Memisahkan Fakta dari Fiksi tentang Virus korona dan Ibuprofen

    Kumara Anggita - 18 Maret 2020 16:18 WIB
    Memisahkan Fakta dari Fiksi tentang Virus korona dan Ibuprofen
    Ilustrasi-Pexels
    Jakarta: Informasi yang tersebar melalui internet begitu beragam sampai kita tidak bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini persis terjadi pada kasus virus korona atau covid-19.

    Melalui pesan whatsapp, banyak yang mengatakan bahwa ibuprofen berbahaya digunakan ketika seseorang terkena covid-19. Apakah pesan ini fakta atau fiksi belaka? Berikut penjelasannya yang dilansir dari BBC.

    Paracetamol dan ibuprofen dapat menurunkan suhu dan membantu gejala seperti flu. Akan tetapi, ibuprofen dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya (NSAID) tidak cocok untuk semua orang karena memberikan efek samping. Khususnya bagi mereka dengan masalah asma, jantung, dan peredaran darah.

    Situs web NHS yang sebelumnya merekomendasikan paracetamol dan ibuprofen kini telah mengubah saran mereka.

    “Saat ini tidak ada bukti kuat bahwa ibuprofen dapat memperburuk virus korona (Covid-19). Sampai kami memiliki lebih banyak informasi, pakai paracetamol untuk merawat gejala-gejala virus korona, kecuali jika dokter Anda memberi tahu Anda paracetamol tidak cocok untuk Anda,” tulis mereka.

    NHS juga mengatakan bahwa orang yang sudah menggunakan ibuprofen atas saran dokter, tidak boleh berhenti meminumnya tanpa memeriksa terlebih dahulu.

    Dr Charlotte Warren-Gash, dari London School of Hygiene and Tropical Medicine juga  mengatakan bahwa terkhusus pasien yang rentan, sebaiknya memilih untuk mengutamakan penggunaan parcetamol.

    “Tampaknya masuk akal untuk tetap menggunakan parasetamol sebagai pilihan pertama,” ungkapnya.

    Walaupun sudah diberikan saran, tampakanya orang-orang masih salah menyerap informasi. Beberapa pesan yang perlu Anda ketahui kebenarannya adalah sebagai berikut:

    "Ada empat orang muda di unit perawatan intensif di Cork yang tidak memiliki penyakit yang mendasar dan semuanya menggunakan obat antiinflamasi dan ada kekhawatiran ini telah menyebabkan penyakit yang lebih parah" (Salah)

    “Universitas Wina telah mengirim memo peringatan kepada orang-orang dengan gejala coronavirus untuk tidak menggunakan ibuprofen, ‘karena telah ditemukan bahwa memo ini meningkatkan kecepatan reproduksi Covid-19 dalam tubuh. Ini adalah alasan mengapa orang di Italia kasusnya mencapai tahap buruk saat ini dan penyebarannya cepat“ (Salah)

    "Di rumah sakit universitas di Toulouse, Prancis, ada empat kasus korona yang sangat kritis pada (orang muda)yang tidak memiliki masalah kesehatan. Masalahnya adalah ketika mereka semua tampak memiliki gejala, mereka semua menggunakan obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen " (Salah)

    Umumnya jenis-jenis teks yang disalin dan ditempel ini akan mengklaim berasal dari seseorang yang dikatakan memiliki pengetahuan seringkali dengan latar belakang medis.

    Untuk itu, Anda harus berhati-hati dalam menerima informasi. Cek terlebih dahulu kebenarannya baru sebarkan ke orang lain.

    Jangan panik dan tetaplah jaga kesehatan Anda dan orang-orang di sekitar Anda.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id