Natuna Usai Observasi WNI dari Wuhan

    K. Yudha Wirakusuma - 19 Februari 2020 12:19 WIB
    Natuna Usai Observasi WNI dari Wuhan
    Pemandangan wisata Batu Sindu di kawasan Tanjung Senubing, Bunguran Timur, Natuna, Kepulauan Riau, Minggu (16/2/2020) (Ilustrasi/Antara/Muhammad Adimaja)
    Batam: Lebih dari dua pekan yang lalu, awal Februari 2020, warga Natuna berkumpul di sekitar Gedung DPRD, menolak daerahnya dijadikan lokasi observasi bagi WNI yang baru pulang Tiongkok. Para WNI yang kebanyakan pelajar itu terpaksa dipulangkan dari Wuhan, Provinsi Hubei, agar terhindar dari penularan COVID-19.

    Seperti dilansir dari Antara, pemerintah pun menetapkan Natuna sebagai lokasi observasi selama 14 hari, sebelum mereka dikembalikan ke daerah asal masing-masing. Kala itu, banyak informasi simpang siur beredar.

    Media sosial dipenuhi berita bohong dan disinformasi terkait COVID-19, membuat masyarakat Natuna cemas. Tidak heran, gelombang penolakan atas pemulangan WNI dari Wuhan itu semakin kuat.

    "Bagaimana tidak panik, berita yang beredar, virus itu amat berbahaya. Meski dibilang WNI dari Wuhan sehat, tapi gambar yang beredar, petugasnya pakai baju pengaman yang ketat. Kalau sehat, kenapa petugasnya begitu," kata Lia, warga Kota Tua Penagi, kampung yang berjarak sekitar 2 Km dari lokasi observasi di Hanggar Lanud Raden Sadjad, Ranai.

    Akibat kekhawatiran itu, warga berbondong-bondong meninggalkan Kota Tua Penagi. Ketua RT01 di Penagi, Supriadi menyatakan setidaknya 29 KK sempat mengungsi, kala itu. Kemudian, semua pihak turun tangan.

    Media massa, pegiat media sosial, pemerintah bahu-membahu meluruskan kabar yang beredar. Mereka menegaskan, WNI dari Wuhan sehat, observasi dibutuhkan untuk memenuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh PBB. Hanya butuh waktu kurang dari 5 hari bagi pemerintah untuk meyakinkan masyarakat.

    Mereka yang mengungsi itu kemudian pulang ke rumah masing-masing. Warga Natuna, yang memang memiliki sifat hangat pun semakin terbuka dengan kehadiran WNI dari Wuhan di daerahnya.

    Apalagi, selama keberadaan WNI dari Wuhan, perhatian pemerintah untuk warga setempat semakin besar. Pemerintah bersama TNI dan Polri membangun sejumlah posko kesehatan, masyarakat bisa berobat dan mendapatkan berbagai penjelasan agar bisa hidup sehat. Sejumlah menteri datang untuk menjenguk WNI dari Wuhan, sekaligus bersilaturahmi dengan masyarakat setempat.

    Pejabat yang datang, antara lain Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Efendi, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Menko Polhukam Mahfud MD. Bupati, Abdul Hamid Rizal dan Wakil Bupati Ngesti Yuni Suprapti, yang awalnya turut menolak kehadiran WNI dari Wuhan di daerahnya, kini merasa bangga daerahnya dipilih sebagai lokasi observasi kesehatan.

    Nama Natuna, yang selama berpuluh tahun kurang dikenal, menjadi populer. Wilayah Natuna yang dalam peta Indonesia hadir melalui insert kecil, kini menjadi wajah utama yang disorot pemerintah. Kini, siapa yang tidak kenal Natuna, kepulauan cantik di utara Indonesia, berbatasan dengan tujuh negara tetangga.

    Natuna kini

    Selama WNI dari Wuhan diobservasi, banyak pejabat dan petugas dari ibu kota Jakarta datang. Mereka bekerja memastikan seluruh warga yang menjalani observasi dan masyarakat Natuna sendiri dalam kondisi sehat dan tenang. Tidak heran, apabila hotel-hotel di daerah itu kemudian disesaki oleh petugas dari luar kota.

    Jadwal penerbangan ke Natuna pun selalu penuh. Selama 14 hari masa observasi, mereka bekerja. Masyarakat Natuna pun membatasi diri untuk berkegiatan di luar rumah. Sehingga kala itu, Natuna relatif sepi.

    Tapi menjelang masa observasi usai, Natuna berubah. Jumat dan Sabtu, 14 Februari 2020, kafe-kafe, kedai kopi dan rumah makan di Natuna dipadati warga yang ingin menikmati akhir pekan.

    Sebagai daerah relatif kecil, jumlah kafe dan kedai kopi di Natuna relatif banyak, dan tersebar dari bibir Pantai Piwang, hingga ke tengah kota. Tidak kalah dengan kota besar, tempat nongkrong itu juga menyuguhkan hiburan musik hidup. Malam itu, anak-anak muda berkumpul, bersenda gurau bahagia. Lupa dengan kekhawatiran yang menghantui selama dua pekan terakhir.

    Esoknya, Minggu, 16 Februari 2020, pantai-pantai di Natuna yang berpasir putih dan berbatu-batu besar dikunjungi turis lokal dadakan. Para petugas yang selama ini berkutat dengan WNI dari Wuhan memutuskan menghabiskan waktu untuk berlibur di sana.

    Petugas dari Dinas Pariwisata setempat pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memamerkan potensi wisata. Berharap para petugas dari ibu kota menikmati waktu berlibur di Natuna, dan kembali ke sana dengan membawa saudara dan kerabat.

    Persis seperti undangan Bupati Natuna, Abdul Hamid Rizal, agar WNI dari Wuhan dan seluruh tamu yang datang, untuk kembali ke Natuna, dalam rangka berlibur.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id