kisah

    Mengenal Emilia Nico, Sang Penata Rias Makanan

    Raka Lestari - 24 Februari 2020 15:30 WIB
    Mengenal Emilia Nico, Sang Penata Rias Makanan
    Seperti apa profesi sebagai seorang food stylist? Simak bincang hangat bersama food stylist profesional Emilia Nico. (Foto: Dok. Medcom.id/Dika)
    Jakarta: Pukul delapan pagi. Secangkir plain latte hangat dan satu koper penuh 'perkakas' sudah dipersiapkan. Ada apron, pinset, kuas, tusuk gigi, tisu basah, tisu kering, alas, sampai-sampai dummy alias bentuk makanan dan minuman palsu bisa ada di dalam kotak bawaan 'ajaib'.

    Sungguh pekerjaan yang tak umum, bukan dokter, pilot, ataupun seorang insinyur seperti cita-cita kebanyakan anak-anak zaman dahulu. Tapi pekerjaan ini salah satu yang menyulap keindahan terutama pada makanan atau minuman yang bisa bikin Anda lapar mulai dari mata sampai perut.

    Food stylist atau penata rias makanan. Terdengar asing? Mungkin belum setenar pekerjaan sebagai artis atau penyanyi, tapi penggelutnya merasa terus bahagia.

    Adalah Emilia Nico, perempuan cantik yang merupakan salah satu food stylist langganan Starbucks, CFC, J.co, Eatlah, Fore, Delicious, Burger King, Wee Nam Kee, Ah Ma Recipe (dari Hong Kong) dan sederet brand terkenal lainnya yang telah memakai jasanya.

    Setiap hari adalah bahagia, katanya. "Enggak ada orang yang enggak bahagia kalau lagi ngomongin makanan atau minuman...," buka Emi sapaan akrabnya pada tim Medcom.id di kantor Metro TV. So, bagaimana kisah perempuan cantik kelahiran 14 November 1979 ini?

    Mengenal Emilia Nico, Sang Penata Rias Makanan
    (Emilia mengakui melakukan pekerjaannya dengan happy sebagai seorang food stylist. Foto: Dok. Instagram Emilia/@emilia_foodstylist)

    Cerita jadi seorang food stylist

    Binar matanya terlihat ketika ia menceritakan kecintaannya pada dunia food stylist. Ia menceritakan bahwa ia mulai terjun sebagai seorang food stylist sejak tahun 2009 lalu.

    “Dulu aku punya teman yang suka foto, kebetulan dia sedang dapat project foto dan kemudian mengajak aku. Dia bilang kalau aku pasti bisa karena kebetulan aku memang suka menata barang-barang, termasuk kamar dia pun aku sering tata,” kenang Emi.

    Walau ragu, namun ternyata dari project pertama bersama temannya tersebut bisa mengantarkannya menjadi seorang food stylist sampai sekarang. Sebelumnya, Emi juga bercerita bahwa ia pernah bekerja juga sebagai tim foto dan kemudian sempat bekerja di Tabloid Bintang.

    Merasa kurang cocok menjadi karyawan

    Setelah beberapa tahun menjalani berbagai pekerjaan, Emi pun merasa bahwa ia kurang cocok bekerja kantoran. Hal tersebut pun menjadi keraguan tersendiri bagi kedua orang tua Emi.

    “Waktu awal mau berhenti dan mau menjadi food stylist orang tua aku tidak langsung membolehkan begitu saja. Mereka bilang mau bekerja jadi apa? Gaji kamu sudah lumayan kenapa mau berhenti? Mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada saya,” tawa kecil Emi sambil bercerita.

    Mengenal Emilia Nico, Sang Penata Rias Makanan
    (Emilia saat melakukan pekerjaannya sebagai food stylist. Foto: Dok. Instagram Emilia/@emilia_foodstylist)

    Namun tekad Emi untuk berhenti bekerja kantoran sudah bulat dan orang tua Emi pun akhirnya memperbolehkan Emi untuk melakukan hal yang menjadi passion bagi Emi tersebut.

    “Pada saat berhenti bekerja, orang tua akhirnya memperbolehkan dengan catatan risiko ditanggung sendiri. Merasa struggle juga di awal karena kan orang belum tahu siapa saya.”

    Emi bahkan mengakui bahwa pada awalnya, ia bahkan masih belum tahu bahwa pekerjaan yang ia lakukan merupakan pekerjaan seorang food stylist karena pada saat ia memulai pekerjaannya tersebut, pekerjaan sebagai food stylist masih belum terkenal seperti sekarang.

    "Malah aku tidak tahu kalau itu tuh food stylist. Aku tidak tahu itu jenis pekerjaan apa. Aku mikirnya itu part dari fotografi, hanya bantu-bantu teman saja. Aku sampai bertahun-tahun tidak tahu pekerjaan aku namanya apa," tawa Emi.

    "Pokoknya menghasilkan uang, ya aku jalanin. Buat aku waktu itu lumayan dibanding kantoran. Kalau kantoran kan aku dapat uangnya bulanan, kalau ini kan per project."

