Pelukan Hangat untuk si Kecil yang Disisihkan

    Sunnaholomi Halakrispen - 26 April 2019 19:38 WIB
    Pelukan Hangat untuk si Kecil yang Disisihkan
    Harapan Dra. Vina Tarigan, SST, MM sederhana, bisa membangun yayasan dengan taman yang luas untuk anak-anak agar lebih bebas bermain. (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

    Jakarta: Bocah berusia tiga tahun harus menahan rasa sakit yang tak biasa. Menikmati hari dihiasi cemoohan dari balik senyum sapa orang di sekelilingnya. Ia disisihkan.

    Kondisi fisik yang terlihat seperti baik-baik saja, namun rapuh di dalamnya. HIV, hernia, dan epilepsi. Tiga penyakit ganas merasuki raga bertubuh mungil itu. Uluran tangan pun diberikan.

    Hatinya seorang perempuan ini pun tergerak berikan pelukan hangat kepada si kecil dengan ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

    Menolong anak ODHA

    Si kecil yang malang tersisihkan dari lingkungan tempat hidupnya. Hanya karena sistem kekebalan tubuh yang rusak, terinfeksi human immunodeficiency virus atau HIV. Pengidap HIV/AIDS yang disebut orang dengan ODHA.

    Batin Dra. Vina Tarigan, SST, MM tertekan melihat nasib anak yang digolongkan masyarakat itu. Terlebih dengan pernyataan teman yang seakan menampar dirinya selaku bidan.

    "Waktu itu ada teman bilang, orang-orang kesehatan paling banyak melakukan diskriminasi pada ODHA. Justru orang-orang kesehatan, bukan yang merawat di rumah sakit saja," kenang Vina, sapaannya, kepada Medcom.id.

    Terbesit oleh pihak lain, itu penyakit yang dibawa sendiri. Maka harus ditanggung sendiri. Dianggap seperti pemakai narkoba yang sengaja memutuskan mencoba dan kemudian menanggung akibatnya.

    Bagaikan disambar petir, wanita berusia hampir paruh baya itu pun mencari tahu. Usai turun lapangan ia mengakui adanya diskriminasi itu.

    Pelukan Hangat untuk si Kecil yang Disisihkan
    (Anak-anak di Yayasan Vina Smart. Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

    Ia menyaksikan sendiri di sekitar rumahnya di Kecamatan Tambora. Tak sedikit anak ODHA. Tapi orang tua mereka tak mampu mencukupi biaya perawatan si anak.

    Belum lagi penolakan yang harus diterima. Betul bahwa tak sedikit masyarakat yang menggolongkan ODHA seakan tak boleh tersentuh oleh lingkungan. Takut tertular.

    Masyarakat menolak mereka. Belum ada pihak yang berani pasang badan membimbing mereka ke tengah masyarakat. Tapi Vina memberanikan diri memeluk mereka.

    "Lama-lama saya merasa kasihan, anak kecil enggak berdosa terkena penyakit begini, biaya besar, nenek-nenek yang merawat mereka juga mengeluh begitu. Jadi terus-terusan saya kepikiran," akunya.

    Vina menangis dalam sesalnya. Terbesit dirinya bagaikan bidan tak punya hati jika mendiamkan anak-anak tak berdosa itu. Mereka tak pernah menginginkan penyakit ini.

    Tekadnya, bidan disumpahkan sebagai tenaga medis. Menolong orang yang kesakitan tanpa perlu membedakan siapa mereka dan bagaimana penyakitnya.

    "Obat hernia yang ditanggung BPJS oke, tapi obat epilepsinya enggak cocok. Jadi kita harus beli obatnya tiap bulan Rp700 ribu. Belum lagi untuk susu, diapers, dan lain-lain," ujar Vina sambil menggelengkan kepalanya.

    Menolong anak lain, ditolak keluarga

    Tekadnya sudah bulat, wanita berusia 55 tahun itu mau bantu anak ODHA. Rumah tempat tinggal sekaligus tempat praktik kerja, direlakannya menjadi tempat penampung anak ODHA, Vina sendiri yang turun tangan merawat mereka. Tapi ia tak didukung keluarganya.

    Adalah Yayasan Vina Smart. Sebuah yayasan yang ia akhirnya dirikan untuk merawat ODHA.

