Suplemen Makanan Bisa Gantikan Sayuran?

    Sunnaholomi Halakrispen - 05 Februari 2020 11:03 WIB
    Suplemen Makanan Bisa Gantikan Sayuran?
    Suplemen makanan dinilai tidak bisa menggantikan kandungan yang terdapat di dalam sayuran. (Ilustrasi/Pexels)
    Jakarta: Suplemen makanan mengandung beragam vitamin yang dibutuhkan tubuh ketika sulit mengonsumsi buah-buahan. Akan tetapi, suplemen makanan dinilai tidak bisa menggantikan kandungan yang terdapat di dalam sayuran.

    "Untuk menambah boleh, tapi kan seratnya enggak ada. Paling adanya vitamin dan mineral," ujar dr. Diana Suganda, Sp.GK selaku Ahli Gizi di Seribu Rasa Senopati, Jakarta Selatan.

    Manusia membutuhkan serat untuk menunjang kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak. Ia menyatakan bahwa jika tidak menyukai sayuran, solusi terbaiknya ialah dengan mengakali penyediaan makanan.

    "Misalnya enggak suka buah dan sayur, dibuat smoothies, jadi rasa manisnya dari buah contohnya pisang. Caranya, pisang dibekuin. Nanti dicampur buah segar," paparnya.

    Pisang yang telah dibekukan bisa dicampur dengan buah naga yang tidak dibekukan. Kemudian, tambahkan cairan yang sebaiknya tidak hanya air mineral. Sebab, hanya akan menghasilkan perpaduan kandungan vitamin, serat, dan mineral.

    "Misalnya tambahkan susu atau yoghurt, jadi ada protein hewaninya. Lalu dicampur, rasanya jadi manis. Lebih baik lagi kalau buah, dicampur sayur, ada protein dan serat juga," imbuhnya.

    Akali penyajian makanan yang menarik, namun memiliki kandungan gizi seimbang bagi kesehatan serta tumbuh kembang anak. dr. Diana menekankan agar orang tua mau berupaya mengolah berbagai jenis sayuran menjadi makanan olahan yang disukai anak.

    Termasuk, membuat tampilan makanan menjadi tidak membosankan. Anda bisa menyediakan carrot cake, macaroni schotel, atau mie goreng yang lengkap dengan sayur dan daging.

    "Karbohidrat juga enggak harus nasi. Bisa diganti dengan kentang, pasta, jagung. Tambahin orek tofu dan daging cincang, sayuran. Harus kreatif sih intinya supaya gizi seimbang," jelasnya.

    "Orang tua tidak boleh menyerah, harus enggak malas berkreasi. Karena, anak baru mau suka makanan itu saat sudah makan 10 kali. Jadi kalau anak baru makan dua kali dan orang tuanya enggak mau masak lagi, percuma. Itu enggak bisa bikin anak suka sayur," pungkasnya.





    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id