    Attitude lebih penting dibanding skill yang dimiliki

    Dalam menekuni pekerjaan sebagai food stylist ini, Emi mengaku bahwa ia memelajari semuanya secara otodidak. Dan seiring jam terbang yang sudah meningkat, Emi bisa dengan mudah mengetahui komposisi yang cocok dalam melakukan food styling seperti apa.

    “Saya merasa bersyukur kepada Tuhan bahwa saya memiliki bakat di bidang seni. Saya tahu komposisi yang tidak enak tuh yang seperti apa. Dan memang makin ke sini saya sudah bisa menjelaskan yang bagusnya itu seperti apa," ujar pemilik akun Instagram emilia_foodstylist ini.

    "Ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa saya describe, kayak misalnya ketika sedang menaburkan biji kopi. Saya bisa tahu biji kopi yang harus dihilangkan tuh yang mana karena tidak enak dilihat,” ujar wanita lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara ini.

    Dan menurut Emi sendiri, untuk melakukan pekerjaan ini attitude merupakan hal yang paling penting.

    “Menurut aku yang paling penting itu attitude harus bagus. Skill itu bisa dipelajari, semua teknik yang saya lakukan itu semua orang bisa mengikutinya. Kenapa saya bilang attitude paling penting karena ketika di tempat kerja, dapat klien yang tidak menyenangkan berarti kan enggak mungkin kita kasih muka jutek ke klien,” pesan Emi.

    Mengenal Emilia Nico, Sang Penata Rias Makanan
    (Ada tangan-tangan terampil seperti food stylist yang menyulap makanan dan minuman menjadi karya seni indah. Foto: Dok. Instagram Emilia/@emilia_foodstylist)

    Suka duka menjadi food stylist

    Selama 11 tahun menjadi food stylist, menurut Emi semua project yang pernah ia miliki ada tantangannya masing-masing. Akan tetapi karena ia melakukannya dengan passion maka semua tantangan tersebut tetap bisa membuatnya merasa senang.

    “Pekerjaan ini sangat menyenangkan, suasanya kerjanyapun tidak membuat stres buat aku. Ngomongin kuliner tuh sangat menyenangkan buat aku,” Emi melemparkan senyuman. Ia menambahkan enggak ada orang yang enggak suka kalau ngomongin makanan.

    Ia menambahkan, "kadang-kadang kita sering banget ngomongin kamu udah coba belum makanan ini yang lagi hits, minuman itu yang lagi antre banget, dan lain-lain. Everybody is happy talking soal makanan atau minuman."

    Emi pun menceritakan salah satu cerita yang mungkin tidak bisa terlupakan sebagai food stylist. “Ada kita pernah foto sampai berhari-hari, bahkan sampai lembur mengerjakannya tetapi ternyata restorannya tidak jadi buka. Meskipun pada saat itu tetap dibayar, tetapi kan ada perasaan gimana gitu ya kenapa hasil kerjaan saya tidak dipakai?”

    Meskipun begitu, Emi tetap senang dengan pekerjaan yang dipilihnya tersebut apalagi jika hasil pekerjaannya tersebut bisa dilihat oleh banyak orang.

    “Aku sih merasa happy aja, dan tidak merasa insecure atau bagaimana karena menurut aku seni itu kan subjektif. Jadi kembali lagi ke selera klien, ada klien yang cocok sama saya tetapi ada juga klien yang tidak cocok sama saya. Tidak merasa terbebani apapun dan senang-senang saja.”

    Mengenal Emilia Nico, Sang Penata Rias Makanan
    (Persiapan mental adalah rahasia terbesar bagi pekerja food stylist. Karena mental dan attitude yang dapat saling bekerja sama dengan baik yang akan bertahan. Foto: Dok. Medcom.id/Dika)

    Tips menekuni dunia food styling

    Sebagai salah seorang food stylist yang sudah cukup terkenal, Emi mengaku jadwalnya setiap hari memang selalu padat.

    “Hampir full setiap hari kecuali Sabtu- Minggu karena itu waktu aku buat keluarga. Justru pekerjaan ini tuh permintaannya cukup tinggi tetapi pekerjanya masih kurang,” tutur wanita yang ramah ini.

    “Dan bagi yang ingin mencoba menekuni dunia food stylist ini menurut aku lebih ke mental sih. Kalau masalah properti, itu bisa dibeli di mana saja dengan mudah. Untuk skill juga bisa dicari di YouTube. Beda dengan aku 11 tahun lalu, tidak tahu mau cari di mana. Semuanya menurut otak dan pemikiran aku saja,” ujar Emi sambil tertawa.

    “Kalau aku bilang mental juga harus dipersiapkan, bisa tidak menghadapi pressure? Jangan sampai mudah ngambek atau marah karena klien pasti banyak permintaan, misalnya minta ini itu, minta ketemu di sini, dan lain sebagainya. Harus juga memiliki komunikasi yang baik, attitude juga harus baik, karena itu yang paling penting sih menurut saya,” tutup Emi.



    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id