Fakta Penyakit Ginjal Kronik

    Sunnaholomi Halakrispen - 16 Maret 2020 14:00 WIB
    Fakta Penyakit Ginjal Kronik
    Penyakit ginjal kronik (PGK), biasanya timbul secara perlahan dan sifatnya menahun. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
    Jakarta: Ginjal merupakan salah satu organ penting di dalam tubuh. Fungsinya, untuk mengeluarkan sisa-sisa produk dari tubuh, menyeimbangkan cairan tubuh, memproduksi sel darah merah. 

    "Fungsi lainnya, mengatur tekanan darah, menyaring 120 - 150 liter darah per hari. Selain itu, mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang dan gigi," ujar anggota Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Maret 2020 lalu.

    Sementara penyakit ginjal adalah kelainan yang mengenai organ ginjal yang timbul akibat berbagai faktor. Misalnya, infeksi, tumor, kelainan bawaan, penyakit metabolik atau degeneratif, dan lain-lain. 

    Penyakit ginjal kronik (PGK), biasanya timbul secara perlahan dan sifatnya menahun. Berdasarkan Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2018, empat dari 1000 penduduk di Indonesia menderita gagal ginjal.

    Berdasarkan data BPJS 2018, sebesar Rp2,4 triliun dihabiskan untuk biaya penyakit gagal ginjal. Bahkan, gagal ginjal merupakan penyakit katastropik nomor 2 setelah penyakit jantung.

    Menurut data Institute for Health Metric and Evaluation (IHME), Global Burden Disease, 2017 Penyakit Tidak Menular merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia. Dari total kematian 53,3 juta, penyakit ginjal menempati urutan ke-12 setelah tuberculosis (TBC) sebesar 1,19 juta.

    Sedangkan, insidens penyakit ginjal kronis terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2000 insidens penyakit ginjal kronis sebesar 346.641, tahun 2010 insiden mencapai 440.750 dan di tahun 2017 sebesar 520.207. 

    Di Indonesia berdasarkan data IIHME, Global Burden Disease, 2017 dari total kematian 1.510.113, penyakit ginjal kronis menempati urutan ke-13 penyebab kematian. Angkanya sebesar 35.217 atau 2 persen dari total kematian. 

    Pada data Riskesdas tahun 2018, menunjukkan bahwa prevalensi gagal ginjal kronis berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia lebih dari 15 tahun di Indonesia 0,38 persen atau sekitar 739.208 jiwa. Jumlah tertinggi ditujukan di Provinsi Kalimantan Utara (0,64 persen), sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat (0,18 persen). 

    "Proporsi hemodialisis pada penduduk usia lebih dari 15 tahun dengan gagal ginjal kronis di Indonesia 19,33 persen. Tertinggi di Provinsi DKI Jakarta 38,71 persen terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara 1,99 persen," pungkasnya.






    (TIN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id