Mahar Gading untuk Gadis Adonara

    Sri Yanti Nainggolan - 16 September 2019 06:18 WIB
    Mahar Gading untuk Gadis Adonara
    Gading gajah dijadikan mahar di Pulau Adonara, Flores. Foto: Medcom.id/Sri Yanti
    Flores Timur: Tiap daerah memiliki budaya perkawinan yang unik. Salah satunya adalah tradisi di Pulau Adonara yang menjadikan gading gajah sebagai mahar.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur Apolonia Corebima mengungkapkan bahwa dirinya mendapat belis (mahar) sebanyak tujuh gading ketika menikah tahun 1995. Namun, ia hanya mendapatkan satu gading.

    "Jumlah gading yang diberikan tergantung strata sosial di masyarakat. Ada suku yang mendapat satu, ada juga yang tiga, lima, atau tujuh. Kalau (suku) Corebima di atas lima (gading)," terang dia kepada Medcom.id, Jumat, 14 September 2019.

    Namun, gading yang diberikan tak harus sesuai dengan angka kesepakatan. Pasalnya, pengakuan dan komitmen adalah inti dari tradisi tersebut.

    "Intinya, saat saya menikah, ditanya secara simbolis. Kalau hanya bisa kasih satu tak apa, bisa dilanjutkan ke keturunan selanjutnya," terang dia.

    Selain membawa gading, pihak pria juga membawa hewan kambing saat upacara adat. Jumlah kambing yang dibawa berdasarkan jumlah gading yang diberikan. Satu gading berarti lima ekor kambing dan berlaku untuk kelipatannya.

    Untuk ukuran, belis pertama umumnya sepanjang 1 repak atau dua tangan direntangkan. Kemudian, belis selanjutnya bisa berukuran lebih kecil. Gading sendiri memiliki ukuran bervariasi, dari 30 cm hingga 2 meter. Harganya pun bervariasi, puluhan hingga ratusan juta.

    Tokoh adat Petrus Raya Buandari dari Desa Kiwang Ona menjelaskan makna gading sebagai mahar. Gading adalah benda yang sulit didapat dan berharga sehingga dianggap sesuai dengan citra perempuan.

    "Kalau uang, filosofinya akan habis. Tetapi gading akan bertahan dan menjadi simbol harga diri wanita. Jadi wanita sebenarnya tak bisa dinilai sebagai uang," terang dia. 

    Di satu sisi, tokoh agama di Flores Timur Romo Thomas Labina dari Keuskupan Larantuka menilai pemberian belis gading adalah upaya menjadikan wanita sebagai seseorang. Dalam konteks sosial dan budaya, ia menilai bahwa wanita cenderung dipandang sebagai sesuatu, bukan seseorang yang berharga.

    "Belis ini untuk menjadikan perempuan sebagai seseorang. Kalau tidak, perempuan merasa dipermainkan," kata dia kepada Medcom.id pada kesempatan yang sama.

    Ia juga berpendapat bahwa filosofi gading yang didatangkan dari jauh, kemungkinan Afrika, ini menandakan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang berharga butuh pengorbanan besar. Pun demikian untuk mendapatkan seorang wanita. 



    (NUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id