perempuan Akita, Mari.

Mari diculik oleh grup ini untuk menjadi host misi misterius Hannya mencapai impian menguasai Jepang. Di sisi lain Akito juga harus menyelamatkan roh penduduk Shibuya yang terperangkap dan mengeluarkan mereka ke luar barrier sihir Hannya.

Pilihan Ghostwire: Tokyo untuk mengadaptasi kota Shibuya juga sangat tepat. Kota dengan seribu papan reklame menyala tersebut terlihat sangat dramatis dengan kondisi cuaca yang kerap hujan dan waktu selalu malam.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Kondisi tersebut digambarkan sebagai efek barrier sihir kelompok Hannya. Tidak hanya itu, setiap sudut mulai dari pemukiman pada penduduk hingga gedung area komersial dan bisnis dibuat sangat mendekati versi aslinya.

Anda pun diajak untuk menjelajahi setiap seluk beluk hingga di atas gedung yang ada di Shibuya. Bagi Anda yang pernah berkunjung ke kota ini atau melihatnya di anime atau manga pasti akan sangat dimanjakan.

Gaya Bertarung Unik tapi Kurang Matang
Ghostwire: Tokyo menawarkan gameplay berupa serangan fisik dan magis. Di serangan fisik bisa mengandalkan melee berupa gerakan tangan untuk mendorong musuh namun tidak memberikan damage berarti.

Anda juga akan mendapatkan sebuah busur panah untuk serangan jarak jauh dengan tingkat damage yang serupa. Efek serangan yang paling ‘sakit’ adalah menggunakan serangan magis.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Serangan kedua yaitu magis berupa tembakan orbs dari gerakan tangan yang terdiri dari tiga elemen yaitu angin, air, dan api. Elemen di sini tidak terpengaruh terhadap jenis musuh melainkan menawarkan perbedaan serangan. Elemen angin menawarkan serangan AoE yang luas sementara Api dengan damage lebih besar.

Namun serangan magis ini ada batasan jumlahnya dengan satuan bernama Ether yang bisa diisi kembali lewat menghancurkan benda melayang di sekitar serta menghisap Core atau inti dari sosok hantu atau dalam bahasa Jepang disebut yokai.

Jadi musuh bisa dihabisi hingga langsung lenyap atau setidaknya hampir mati dengan memperlihatkan Core mereka. Momentum Core terlihat tidak berlangsung lama untuk dihisap pemain, apabila telat maka bisa kembali menyerang dalam kondisi setengah pulih.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Beruntung bagi saya yang kerap meleset serangannya, pihak Tango Gameworks sudah merancang area pertempuran dengan benda melayang tadi yang dihancurkan untuk mendapatkan ether. Pilihan menghisap Core musuh juga bisa mendapatkan Ether sekaligus memulihkan darah Akito dan KK dibandingkan langsung menghabisi musuh.

Di sini juga ada talisman alias jimat untuk mempermudah pertarungan. Jimat untuk memancing musuh, membuat musuh terkena efek stun, membuat sebuah barrier untuk bersembunyi, dan membuat Core musuh mudah terbuka.

Sayangnya Ghostwire: Tokyo dengan konsep open-world tidak menyediakan crafting. Semua consume item harus dibeli dengan mata uang kuno Jepang, Meika, yang tersebar di manapun. Pemain harus membeli di minimarket atau toko yang dijaga sosok kucing Nekomata.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Hal ini juga berlaku untuk busur panah hingga Katashiro, boneka kertas unik budaya Jepang yang digunakan untuk mengumpulkan spirit penduduk Tokyo yang terjebak dan tersebar di seluruh arena. 

Bagi yang menghindari pertempuran di sini disediakan fitur stealth dengan cara merunduk dan menyegel hantu dari belakang. Setiap hantu juga memiliki indikator warna saat mereka curiga atau mendeteksi posisi pemain, mirip dengan Assassin’s Creed maupun Far Cry.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Di sini juga ada efek buff untuk serangan hingga kemampuan bertahan lewat perisai sihir. Buff bisa didapatkan dari consume item dan gelang jimat (beads) yang ditemukan side mission.

