Dampak Pemberian Insentif Pariwisata

    Sunnaholomi Halakrispen - 14 Februari 2020 13:08 WIB
    Dampak Pemberian Insentif Pariwisata
    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai Rakor Antisipasi Dampak Virus Corona di Gedung Kemenparekraf RI, Jakarta Pusat. (Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
    Jakarta: Pemerintah dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengatur insentif untuk pariwisata Indonesia. Tujuannya, agar dapat mengatasi masalah jumlah wisatawan yang datang terkait penyebaran novel coronavirus covid-19 di sejumlah negara.

    "Penerbangan bisa survival, hotel bisa survival, dan akhirnya kesempatan tidak bekerja itu tidak terjadi. Kan kita dengar tadi yang di Tiongkok, mereka kan merumahkan. Nah harapan kita, itu tidak terjadi," ujar Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, di Gedung Kemenparekraf, Jakarta Pusat.

    Ia menjelaskan bahwa Presiden Jokowi telah memberikan pengarahan dengan jelas. Dampaknya, nantinya akan memberikan kemudahan untuk berbagai pihak.

    "Memberikan tarif-tarif yang lebih murah ke tiga destinasi yang banyak wisatawan Tiongkok-nya yakni Bali, Manado, dan Kepulauan Riau. Kemudian, menganjurkan hotel juga memberikan tarif-tarif yang lebih baik," paparnya.

    Dampak lain dari insentif tersebut ialah upaya meramaikan daerah-daerah yang terdampak insentif pariwisata. Sebab, kementerian terkait ditugaskan untuk mengupayakan mengemas kegiatan-kegiatan di tempat tujuan destinasi pariwisata.

    Budi Karya memaparkan, gambaran insentif dari pemerintah dimisalkan mengenai aircraft. Aircraft yang harus membayar PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), akan dikurangi. Kemudian, pemangkasan tarif mendarat atau landing fee.

    "Lalu, dari AP1, AP2, landing fee-nya dikurangi, sewa ruangannya mungkin ada diskon. Jadi ya sama-sama. Enggak mungkin kita lakukan sendiri. Jadi pemerintah, operator bandara, maskapai hotel, harus sama-sama memberikan insentif," jelasnya.

    Selanjutnya, kata Menhub, terdapat pengurangan frekuensi penerbangan dari ke Tiongkok, yakni sebesar 30 persen. Maka demikian, akan ada pengalihan penerbangan ke Asia Selatan, seperti Pakistan, Bangladesh, dan lainnya.

    "Saya minta kepada Garuda, kepada Batik, Lion, kepada Air Asia, sebagainya, untuk mencari konektivitas ke Asia Selatan," ucapnya.

    Sementara banyak orang yang ingin berlibur, ia yakin bahwa domestik Indonesia kuat. Selain mengundang wisatawan mancanegara dari sejumlah negara Asia, potensi turis domestik juga dinilai kuat.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id