Cara Pengobatan Kanker Payudara dengan HER2-Positif

    Raka Lestari - 19 Februari 2020 10:00 WIB
    Cara Pengobatan Kanker Payudara dengan HER2-Positif
    Umumnya sekitar 65- 70 persen kasus kanker yang terdeteksi di Indonesia sudah berada pada stadium lanjut. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Kanker payudara adalah tipe kanker yang paling umum didiagnosis pada wanita di seluruh dunia, dengan sekitar 2,1 juta kasus baru di 2018 menurut World Health Organization (WHO). Kanker payudara juga masih menjadi pembunuh nomor satu bagi wanita di dunia.

    “Kanker payudara menempati urutan tertinggi penyebab kematian pada wanita. Kurang lebih ada 1.200 kasus kanker payudara per tahun,” ujar dr. Walta Gautama ST, SpB (K) Onk, dokter ahi bedah Onkologi dari RS Dharmais, dalam acara Peluncuran Obat Biosimilar Trastuzumab Pertama di Dunia, di kawasan Jakarta Selatan, Selasa, 18 Februari 2020.

    Menurut dr. Walta, pada umumnya sekitar 65- 70 persen kasus kanker yang terdeteksi di Indonesia sudah berada pada stadium lanjut dan sekitar 25 persen jumlah tersebut didiagnosis Kanker Payudara dengan HER2-positif.

    “HER2 adalah reseptor atau antena untuk menangkap sinyal dari tirosin yang ada di selaput membran. HER2 juga sebenarnya ada di sel normal. Akan tetapi pada kanker payudara dengan HER2-positif maka kanker akan lebih agresif dan lebih cepat untuk menyebar atau metastasis,” ujarnya.

    Jika seseorang mengalami kanker payudara HER2-positif, menurutnya akan memengaruhi respons tubuh terhadap pengobatan. “Karena HER2 memiliki kemampuan untuk memengaruhi, sel kanker yang harusnya respons dengan pengobatan akan menjadi tidak respons jika dilakukan pengobatan,” tambah dr. Walta. 

    Sehingga pengobatan akan menjadi kurang efektif karena memang kanker payudara HER2-positif memiliki kemampuan membelah yang lebih cepat.

    Untuk mengatasinya, digunakan obat anti HER2 yang disebut dengan Trastuzumab. “Jadi anti HER2 ini bekerja dengan memblok protein yang berperan penting untuk perumbuhan sel. Sehingga sel yang tadinya overekspresi akan berkurang kemampuannya untuk membelah.”

    “Anti HER2 itu pada awalnya tidak bisa bekerja sendiri, harus dibarengi dengan kemoterapi. Dan pengobatan ini biasanya diberikan selama setahun. Kemoterapi diberikan sebanyak 6 - 8 kali, sisanya diberikan Trastuzumab,” tutupnya.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id