Cerita Kopi dari Mirza Luqman

    Raka Lestari - 17 September 2019 16:21 WIB
    Cerita Kopi dari Mirza Luqman
    Berangkat dari keluarga pencinta kopi, Mirza Luqman kini menduduki posisi tinggi di kedai kopi asal Amerika Serikat (Foto: Raka/Medcom.id)
    Jakarta: Membicarakan kopi selalu jadi perbincangan hangat. Bahkan tak jarang, kopi selain menjadi inspirasi juga menjadi salah satu mata pencahariaan seseorang.

    Tak terkecuali dengan apa yang dialami Mirza Luqman Effendy. Di mana kehidupannya sangat terpengaruh pada kopi.

    Sosok Mirza sudah tak asing lagi. Terutama bagi para pencinta kopi di Indonesia. Ia sudah memiliki jam terbang yang tinggi di dunia kopi.

    Berangkat dari keluarga pencinta kopi, menjadi barista, hingga kini Mirza telah menjadi senior manajer di salah satu gerai kopi asal Amerika Serikat, Starbucks. Simak cerita dari seorang 'Tuan Kopi' asli Indonesia ini saat diwawancarai Medcom.id.

    Keluarga pencinta kopi

    Mirza mengaku pada awalnya suka kopi karena keluarganya. Pria kelahiran 27 Mei 1980 ini bercerita kalau sang kakek-lah yang menyebar 'virus' kopi di keluarganya.

    Sang kakek bukan hanya mengonsumsi kopi, melainkan menanam, memetik, hingga meracik kopi itu sendiri untuk dinikmati.

    "Kakek saya itu kebetulan suka sekali dengan kopi, bahkan ia sampai memiliki kebun kecil di pekarangan rumah untuk konsumsi kopinya tersebut," ujar Mirza memulai cerita.

    "Nah kebiasaan kakek saya tersebut, menurun ke bapak saya. Dan karena bapak saya setiap hari ngopi, akhirnya saya lama-lama juga mencoba minum kopi," tuturnya.

    Mirza yang saat itu masih kecil tergiur untuk mencicipi kopi. Ia melakukannya secara diam-diam, lantaran orang tua tak menganjurkan terlalu banyak menyeruput kopi.

    Singkat cerita ketika Mirza berkuliah di Bandung, minum kopi menjadi sebuah rutinitas baginya. Meski yang ia minum hanya kopi sachet-an.

    "Saat itu kebetulan saya kuliah di Bandung dan karena nge-kos, jadi butuh kopi. Meski kopi yang saya konsumsi saat itu masih kopi instan dan berbentuk sachet saja," jelas Mirza.

    Semakin kepo tentang Kopi

    Setelah lulus kuliah pada 2001, rasa penasaran Mirza terhadap dunia kopi semakin bertambah. Tak ayal, ia mulai serius untuk menekuni minuman yang telah mendarah daging di keluarganya itu.

    "Pada 2001, ketika saya baru lulus kuliah itu mulai ada beberapa kedai kopi yang kalau di Bandung itu sudah mulai ada nama lah. Dari situ mulai makin penasaran sama kopi," cerita Mirza.

    Dua tahun berselang, Mirza mulai bekerja sebagai bartender selama satu tahun. Setelah setahun sebagai bartender, ia tertarik untuk menjadi seorang barista.

    "Akhirnya saya memilih untuk menjadi barista pada 2003. Saya waktu itu menjadi barista di Starbucks Indonesia. Nah, di sana juga saya merasa takjub karena ternyata kopi di Starbucks ini berbeda dengan kopi yang biasa saya minum. Waktu itu saya mencoba kopi Kenya dan kopi Sumatera," terang pria lulusan Sekolah TInggi Pariwisata Bandung itu.

    Mirza kemudian lebih dalam lagi menggeluti dunia kopi, hingga pada 2011 ia mengikuti sertifikasi Q Grader atau pencicip kopi profesional yang diakreditasi oleh Coffee Quality Institute (CQI). Tak hanya itu, ia kerap menjadi juri dalam kompetisi yang berhubungan dengan kopi.

    "Sampai sekarang, kopi itu bisa dijadikan soulmate buat saya," candanya.