    "Awalnya suami saya ngelarang bilang apa enggak ada lagi tempat kerjaan lain. Anak saya juga bilang kalau kerjaan seperti ini enggak bagus. Apalagi saya sudah sekolah tinggi-tinggi," tuturnya.

    Suami dan kedua anaknya sempat ragu. Pekerjaan merawat anak ODHA sempat dianggap kurang bagus karena mempertaruhkan nyawa. HIV/AIDS sempat dinilai akibat dari penyalahgunaan narkoba.

    Setelahnya, wanita berambut pendek itu meminta anak-anak dan suaminya berkeliling di hari Sabtu.

    Vina mengajak keluarganya ikut terlibat, menyaksikan langsung bagaimana Vina melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kepada anak ODHA.

    Pelukan Hangat untuk si Kecil yang Disisihkan
    (Vina dalam yayasannya, memerhatikan anak ODHA, bukan hanya memberikan obat-obatan. Kesehatan mereka dipantau dengan teliti. Tumbuh kembang setiap anak diperhatikan. Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

    "Saya minta mereka membantu, ada yang ngukur tinggi, bawa timbangan, menimbang, bapaknya fotoin. Ganti-gantian saja gitu. Mereka kasihan, lama-lama mereka jadi jatuh cinta. Jadilah ini yayasan keluarga," kenang Vina.

    Hatinya lega, keluarga akhirnya mendukung upayanya. Tapi perjuangan Vina masih panjang.

    Banyak anak yang diasuhnya, tidak memiliki keluarga utuh. Sebanyak 90 persen dari mereka anak yatim dan atau piatu. Orang tuanya cerai maupun meninggal dan mayoritas dari kalangan menengah ke bawah bahkan miskin.

    Karena tidak bisa dibiarkan, anak ODHA harus menjalani perawatan medis dan memeriksa kesehatan secara rutin. Itu kunci yang dipegang Vina sejak tahun 2006.

    "Terus terang ketika kita mau buat yayasan ini secara hukum, orang enggak ada yang mau. Seram kata mereka. Setelah itu saya pastikan keluarga, mau lanjut atau tidak. Akhirnya mereka setuju, tahun 2007 yayasan dibangun," ucapnya.

    Disingkirkan tetangga, rumah digerebek polisi

    Tak semulus yayasan yang telah dibangun bersatu dengan rumah tinggal keluarga Vina. Ketika direnovasi menjadi lebih layak pada 2015, pergolakan silih berganti.

    "Sempat ada pertentangan juga dari orang sekitar sini. Sedih juga kalau diingat-ingat."

    Pengetahuan sepintas tentang ODHA, tetangga enggan menerima keberadaan mereka.

    Tak yakin Vina sepenuhnya bisa merawat anak-anak ini tanpa menularkan penyakit itu. Sempat tersingkirkan oleh wilayah sekitar.

    Februari hingga Maret 2017, dua bulan lamanya, wilayah Tambora gempar oleh isu. Rumah Vina terkenal. Bahkan diumumkan di salah satu tempat ibadah sekitar rumahnya. Teror pun berdatangan, hingga polisi berkunjung.

    Polisi menggerebek rumah yang berlokasi di pemukiman pandat penduduk itu, dua hingga tiga kali. Pihak berwajib masuk ke semua ruangan di yayasan. Keluarga Vina tetap tenang karena tidak merasa bersalah.

    "Saya juga enggak mau mikir macam-macam karena saya yakin kalau itu semua proses. Kalau diibaratkan ujian, saya pasti naik kelas. Tapi yang pasti saya tahu bahwa orang-orang sebenarnya menyayangi dan mengasihi saya dengan mencari tahu seperti itu," yakinnya.

    Kegiatan apapun yang dilakukan keluarganya, dicari tahu, dipantau. Wanita muda yang turut membantu mengasuh anak ODHA di rumah Vina, merasa tidak nyaman. Ketika mengantar dan menjemput anak-anak sekolah, ia dibuntuti orang.

    Pelukan Hangat untuk si Kecil yang Disisihkan
    (Bersama keluarga, Yayasan Vina Smart terus membantu anak ODHA. Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

    "Yang lucunya kita dipanggil pak lurah dan ternyata sudah ada banyak warga. Jadi semacam diadili. Sedih kan, tantangannya gila. Paginya tiba-tiba ada orang mencet bel minta ibunya diperiksa. Akhirnya ketika sudah saya periksa, saya ke kelurahan," cerita Vina.

