Ini Faktor Pemicu Remaja Bunuh Diri

    Raka Lestari - 12 Juli 2019 11:12 WIB
    Ini Faktor Pemicu Remaja Bunuh Diri
    Bunuh diri. Ilustrasi: Medcom.id/M Rizal
    Bunuh diri pad aremaja dipicu oleh berbagai faktor. Dalam penelitian yang dilakukan
    Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ ditemukan beberapa faktor risiko bunuh diri pada remaja, yaitu pola pikir abstrak yang menimbulkan perilaku risk taker, transmisi genetik yang dapat menimbulkan sifat agresif dan impulsif.



    Jakarta: Mengakhiri hidup dengan bunuh diri bukanlah solusi terbaik. Namun, fenomena ini kian marak terjadi di Indonesia. Khususnya di daerah perkotaan dan tidak jarang pelaku bunuh diri dilakukan remaja.

    Menurut Riskesdas pada tahun 2013, pada sampel populasi usia 15 tahun ke atas sebanyak 722.329, prevalensi keinginan bunuh diri sebesar 0,8% dialami oleh laki-laki dan 0,6% dialami oleh perempuan.

    Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ melalui penelitiannya mengenai deteksi dini faktor pemicu remaja bunuh diri. Dia menjelaskan dalam penelitian ini ditemukan beberapa faktor risiko bunuh diri pada remaja, yaitu pola pikir abstrak yang menimbulkan perilaku risk taker, transmisi genetik yang dapat menimbulkan sifat agresif dan impulsif.

    "Kemudian memiliki riwayat gangguan jiwa lain, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan penyalahgunaan akses internet yang menjadi beberapa alasan remaja memiliki ide bunuh diri," terang dr.Nova, di kawasan Universitas Indonesia, Depok, Kamis, 11 Juli 2019.
    Ini Faktor Pemicu Remaja Bunuh Diri
    Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ. (Foto: Raka Lestari/Medcom.id)

    Ia menjelaskan pada fase risk taking, remaja lebih memiliki pola pikir abstrak sehingga dapat tertantang untuk mencoba segala hal. Termasuk ke arah pola hidup yang tidak baik, seperti penggunaan tembakau dan alkohol, bereksperimen dengan narkotika atau zat aditif lainnya, aktivitas seksual yang tidak aman, pola makan yang buruk, dan kenakalan remaja.

    American Academy of Child and Adolescent Psychiatry membagi fase remaja menjadi tiga, yaitu Early Adolescence (11-13 tahun), Middle Adolescence (14 - 18 tahun), dan Late Adolescence (19 - 24 tahun).

    "Fase middle adolescence adalah fase yang samgat rentan karena remaja berpikir secara abstrak tetapi juga mempunyai keyakinan tentang keabadian dan kedigdayaan, sehingga mendorong timbulnua perilaku risk-taking,” ujar Sekjen Asia Federation for Psychiatric Association (APFA) 2019-2021 ini.

    Untuk pencegahan, pemerintah sendiri telah banyak melakukan program sebagai langkah preventif seperti Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dan Konselor Sebaya, Rapor Kesehatanku. Kemudian Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan beberapa jalur intervensi atau penanganan masalahnya, Poskestren, Sekolah Ramah Anak (SRA), Program kesehatan jiwa berbasis sekolah, dan Program di FKTP.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id