Ghostwire: Tokyo juga menyediakan skill tree, namun di sini tidak ada serangan yang sangat unik. Semuanya lebih kepada menyediakan kemampuan tambahan untuk menjelajahi Shibuya dan menambahkan efek serangan tadi, misalnya menambah jumlah kapasitas Ether dan combo serangan hingga consume item.

Gameplay Lama dengan Banyak Interaksi
Gameplay konsep open-world di Ghostwire Tokyo tidak benar-benar baru. Sejumlah area akan dikunci lewat kabut berbahaya yang akan terbuka seiring chapter plot cerita. Di sini akan ada Torii Gate yang setelah dibersihkan dari basis hantu akan ikut membuka interaksi dan side mission di sekitarnya.

Konsep ini pasti sangat akrab bagi penggemar Assassin’s Creed. Di sini ada beragam side mission mulai dari membantu arwah penasaran hingga memecahkan misteri hantu atau yokai. Gameplay ini dikemas lewat cara yang menarik sehingga kita mengenali urban legend dan hantu lokal Jepang.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Side mission juga selalu disajikan lewat misi dari toko atau kedai Nekomata untuk mencari barang kuno atau relik Jepang era lama. Hal yang menarik adalah tidak semu interaksi dilakukan depan arwah tapi juga hewan yaitu anjing Shiba Inu yang bisa berinteraksi.

Hasilnya Anda bisa memperoleh item Magatama sebagai syarat untuk menaikan skill tertentu. Narasi di balik setiap side mission ini yang membuat misi di Ghostwire: Tokyo tidak terasa repetitif.

Interaksi di dalam game ini cukup banyak, mulai dari membuka setiap kotak dan lemari di penjuru kota hingga vending machine untuk membeli consume item. Pemain juga bisa menggunakan lift untuk mencapai lokasi di atas gedung.

Ghostwire: Tokyo, Perkenalan Urban Legend dan Setan Jepang yang Seru!

Tidak hanya itu pemain juga bisa memanfaatkan sosok supranatural Tengu untuk grappling dan menjangkau atas gedung selain parkour lewat memanjat atap hingga AC rumah, dari pada naik ke tangga berputar yang membosankan.

Hal membosankan lainnya adalah saat proses absorb spirit atau roh penduduk kota yang terjebak, prosesi ini memang tidak lama tapi repetitif. Sayangnya proses tersebut justru masuk dalam daftar skill. Desain berupa gerakan tangan untuk menyegel juga sebenarnya interaksi yang tidak terlalu penting.

Kesimpulan
Menurut saya Ghostwire: Tokyo adalah game yang pantas dikoleksi dan mendapatkan penilaian positif meskipun ada sejumlah kekurangan. Satu hal yang mungkin harus disebutkan di bagian akhir adalah game ini tidak begitu mencekam seperti yang dibayangkan.

Kemungkinan karena Ghostwire: Tokyo terlalu berfokus kepada keseruan menjelajahi Shibuya di tengah begitu banyak urban legend dan hantu yang bermunculan sehingga terlalu larut dalam aksi. Hal ini justru membuat rasa ngeri dari suasana dan sosok yang ditemui jadi berkurang.
 
PLATFORM:  PS5, PC
DEVELOPER:  Tango Gameworks
PUBLISHER:  Bethesda Softworks
RILIS:  25 Maret 2022
GENRE:  Action-RPG
 
 
9
Ghostwire: Tokyo
Plus
  • Grafis dan visual sangat memanjakan mata
  • Elemen urban legend dan hantu yang menarik dan populer
  • Aksi dan pertarungan cukup seru
  • Misi tidak repetitif
Minus
  • Skill tree terlalu biasa dan sederhana
  • Tidak ada crafting
  • Atmosfir gameplay kurang mencekam


(MMI)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id