Fakta Kondisi Satu Ginjal

    Sunnaholomi Halakrispen - 20 Maret 2020 12:04 WIB
    Fakta Kondisi Satu Ginjal
    (Ilustrasi--pexels)
    Jakarta: Orang yang memiliki satu ginjal mungkin dinilai tidak normal kondisi kesehatannya dibandingkan orang lain yang memiliki dua ginjal utuh. Namun, apakah faktanya benar demikian?

    Nyatanya, berdasarkan medis, tidak selalu demikian. Hal tersebut disampaikan salah satu anggota Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH.
    Pasien yang mendonorkan satu dari ginjal yang dimilikinya, masih bisa beraktivitas normal. Beragam kegiatan masih bisa dilakukan. Syaratnya, jika satu ginjal yanh tersisa dalam kondisi sehat.

    "Daya cadang ginjal cukup besar. Dikatakan bahwa ginjal orang sehat atau normal, bisa sampai empat kali kebutuhannya. Jadi kalau misalnya satu diambil, (satu ginjal berfungsi) dua kali dari kebutuhannya," ujar dr. Pringgo di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan.

    Ia menyatakan, ada hal menarik soal manusia yang kondisinya hanya memiliki satu ginjal. Orang yang mendonorkan ginjalnya bisa saja lebih sehat dibandingkan orang lain yang masih memiliki dua ginjal.

    "Ternyata lebih sehat yang mendonorkan ginjal. Karena yang donor lebih menjaga kesehatannya, sebab dia tahu dia hanya punya satu (ginjal). Jadi dia menjaga kesehatannya dengan baik," paparnya.

    Cara menjaga kesehatan ginjal, di antaranya dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi. Kemudian, minum air mineral setidaknya delapan gelas per hari.

    Selanjutnya, rutin menjalankan olahraga dan disertai dengan istirahat yang cukup. Namun, apabila kesehatan ginjal tidak dijaga, berisiko terkena penyakit, bahkan penyakit ginjal kronis.
    Penyakit ginjal kronis (PGK), biasanya timbul secara perlahan dan sifatnya menahun.

    Berdasarkan Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2018, empat dari 1000 penduduk di Indonesia menderita gagal ginjal. Siapapun bisa terkena PGK. Namun, ada sejumlah faktor yang menjadi risiko orang terserang penyakit ginjal kronik, yaitu obesitas, tekanan darah tinggi, dan diabetes melitus.

    Kemudian, adanya riwayat keluarga penyakit ginjal, kelahiran prematur, dan trauma di daerah abdomen. Begitu juga ketika terdapat jenis penyakit tertentu. Di antaranya, lupus, AIDS, hepatitis C, sindrom metabolik, infeksi sistemik, obesitas, dan penurunan massa ginjal. Risiko juga bisa terjadi pada orang dengan usia lanjut, yakni 65 tahun.



    (YDH)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id