    Semua untuk puaskan pelanggan

    Sebagai barista yang mengolah dan menyajikan kopi ke pelanggan, Mirza tak punya referensi tersendiri kopi mana yang menurutnya terbaik di lidah konsumen. Sebab, itu berkaitan dengan selera yang pastinya berhubungan dengan pelanggan.

    Tentunya lidah orang pasti berbeda. Tapi bagi Mirza, setiap cangkir kopi itu memiliki nilai yang lebih ke personal masing-masing.

    "Setiap orang pasti memiliki personal preference tersendiri dalam meminum kopi," terang Mirza.

    Cerita Kopi dari Mirza Luqman
    Setiap pelanggan punya cinta tersendiri terhadap kopi. (Foto: Raka/Medcom.id)

    Prioritas Mirza demi bisa memuaskan pelanggan melalui rasa. Beruntungnya, di gerai kopi yang ia geluti itu ada banyak varian rasa. Sebab setiap orang punya cinta di kopi.

    "Kami tidak menjual kopi hanya dari rasa original-nya, tetapi juga menjual kopi dari kategori roasting-nya. Ada dari blonde roast, medium roast, dan dark roast. Jadi siapapun itu memiliki kesukaan sendiri terhadap kopi," lanjutnya.

    Potensi kopi di Indonesia

    Menurut kacamata Mirza, saat ini perkembangan potensi kopi di Indonesia sudah semakin baik. Hal ini terlihat dengan banyaknya daerah-daerah baru yang menjadi penghasil kopi. Mulai dari Bogor, Sukabumi, bahkan sampai ke Papua.

    "Seluruh daerah di Indonesia bisa ditumbuhi kopi asal ketinggiannya di atas 1000 mdpl untuk arabika. sedangkan 600-1000 mdpl untuk robusta," tutur Mirza.

    Meskipun memang potensi terbesar masih di Sumatera dan daerah lainnya. Seperti Aceh, Sumatera Utara, Toraja, atau Papua yang memang potensinya cukup besar, karena memang alamnya sangat bagus dan budayanya.


    "Di Papua menanam kopi bukan untuk komersil, melainkan meneruskan upaya dari leluhur mereka"


    "Mereka itu menanam kopi bukan untuk komersil, memang dari leluhur mereka sudah menanam kopi. Di Papua bahkan terkenal kopinya yang organik. Jadi tanaman kopinya tidak perlu dirawat, saking sudah subur banget tanahnya," tutur Mirza.

    Beberapa jenis kopi asal Papua yang terkenal menurut Mirza di antaranya adalah Papua Wamena dan Yahukimo. Namun memang yang lebih terkenal adalah Papua Wamena.

    Meski begitu, secara jujur Mirza lebih memilih Kopi Toraja sebagai andalannya. Dia menganggap Toraja punya ciri khas berbeda dengan kopi lainnya yang pernah ia racik.

    "Dulu mayoritas kopi itu dikenal dari Sumatera seperti Kopi Medan, Aceh Gayo, dan Toraja. Baru lima tahun belakangan ini ada banyak jenis-jenis kopi dari daerah lain," ungkap Mirza.

    "Di samping sejarah yang kental, Kopi Toraja juga memiliki keunikan rasa buah yang berbeda. Makanya kalau saya ketemu Kopi Toraja itu rasanya senang sekali," terangnya.

    Kopi sachet di mata mirza

    Dewasa ini, banyak orang yang menganggap bahwa kopi sachet memiliki 'kasta' yang lebih rendah dibandingkan kopi bubuk atau kopi hitam. Namun Mirza tak beranggapan demikian.

    "Menurut saya, itu mungkin karena gengsi kali ya. Kalau melihatnya dari gengsi mungkin iya. Tapi sebetulnya saya sih tidak pernah mengklaim mana yang baik mana yang tidak, karena jujur kalau ditanya kopi yang enak itu yang seperti apa, ya yang menurut lidah kita enak," terangnya.

    "Kalau berbicara kopi, sebetulnya it's a product, minuman kan? Yang penting base-nya kopi. Misalnya, orang yang minum kopi pakai gula itu bukan pencinta kopi dan yang minum kopi tidak pakai gula itu bukan pencinta kopi. Enggak seperti itu," jelas Mirza.

    Bagaimanapun, Mirza mengartikannya tak lebih dari sebuah pengalaman. Mau kopi yang seperti apa, tergantung dari masing-masing dari kita yang menikmati kopi tersebut.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id