Tujuh Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Anak-anak

    Kumara Anggita - 27 Februari 2020 16:02 WIB
    Tujuh Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Anak-anak
    Menangis menjadi salah satu tanda anak merasakan gangguan saluran pencernaan. (Foto: Ilustrasi Pexels)
    Jakarta: Gangguan pencernaan adalah salah satu keluhan yang sering dirasakan anak-anak. Hal ini membuat anak-anak rewel, karena mereka pun masih terbatas mengomunikasikan apa yang sedang dirasakan

    Karena itu, para orang tua harusnya lebih mengenali gangguan-gangguan apa saja yang kerap kali menganggu mereka. Anda jadi tahu langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

    Menurut dr. Frieda Handayani K., Sp. A (K), saluran cerna adalah organ kompleks yang dibangun oleh 40 persen jaringan limfoid atau gut associated lymphthoid tissue (GALT). Saluran ini bisa menghasilkan 80 persen antibodi dan ratusan juta sel saraf. Di sana ada miliaran mikrobiota yang hidup.

    Hal ini membuat saluran cerna memiliki peranan penting pada sistem pertahanan tubuh. Sehingga mampu mencerna dan menyerap makanan, motilitas, fungsi imun, dan keseimbangan mikrobiota yang sesuai.

    Tujuh Gangguan Pencernaan yang Sering Dialami Anak-anak
    Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenteropologi Hepatilogi Anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya, dr. Frieda Handayani K., Sp. A (K). (Foto: Kumara/Medcom.id)

    “Saluran cerna adalah otak kedua kita, dia memengaruhi mood, perilaku, kesehatan, mental dengan menyeimbangakan mikrobiota di pencernaan kita,” ujar dr. Frieda, Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenteropologi Hepatilogi Anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

    Walaupun pencernaan memiliki peran penting, sayangnya kesadaran untuk menjaga saluran cerna masih minim. Alhasil, anak jadi mudah terkena gangguan saluran cerna.

    Berikut tujuh gangguan cerna yang sering dialami anak-anak antara lain:

    1. Diare

    Penyakit yang menyebabkan BAB bertambah dari biasanya (>tiga kali/hari) dengan konsistensi tinja cair.

    2. Konstipasi

    Kondisi di mana frekuensi BAB kurang dua kali seminggu. Anak jadi kesulitan kontraksi dan kesakitan, tinjanya juga keras dan bulat.

    3. Refluks Gastroesofageal (GERD)

    Gerd adalah kondisi di mana asam lambung naik ke kerongkongan. Biasanya bisa dilihat dari bayi yang suka gumoh.

    “Kalau anak gemuk, suka minum susu makan mi instan, dan semacamnya itu jadi gas untuk mendorong isi lambung naik ke atas,” ujar dr. Frieda.

    4. Intoleransi laktosa

    Ini adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu mencerna produk laktosa. Terlalu banyak mengonsumsi produk laktosan bisa menyebabkan intoleransi.

    Dokter Frieda memberikan contoh anak yang pagi makan seral dengan susu, siang makan keju dan telur, malam makan coklat. Dengan mengonsumsi itu, bukan tak mungkin anak bisa muntah.

    5. Appendisitis (radang usus buntu)

    Penyakit ini serupa dengan seseorang yang sedang berjalan dan mentok di jalanan buntu.
    Hal ini disebabkan oleh adanya makanan atau tinja yang masuk di usus buntu sehingga meradang.

    Untuk melihatnya, seorang anak harus dioperasi atau tidak. Sementara dokter perlu melakukan scoring yang mempertimbangkan gejala, tanda, dan pemeriksaan laboraturium. Gejalanya pada anak-anak umumnya sakit di bagian pusar.

    6. Gastritis (radang lambung)

    Gastritis terjadi karena lambung mengeluarkan asam lambung (HCI) yang berguna untuk mematikan bakteri masuk melalui mulut. Selaput lendir lambung didesain tahan asam.

    Harusnya ada keseimbangan antara faktor pelindung (protektor) dan faktor penyerang (agresor). Jika agresor lebih unggul maka terjadilah penyakit radang lambung.

    7. Irritable Bowel Syndrome (IBS)

    IBS membuat lebih sensitif saraf yang bertanggung jawab pada kontraksi otot saluran cerna yang mendorong makanan melewati rongga usus. Dinding dalam otot saluran cerna bereaksi berlebih terhadap stimulan ringan seperti produk susu dan stres emosional. Hal ini menyebabkan kram.

    “IBS dapat berupa diare dan atau konstipasi,” ujar dr. Frieda.

    Untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan, Anda sebagai orang tua bisa membuat food dairy anak. Data secara detail makanan dan minuman apa yang dikonsumsi serta efeknya tehadap tubuh. Jangan lupa pula untuk menerapkan gaya hidup yang seimbang.

    “Makan, olahraga, tidur, main gadget harus seimbang,” pungkasnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id