Penyebab Peningkatan Pasien Kanker Paru di Indonesia

    Raka Lestari - 12 Februari 2020 07:16 WIB
    Penyebab Peningkatan Pasien Kanker Paru di Indonesia
    Pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru Indonesia. (Foto: Raka/Medcom.id)
    Jakarta: Merokok adalah kebiasaan yang dapat memiliki banyak dampak negatif pada tubuh. Salah satunya adalah rokok menjadi salah satu faktor risiko penyebab kanker paru-paru.

    Kanker paru di Indonesia sendiri selalu meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), angka kunjungan pasien kanker paru di pusat rujukan respirasi nasional meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 15 tahun lalu.

    “Karena kebiasaan merokok di Indonesia yang semakin lama semakin meningkat, itu menyebabkan adanya peningkatan,” ujar Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FAPSR, FISR, Ketua Umum PDPI, dalam acara Pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru Indonesia, di kawasan Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020.

    Menurut dr. Agus, rokok bisa menyebabkan kanker paru karena pada rokok konvensional umumnya terdapat komponen tar. Dalam komponen tar itu ada sekitar 50 – 60 bahan yang sifatnya karsinogen.

    "Contohnya nitrosamine, formaldehida, benzopiren, itu sifatnya karsinogen penyebab kanker,” tuturnya.

    “Penyebab kanker artinya kalau bahan tersebut dikonsumsi secara terus-menerus maka akan mengubah sel yang normal menjadi tidak normal dan akhirnya menjadi kanker. Butuh waktu beberapa tahun bahan tersebut bisa berdampak menjadi kanker,” tambah dr. Agus.

    Ia juga menambahkan bahwa bahan-bahan karsinogen lain juga ditemukan di rokok elektronik atau vape. Pada riset terbaru ada komponen nitrosamin, formaldehida, benzopiren, akrolein di dalam rokok elektrik atau vape dan itu sifatnya karsinogen.

    “Saat ini memang belum ditemukan pengguna vape yang mengalami kanker paru, tetapi riset di hewan itu ditemukan bahwa tikus-tikus yang terekspos vape itu hampir 70 – 80 persen timbul kanker paru. Pada manusia memang belum terbukti karena vape ini baru heboh 5 – 6 tahun terakhir, sehingga mungkin faktanya akan bisa kita temukan 15 tahun lagi,” jelas dr. Agus.

    Dokter Agus juga menambahkan bahwa saat ini pasien kanker paru pada umumnya baru diketahui pada stadium lanjut. “Lebih dari 80 persen pasien kanker paru datang setelah stadium lanjut atau stadium IV.

    "Sehingga dibutuhkan edukasi yang berkelajutan kepada masyarakat luas terkait deteksi dini dan pengobatan kanker paru,” tutupnya.



    (FIR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id