    Dalam perkumpulan di kelurahan itu, terdengar suara yang meminta Yayasan Vina Smart Era ditutup. Hati Vina bergejolak, antara terkejut, sedih, marah, semua menyatu. Tapi ia bulatkan keberanian.

    "Entah ada keberanian dari mana, saya tantang mereka, siapa yang berani bilang yayasan saya tutup. Itu nyawa manusia, mereka sudah enggak punya siapa-siapa. Mereka itu dititipkan kepada saya. Sembari saya nangis," kenang Vina sambil merinding.

    Tiba-tiba, seorang ustad bersuara. Dikatakannya bahwa Vina sudah dianggap seperti keluarga. Lalu, seorang pemuda berdiri mengakui kebaikan Vina.

    Usai dijelaskan, masyarakat mulai paham. Tapi kembali lagi, Vina berterima kasih kepada semua pihak kala itu. Mungkin ia terlalu sibuk merawat anak-anak di rumahnya dibandingkan bersosialisasi dengan tetangga.

    "Saya jelaskan juga bahwa anak-anak di yayasan ini beragam agamanya. Kita anjurin sesuai agamanya masing-masing. Bahkan kita ingatkan salat untuk yang muslim, ingatkan ibadah untuk agama lain," terangnya.

    Masalah mulai teratasi dengan damai. Tidak ada lagi kegiatan apapun yang dipermasalahkan. Selanjutnya Vina mengadakan pemeriksaan HIV/AIDS, hepatitis B, dan sipilis, secara rutin tiga bulan sekali untuk 100 ibu-ibu di lingkungannya.

    Targetkan pelayanan lebih baik

    Vina dalam yayasannya, memerhatikan anak ODHA, bukan hanya memberikan obat-obatan. Kesehatan mereka dipantau dengan teliti. Tumbuh kembang setiap anak diperhatikan.

    Perbaikan gizi pun tak luput bagi Vina. Makanan sehat hasil racikan masakan Vina disajikan untuk 20 anak yang tinggal menetap di yayasan itu. Mulai anak usia 3 hingga 18 tahun, dirawat sepenuh hati.

    Pendidikan si kecil juga menjadi fokusnya. Diberikan beragam materi, mulai dari kebersihan dan kesehatan, berhitung atau matematika, bahasa, hingga agama yang sesuai dengan kepercayaan mereka.

    Vina beserta suami dan kedua anaknya bergantian memberikan tambahan pengetahuan kepada anak-anak asuh mereka. Tak jarang, hadir relawan muda yang mengajari anak-anak.

    Pelukan Hangat untuk si Kecil yang Disisihkan
    (Salah satu sudut Yayasan Vina Smart. Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

    Selain ke-20 anak, masih ada puluhan anak yang dirawat Vina. Tapi tidak menetap. Ada yang tinggal di luar Jakarta Barat, Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor.

    "Kita tetap kontrol dari jauh. Misalnya tentang berat badannya, bagaimana pola minum obatnya, pola makannya. Orang tua atau wali mereka infokan melalui telepon atau kirim foto," jelas Vina.

    Anak ODHA yang keberadaannya jauh, tidak ditinggalkan. Ada pertemuan rutin selama tiga bulan sekali dengan lokasi yang tidak tentu, misalnya di sebuah restoran atau wahana wisata.

    Dalam pertemuan, disampaikan sosialisasi perawatan anak ODHA kepada para orang tua atau wali. Sedangkan anak ODHA dibekali ilmu tambahan dan diingatkan merawat diri, sambil dihibur dengan beragam permainan.

    Anak ODHA sangat butuh diingatkan karena berisiko jika tidak meminum obat secara teratur. Vina menceritakan kesedihannya ketika ada satu anak yang matanya buta. Kena virus karena lupa minum obat.

    Ya, Vina masih berjuang memeluk anak ODHA agar hidup penuh semangat. Walaupun tertatih, ia berupaya terus. Cita-cita sederhananya, wanita yang ramah itu berharap bisa membangun yayasan dengan taman yang luas untuk anak-anak lebih bebas bermain.





    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id