Mengenal Cesium 137 pada Tubuh Manusia

    Raka Lestari - 17 Februari 2020 17:39 WIB
    Mengenal Cesium 137 pada Tubuh Manusia
    Apa itu Cesium 137 dan apa sebab yang bisa dihasilkan? Simak informasinya berikut ini. (Foto: Dok. YouTube Metrotvnews.com)
    Jakarta: Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menemukan adanya paparan radiasi di Komplek Batan Indah, Tangerang Selatan, Banten. Temuan awal dilaporkan pada tanggal 30 - 31 Januari 2020 lalu yang bermula dari kegiatan rutin pengujian tingkat radioaktif di Pamulang, Perum Puspiptek, Kampus ITI, Daerah Muncul, Perum Batan Indah, dan Pasar Serpong.

    Bapeten memastikan radioaktif berupa serpihan Cesium 137. Radioaktif berbentuk buliran dengan serpihan kecil lebih besar dari pasir. Dilansir dari Check Fakta Metro TV, Cesium 137 merupakan isotop radioaktif Cesium dengan masa atom 139 dan aplikasi potensial dalam radioterapi.

    Menurut Check Fakta Metro TV, paparan eksternal dari Cesium 137 ini bisa memicu luka bakar, penyakit radiasi akut, bahkan dapat meningkatkan risiko kanker. Cesium 137 sendiri memancarkan radiasi gamma dengan energi sedang, yang biasa digunakan untuk produk sterilisasi di industri makanan atau lingkungan rumah sakit.

    Cesium ini terjadi akibat fisi nuklir dari bahan radioaktif lainnya seperti uranium dan plutonium. Kemudian radionuklida ini memancarkan partikel beta dalam kurun waktu 30 tahun. Sehingga memang untuk bereaksi maksimal di lingkungan baru bisa dirasakan setelah 30 tahun.

    Selain paparan eksternal, Cesium 137 ini juga bisa menyebabkan paparan internal yang bisa langsung dirasakan melalui tubuh manusia. Biasanya dapat dirasakan melalui saluran pernapasan dan akan terdistribusikan ke jaringan lunak terutama otot dan menyebar ke sejumlah saraf yang ada di tubuh.

    Adapun cara mengantisipasi paparan Cesium 137 tersebut adalah dengan mengecek kesehatan warga setempat yang berada di sekitar kejadian. Selain mengecek kesehatan, bisa juga menggunakan Whole Body Counter untuk mengukur tingkat kontaminasi dalam tubuh.

    Meskipun memang, tingkat kontaminasi yang dilaporkan hanya sekitar 1 - 2 persen lebih tinggi daripada kontaminasi alami. Meskipun begitu, tetap harus dilakukan pengecekan Whole Body Counter.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id