Studi Kaitkan Rokok Elektrik dengan Asma

    Sunnaholomi Halakrispen - 18 Mei 2020 16:05 WIB
    Studi Kaitkan Rokok Elektrik dengan Asma
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Penyakit paru-paru dan kematian akibat vaping atau rokok elektrik masih menjadi perhatian dunia. Sejumlah penelitian pun menawarkan bukti baru beserta penjelasannya yang menunjukkan masalah pernapasan jangka panjang.

    Studi tersebut mengaitkan penggunaan rokok elektronik dengan asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Penelitian itu menambah bukti tentang hubungan antara penggunaan rokok elektronik dengan kondisi paru-paru.

    "Studi-studi tersebut tidak dapat secara pasti membuktikan hubungan sebab-akibat. Kami percaya ini memerlukan studi longitudinal lebih lanjut," tutur Dr. Albert Osei, rekan pascadoktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, dikutip dari WebMD.

    Diperkenalkan ke pasar Amerika Serikat lebih dari satu dekade lalu, rokok elektronik dipasarkan lebih tidak berbahaya daripada rokok tembakau tradisional atau rokok konvensional. Bahkan dianggap sebagai cara untuk membantu berhenti merokok. Namun, pada 2016, hampir 11 juta orang dewasa di Amerika menggunakan rokok elektrik.

    Sebagian besar vape memiliki ruang penguapan, kartrid nikotin yang dapat mencakup perasa dan baterai yang dapat diisi ulang. Uap yang dihasilkan itu dihirup ke dalam paru-paru itulah suatu proses yang disebut vaping.

    Studi sebelumnya menjelaskan bahwa uap dapat mengiritasi sel-sel saluran napas, merusak kemampuan untuk melawan infeksi hingga menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru. Berdasarkan studi yang diterbitkan pada Desember lalu, menemukan bahwa pengguna rokok elektrik juga secara signifikan berisiko lebih tinggi terhadap penyakit paru-paru kronis, seperti asma, bronkitis, emfisema, dan COPD.

    Vaping dikaitkan dengan wabah nasional penyakit paru-paru serius. Pada 7 Januari 2020, ada lebih dari 2.600 penyakit dan 57 kematian, banyak yang terkait dengan produk vaping dengan THC, komponen dalam ganja yang menghasilkan kadar tinggi.

    Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, aditif yang disebut Vitamin E asetat yang membuat THC bertahan lebih lama mungkin adalah penyebabnya.

    Sementara itu, penelitian Osei mengamati database lebih dari 705.000 orang dewasa. Hampir 65.000 orang menghisap rokok biasa. Sedangkan, lebih dari 25.000 rokok elektrik yang dihisap, usia rata-rata mereka 30 hingga 34 tahun. Lebih dari 200.000 adalah mantan perokok tradisional.

    Sekitar 2 persen perokok dilaporkan menggunakan rokok tradisional dan elektronik. Lebih dari 53.000 dalam kelompok itu mengatakan mereka menderita COPD, bronkitis kronis atau emfisema.

    Penelitian menemukan, pada orang-orang yang tidak pernah merokok dengan rokok biasa, penggunaan rokok elektrik dikaitkan dengan 75 persen kemungkinan lebih tinggi terkena COPD. Pengguna rokok elektrik harian memiliki peluang COPD 2,6 kali lebih tinggi daripada orang yang tidak pernah merokok.

    Penelitian kedua yang diterbitkan dalam jurnal BMC Pulmonary Medicine, mencakup lebih dari 400.000 orang dewasa yang tidak pernah merokok. Lebih dari 34.000 menderita asma. Hanya 3.100 orang menggunakan rokok elektrik. Usia rata-rata mereka ialah 18 hingga 24 tahun.

    Risiko asma 39 persen lebih tinggi pada pengguna rokok elektrik daripada orang yang tidak pernah merokok. Selain itu, semakin banyak orang yang menguap, semakin tinggi kemungkinan terkena asma.

    Seperti paparan Osei, kepala kelompok advokasi pro-vaping, bahwa studi ini tidak membuktikan bahwa rokok elektronik bertanggung jawab atas kedua kondisi tersebut. Menurut Greg Conley, presiden American Vaping Association, ada kemungkinan bahwa orang mungkin sudah memiliki asma atau COPD sebelum menggunakan rokok elektrik.

    "Tidak ada mekanisme yang masuk akal bahwa vaping, yang menghadapkan pengguna pada racun yang jauh lebih sedikit daripada merokok, dapat menyebabkan COPD dalam periode beberapa tahun. Bahkan di kalangan perokok berat, diperlukan waktu yang lama untuk terpapar COPD," papar Conley.

    Penulis studi Osei setuju, menunjukkan bahwa rokok yang mudah terbakar dan rokok elektrik mengandung nikotin. Sebab, tidak ada kata aman untuk tindakan merokok maupun vaping.

    "Mayoritas orang yang menggunakan rokok elektronik adalah anak muda. Seiring waktu, kita akan memiliki generasi yang menjadi tergantung pada nikotin karena menggunakan rokok elektronik. Sebagai dokter kesehatan masyarakat, saya tidak bisa mengatakan bahwa rokok elektronik tidak ada risiko," pungkas Osei.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id