Penyakit Hepatitis di Indonesia

    Yatin Suleha, Kumara Anggita - 03 Agustus 2020 11:00 WIB
    Penyakit Hepatitis di Indonesia
    Penderita hepatitis akan mengalami perjalanan dari hati sehat, hepatitis akut, hepatitis kronik, kemudian sirosis hati. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Walaupun isu covid-19 belum terselesaikan, kita tak boleh lupa dengan penyakit hepatitis yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan pada Hari Hepatitis Sedunia lalu memaparkan tentang hepatitis di Indonesia.

    Apa itu hepatitis? Dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung menjelaskan bahwa hepatitis adalah proses peradangan sel-sel hati, yang bisa disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit) obat-obatan, konsumsi alkohol, lemak yang berlebihan, penyakit autoimmune. 

    Menurutnya virus hepatitis merupakan penyebab yang terbanyak. Hepatitis virus terdiri dari:
    - Hepatitis A
    - Hepatitis B 
    - Hepatitis C 
    - Hepatitis D 
    - Hepatitis E

    Berdasarkan cara penularan, ada dua kelompok virus hepatitis antara lain:

    Virus yang ditularkan secara fekal – oral

    Virus Hepatitis A
    Virus Hepatitis E

    Virus yang ditularkan secara parenteral

    Virus Hepatitis B
    Virus Hepatitis C
    Virus Hepatitis D

    Penyakit Hepatitis di Indonesia
    (Sebanyak 9 dari 10 pengidap tidak menyadari dirinya memiliki hepatitis B bahkan C. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

    Hepatitis di Indonesia

    Di dunia ada sekitar 2 milyar orang yang terkena hepatitis. Dan Indonesia termasuk darerah endemis sedang-tinggi. Ia menjelaskan bahwa sejauh ini vaksinasi telah menurunkan prevalensi Hepatitis B. Namun ini tetap tidaklah cukup.

    Menurut data Riskesdas 2013, prevalensi hepatitis B sejumlah 7,1 persen. Ada sekitar 18 juta penduduk terinfeksi hepatitis B. Dan sebanyak 9 juta dari mereka bahkan berkembang menjadi kronis (50 persen) dan 900.000 berlanjut menjadi sirosis dan kanker hati.

    Untuk itu usaha harus ditingkatkan lagi dengan melakukan percepatan program seperti deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil, deteksi dini hepatitis C pada populasi berisiko, peningkatan pelayanan hepatitis C ke berbagai provinsi, dan penguatan sistem pencatatan dan pelaporan.

    Penderita hepatitis banyak yang tak menyadari

    Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia DR. dr. Irsan Hasan. Sp. PD-KGEH.FINASIM mengatakan bahwa 9 dari 10 pengidap tidak menyadari dirinya memiliki hepatitis B bahkan C. 

    "Dan 1 dari 4 pengidap akan meninggal karena kanker atau gagal hati, sehingga kita katakan hepatitis ini silent killer," kata DR. Irsan.

    Penderita hepatitis, imbuh Irsan akan mengalami perjalanan dari hati sehat, hepatitis akut, hepatitis kronik, kemudian sirosis hati dengan progres sekitar 1/3 penderita hepatitis akan mengalami sirosis.

    Dari sirosis 10-15 persen akan menjadi kanker, 23 persen dalam 5 tahun pengidap sirosis akan mengalami gagal hati yang berujung pada kematian.

    Kendati memiliki ancaman kematian yang tinggi, hepatitis bisa dicegah dan diobati

    Pada Hepatitis B pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor risiko serta memberikan kekebalan dengan imunisasi aktif dan pasif. 

    Untuk pengobatan hepatitis B dilakukan dengan pemberian vaksin dalam jangka waktu seumur hidup. Targetnya untuk menghambat progresi virus sehingga fungsi hati semakin membaik. 

    Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/322/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis B.

    "Hepatitis B harus diberikan terapi dalam jangka waktu panjang, kalau mengalami sirosis obat harus diberikan seumur hidup, kalau tidak sirosis obat diberikan sampai target tertentu," terangnya.

    Sementara pada Hepatitis C, pencegahan dengan membudayakan gaya hidup bersih dan sehat serta menghindari faktor risiko. Pengobatan dilakukan dengan pemberian Direct Acting Antivirus (DAA) dengan target sampai sembuh. 

    Pengobatan jenis ini dinilai sebagai terapi yang sangat ideal karena memiliki tingkat kesembuhan sangat tinggi, obat kombinasi oral, efek samping rendah, durasi pengobatan singkat, lebih murah, SVR tinggi dan tersedia. Meski ideal, banyak penderita hepatitis C yang tidak terdeteksi sehingga sangat sedikit yang diobati.

    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id